September 20, 2016

Suka Duka Bermalam di Hutan Pinus


www.andinugraha.com - Hutan Pinus ? Bagi yang belum tahu mungkin terbanyang hanya hutan yang banyak pohon pinusnya. Memang betul, tapi hutan pinus ini menjadi tempat yang sering dikunjungi banyak orang. Kenapa ? Karena deretan pohon pinus yang tumbuh tinggi membuat lokasi ini menjadi cantik nan indah. Selain dijadikan sebagai tempat hunting foto, dijadikan tempat pre wedding bahkan syuting FTV film lho. Keren kan.

Hutan pinus ini letaknya di Jl. Hutan Pinus Nganjir, Mangunan, Dlingo, Kec. Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Hutan pinus ini biasa dikenal dengan Hutan Pinus Imogiri atau Hutan Pinus Mangunan. Tempat ini juga bisa digunakan untuk camping atau piknik dengan sahabat ataupun keluarga.

Sudah lama sebenarnya aku ingin pergi ke tempat ini. Tapi karena aku belum mempunyai motor jadi susah. Menunggu teman yang mau kesana belum tentu kapan. Terkadang ada teman yang pergi kesana, tapi tanpa kabar, tapa ajakan. Tahu-tahu fotonya sudah diupload. Disitu kadang saya merasa sedih. Ada juga teman yang menggunakan sepeda, tapi sepedaku yang kuberi nama Eni kan hilang dibawa orang.

Mau tahu tentang Eni sepedaku, monggo dibaca : Sepedaku Yang Hilang Entah Kemana

Tapi aku tetap bisa bersepda dengan sepeda sahabatku. Kadang sendirian, kadang rame-rame dengan teman-teman. Dengan dipinjami sepeda aku biasanya memanfaatkannya dengan baik. Maksudnya untuk bersepda ke tempat-tempat yang indah nan asri. Biasanya kalau jarak yang dekat, aku pergi ke alun-alun kidul Yogyakarta ataupun Malioboro.


Sore itu ketika aku sedang bersepda ke tempat temanku, aku mengajak Maman untuk pergi ke hutan pinus dengan bersepda. Dengan semangat temanku menjawab "iya". Aku juga tidak hanya mengajak Maman, tapi mengajak Anin dan Bayu juga. Seharusnya mengajak Kholid, tapi karena dia belum ada sepeda jadi tak ikut dulu.

Seperti biasa aku melihat google maps terlebih dahulu untuk mengecek seberapa jauh jaraknya dari kostku.



Di google map aku juga sengaja mengecek dengan jarak jalan kaki. Karena dengan jalan kaki juga segitu lamanya, tentu dengan sepeda akan lebih cepat. Tapi itu tidak, karena aku belajar dari pengalaman ketika gowes ke pantai Ngunggah, Gunung Kidul


Tapi tak apalah, kebetulan kami berjanji untuk bertemu di daerah manding atau Jl. Parangtritis KM. 12. Aku sendiri ingin sekali pergi ke Hutan Pinus pagi hari, kalau bisa habis Subuh. Tapi karena Anin sedari pagi hingga duhur ada diklat jadi harus menunggu. Kami tidak mau meninggalkan begitu saja. Karena Anin juga ingin menikmati dan tahu suasana di Hutan Pinus.

Ngaret, wajarlah. Waktu itu hampir pukul 13.00 Anin masih di tempat diklat, sedangkan Bayu masih dirumah. Mereka ketemuan di simpang 5. Aku dan Maman dari kost sudah siap-siap padahal. Tapi sekitar pukul 13.30 barulah aku berangkat menuju manding sembari menunggu Anin dan Bayu ngasih kabar.

Baru saja sampai kampus ISI, kurang lebih Jl. Parangtritis KM 7 aku terjebak hujan. Aku dan Maman berbegas mencari tempat untuk berteduh.


Ketika neduh kebetulan aku hanya mengabadikan foto sepedaku saja. Sepeda fixie ini aku sebut FIJO alias fixie ijo. Yang saat ini bisa menggantikan posisi Eni yang hilang entah kemana untuk sementara. Karena ini sepeda milik temanku yang sudah lama tak terawat karena sibuk kerjaan. Aku sendiri disuruh merawat dan menggunakannya. Tentu dengan senang hati, karena aku bisa menggunakannya untuk pergi ke kampus ataupun bersepeda santai di sore harinya.

Btw, semenjak aku menggunakan fijo ini banyak sekali orang yang lebih memperhatikannya. Ketika dijalan, di warung dan ditempat-tempat ramai yang aku lewati. Sepeda ini juga di dapat bukan dari Indonesia lho, tapi dari Amerika langsung. Menurut temanku beli kurang lebih dengan harga Rp. 4.000.000,- itupun bekas. Terbayang kan berapa harga barunya ?

Selain jadi keren menggunakannya, sepeda ini juga enteng. Meskipun terlihat tanpa rem, tapi ini sepeda torpedo. Bisa di rem dengan menekan pedal sepeda kebelakang. Tapi kalau disaat ngebut namun tak kuat menekanya, kita sendirilah yang akan terangkat.

10 menit berlalu, hujan mulai reda, aku menghubungi Anin terlebih dahulu untuk memastikan sampai mana. Sembari menunggu aku melanjutkan untuk mengayuh sepedaku. Sejak meneduh, kami sempat ingin menunda gowes ke hutan pinus ini. Karena waktu, takutnya sampai disana malam. Setelah bertemu dengan Bayu dan Anin, mereka malah semakin yakin untuk bersepeda kesana. Aku dan Maman sepertinya tidak mungkin juga menundanya, mereka tentu akan kecewa nantinya.

Dari manding kami berangkat menuju hutan pinus pukul 14.30, Bayu sendiri karena sudah pernah ke hutan pinus menggunakan motor, dia memprediksi Maghrib sudah sampai rumah lagi. Aku sendiri meskipun belum pernah kesana, aku tidak percaya karena perjalanan tentu akan lama. Apalagi kalau perjalanannya naik, tentu akan lebih lama lagi.

30 menit perjalanan, kami terjebak hujan. Kami memutuskan untuk berteduh sembari istirahat. Setelah reda kami melanjutkan perjalanan. Karena sudah memasuki waktu Ashar, kami segera mencari masjid untuk melaksanakan sholat Ashar.
Kami melaksanakan sholat Ashar di Masjid Al-Hikmah. Dimana Masjid ini masih terletak di daerah yang cukup ramai, berdekatan juga dengan kantor polisi. Itu tandanya kami masih jauh untuk sampai ke hutan pinus. Karena perjalanan ke hutan pinus akan naik turun dan jarang sekali warung atau tempat-tempat yang ramai seperti di sekitar masjid ini.


Setelah selesai sholat kami melanjutkan perjalanan. Terlihat sudah papan petunjuk menuju hutan pinus. Berarti bertanda jalan akan lebih ekstrim naik, siap-siap menuntun sepeda. Turunan bagi kami merupakan bonus untuk membayar lelahnya menuntun sepeda naik.


Bisa dilihat jalannya seperti apa kan? Jalan naik nya lumayan tinggi dan turunnya apalagi. Kebetulan diantara kami semua sepedanya yang ada remnya hanya punya Bayu, itupun tinggal satu yang belakang saja. Sedangkan punyaku rem torpedo. Tapi jarang sekali aku gunakan dengan lancar. Karena setiap menggunakannya aku selalu terbawa ke atas karena tak kuat menekan pedalnya.

Aku sengaja mengajak Bayu agar dia juga bisa merasakan perjuangan bersepeda ke tempat yang indah. Tempat yang indah tentu membutuhkan perjuangan. Di awal-awal Bayu dan Maman merasa kecapean dan meminta istirahat. Kami pun istirahat semua, karena kami tidak mau kalau ada yang istirahat tetap ada salah satu yang melanjutkannya.


Kami merasa anak nekat yang mencoba mengayuhkan sepeda ke Hutan Pinus. Dengan sepeda yang biasa, kami berusaha untuk sampai ke tempat tujuan dengan selamat. Capek iya, tapi kami berusaha istirahat. Setiap ada yang kecapean kami memilih untuk istirahat semua. Karena lebih baik susah dan senang bersama.

Disaat saling membutuhkan kami ada. Terutama masalah air minum, karena hanya aku yang tidak membawa tas, jadi aku jangan sampai jauh dari ketiga temanku. Agar disaat haus aku bisa langsung minum. Selain air minum yang dibawa, salah satu dari kami juga ada yang membawa cemilan seperti wafer dan yang lainnya berupa makanan ringan.


Sering juga aku dan Anin memimpin untuk melanjutkan perjalanan di depan. Setelah jarak lumayan jauh kami berhenti sembari menunggu teman-teman yang dibelakang. Dan tak lupa juga untuk mendokumentasikannya. Bagiku dokumentasi saat perjalanan itu sangat penting, entah itu dalam bentuk foto, video ataupun tulisan.


Di tengah perjalanan kami kehabisan air karena tidak banyak juga bekal minum yang kami bawa. Untung saja ada Pemadam Kelaparan. Awalnya cukup anek saja sama namanya. Yang bikin kreatif. Kami tidak makan hanya membeli minum saja. Dengan harga yang masih sama Rp. 2.500,- per botolnya. Yang satu diminum, dan yang satunya lagi kami masukan tas untuk bekal melanjutkan perjalanan.


Waktu itu pukul 16.30, selain teduh aku merasa cuaca tidak mendukung karena mendung. Kami berharap tidak hujan, karena kalau hujan akan susah meneduhnya. Setelah melewati pemadam kelaparan sudah tidak ada warung lagi selain di dekat hutan pinusnya.


Perlahan kami menelusuri jalan naik turun, capek berhenti kemudian lanjut lagi. Begitu terus sampai menemukan tempat istirahat yang benar-benar teduh dan bisa meluruskan badan ini. Bayu yang baru pertama kali serasa capek dan sudah tidak kuat lagi. Tapi perlahan kami menyemangatinya agar dia juga bisa kuat sampai ke hutan pinus.

Dari jauh kami melihat seperti bukit yang ada patungnya. Entah patung apa karena tidak begitu jelas. Kami mencoba mempercepat menuntun sepedanya karena jalan menuju butkit itu menanjak. Sesampainya di dekat bukin kami tidak mendekati patung itu langsung. Kami langsung merebahkan badan di dekat gubuk kecil dekat bukit. Sembari merasakan angin sepoi-sepoi kami istirahat.


Setelah cukup istirahatnya kami mulai mendekati patung yang ada depan bukit. Karena penasaran kami juga berfoto depan patung itu. Terdapat banner besar di belakang patung tersebut yang bertuliskan nama dari bukit ini. Namanya Bukit Bego Imogiri. Ketika mendengar, sempat bingung juga kenapa bisa bukit bego namanya. 
 

Aku berusaha mencarinya di mbah google. Ada dua versi nama untuk menyebut bukit ini. Ada yang menyebutnya bukit Kedung Buweng dan ada juga yang menyebutnya Bukit Bego. Tapi karena dalam banner bertuliskan Bukit Bego, jadi kami menyebutnya bukit bego saja. Dalam candaan kami pun selalu terbawa. 


Menurut blognya mas Ardian Kusuma yang aku baca, bukit bego ini kemungkinan berasal dari nama Bego. Sejenis alat berat untuk menggaruk tanah. Bagi yang belum tahu, kurang lebih bego yang di maksud seperti gambar dibawah ini.
pict : imtract.com
Bukit ini memang berupa kumpulan tanah sisa-sisa proyek jalan Imogini - Mangunan. Tempat ini terletak di pinggir jalan raya. Lebih tepatnya terletak di jalan utama menuju Mangunan Imogiri yang terletak di ujung timur Dusun Kedung Buweng, Desa Wukirsari.


Kabarnya bukit ini memiliki ketinggian yang lebih tinggi dari sekarang ini. Namun karena tanahnya pernah ditambang jadi terkikis dan jadilah seperti ini. Tapi meskipun demikian, bukit Bego ini masih terlihat keren dan masih banyak dikunjungi. Terutama setiap orang yang lewat, bukit Bego ini selalu menjadi pusat perhatian.

Karena saking penasaran, aku mengajak teman-teman untuk naik ke atas. Tapi aku sendiri yang sengaja membawa sepeda ke atas. Selain akan membuat lebih keren dalam foto (dalam hati) aku juga sudah kepikiran sejak berada di bukit ini. Ketika naik aku mengangkatnya dengan tangan. Agar lebih mudah. Kebetulan si Fijo enteng juga ketika diangkat.


Bukit Bego ini juga sering menjadi tempat tujuan untuk melihat keindahan sunset maupun sunrise. Saat kami mempir ke bukit Bego ini, cuaca lumayan cerah sehingga bisa melihat pemandangan dari atas. Terlihat juga Gunung Merapi yang menjulang. Orang-orang yang mengendarai motor ataupun mobil begitu jelas terlihat. Bukit-bukit hijau pun demikian.


Selain itu, di bukit ini juga tersedia berbagai gubug untuk istirahat. Ditambah angin yang sepoi-sepoi, istirahat pun semakin nyenyak. Apalagi bersama sahabat sembari makan. Ada juga kursi kayu yang dapat diguankan untuk bersantai.


Di bawah tersedia juga parkiran yang cukup luas. Sehingga memudahkan siapa saja yang datang ke bukit ini. Terutama yang membawa kendaraan, baik motor ataupun mobil sekalipun. Bukit Bego ini biasa dimanfaatkan sebagai tempat berlatih motor cross. Waktu kami ke bukit ini, ada beberapa motor cross yang baru selesai berlatih. Memang tempatnya sangat cocok bagiku untuk bermain motor cros, selain luas, terlihat keren juga pemandangannya.

Di bukit Bego ini teman-teman yang lain memilih untuk istirahat di gubug, dibandingkan denganku yang terus mengabadikan foto. Dengan setianya Maman membantu untuk berfoto. Mulai dari foto dan video. Biasanya kalau tempat yang baru pertama kali aku kunjungi, aku tidak hanya satu atau dua saja mengabadikannya, tapi beberapa dan lumayan banyak. Setelah selesai barulah dilihat dan dipilih mana yang paling bagus. Aku rasa kalian juga ada yang seperti ini :D


Awalnya aku mencoba dibawah saja, tapi aku fikir bagus juga untuk foto diatas, dengan semangat aku mengangkat sepeda ke atas. Kebetulan waktu itu sedang sepi juga, jadi kami dengan bebas berekspresi di atas bukit Bego.


Si Fijo ini memang tidak hanya keren, tapi enteng untuk diangka. Di balik foto yang keren, tentu ada seseorang yang rela susah payah untuk mengambilnya. Mulai dari tempatnya dan cara memotonya. :D


Setelah puas, kami berbegas untuk melanjutkan perjalanan. Karena waktu juga sudah mulai sore. Baru saja turun ke jalan raya, kami langsung bertemu dengan jalan yang naik dan pasti akan dituntun kembali untuk sampai ke sana.

Tapi kami percaya, pelahan pasti akan sampai, meskipun lama diperjalanan yang penting selamat sampai tujuan. Daripada terburu-buru tapi membuat kita celaka, buat apa. Bisa dilihat foto dibawah ini Bayu dan Maman yang sedang kelelahan menuntun sepeda di tanjakan jalan.


Tetesan demi tetesan keringan kian membasahi muka. Tapi kami senang bisa bersepeda bareng bersama teman-teman satu kelas. Ini merupakan pertama kalinya bersepeda bareng seperi ini.

Karena capek kami pun minum terlebih dahulu sembari istirahat. Bayu terliaht capek sekali. Maklum baru pertama kalinya bersepeda dengan jarak yang jauh, meskipun capek tapi dia tetap merasa senang. Begitupun aku yang sudah lama ingin bersepda bareng, hingga sepedaku hilang belum kesampean juga.

Alhamdulilah meskipun bukan dengan sepedaku, tapi justru malah bisa bersepda bareng. Semoga kedapannya masih bisa lanjut bersepeda dengan jarak yang lebih jauh dan indah.


Ketika sedang asik istirahat tiba-tiba rintik hujan membasahi kami. Tak lama kemudian lebih deras, untung saja kami sedang ada di bawah pohon. Jadi sedikit lebih terhindar dari hujan. Meskipun masih terkena air hujan, setidaknya kami aman. Hanphoneku aku sengaja masukan kantong plastik kemudian dimasukan ke tas Anin. 

Sementara tidak berfoto terlebih dahulu jika melihat pemandangan yang bagus. Sabar hingga sampai hutan pinus. Ketika mulai reda kami melanjutkan perjalanan. Baru saja beberapa menit berjalan, rintik hujan mulai membesar dan membasahi kami kembali.

Sengaja kami tetap melanjutkannya karena nanggung sudah diperjalanan. Hingga akhirnya kami bertemu dengan suatu papan petunjuk arah, namun diatasnya terlindungi seperti halnya gubuk, namun kecil. Kami pun berteduh ditempat tersebut dengan berdesakan. Sedangkan Anin tetap tenang berada ditepi jalan dengan menggunakan mantel ungunya. 

Aku akui, Anin memang selalu siap akan sesuatu. Seperti halnya membawa mantel sebelum hujan. Membawa air minum ketika kami kehabisan di tempat yang jaraknya jauh dari warung. Beberapa kali membawa masker juga. Waktu maen ku curug denganku, aku tiba-tiba ingin menuliskan kenangan dalam kertas. Karena tak membawa kertas dan pulpen aku putuskan untuk tidak jadi. Tapi tiba-tiba Anin bilang kalau dia membawanya. Wah benar-benar dia selalu siap. Setelah itu kami bertemu dengan pintu masuk yang bertuliskan WISATA DESA MANGUNAN. Aku berharap jaraknya sudah sebentar lagi.


Di sampping jalan aku melihat bapak-bapak yang sedang mencari daun pisang. Aku menghampirinya untuk bertanya kira-kira berapa KM lagi untuk sampai ke hutan pinus. Bapak itu menjawab, kurang lebih 7 KM lagi.

Pikirku tinggal sebentar lagi, ternyata masih jauh. 7 KM bagi kami yang setiap tanjakan curah menuntun itu akan lama sekali. Mungkin saja bisa bisa lebih dari 10 KM kalau jalan. Tapi tak apalah kami coba dengan pelan yang penting sampai dengan selamat.
 
Tak terasa suara adzan sudah berkumandang. Kami masih dalam perjalanan. Sembari mencari tempat istirahat kami mencari Masjid terdekat. Setelah itu kami mencari warung untuk membeli air minum dan roti. Ketika kami membeli tiba-tiba Anin melanjutkan perjalanannya terus. Pikirku dia akan menunggu kami di depan sana.

Setelah selesai dari warung kami menyusul Anin, tapi entah kemana sudah beberapa menit kami menelusuri jalan belum bertemu juga. Mau di tanyakan melalui pesan singkat, handphone Bayu tidak ada sinyalnya. Maman sendiri sinyal full tapi tak punya pulsa. Aku sendiri pulsa ada, dan sinyal juga aku yakin ada, karena telkomsel biasanya selalu ada. Tapi hanya satu yang disayangkan, handphoneku dititipkan Anin ketika hujan itu.

Terpaksa kami mencarinya, kebetulan waktu itu terdengan sholawatan di Mushola dekat kami berjalan. Maman berfikir kalau Anin ada di Mushola itu sedang sholat Maghrib sembari menunggu kedatangan kami. Aku sendiri berkata tidak mungkin, karena Mushola itu jaraknya lumayan jauh dari jalan raya, nanjak pula jalannya.

Tapi karena penasaran kami tetap melihat ke Musholanya sembari bertanya kepada warga sekitar, karena jalanan juga gelap gulita. Sesampainya di Mushola tak ada Anin. Jangankan Anin orang yang sholat di Mushola itu juga hanya dua orang. Ketika kami hendak mencuci tangan, salah satu bapak yang ada di Mushola itu memberitahukan kalau mau wudhu harus kesana karena kran di Mushola itu tidak ada airnya.

Setelah itu pun kami kembali melanjutkan perjalanan. Ketika dijalan Maman sempat ditanya oleh seorang bapak-bapak :

Bapak-bapak : "Mas nyari siapa ya ?"
Maman : "Saya cari teman saya pa, Bapak tahu ?"
Bapak-bapak : "Yang menggunakan sepeda bukan mas ?", ujar bapaknya.
Maman : "Iya betul pak. Bapak melihatnya ?"
Bapak-bapak : "Tadi saya melihat di dekat menara mau menuju Hutan Pinus mas"
Maman : "Oh gitu, ya sudah terimakasih ya pa".

Setelah kami melanjutkan perjalanan dengan yakin cepat sampai. Karena meskipun sudah dapet info dari bapak tadi, kami khawatir juga dengan Anin. Kesel juga sebenarnya, karena dia egois seperti itu, ninggalin kami. Aku tak terbayangkan kalau di pegunungan seperti itu akan susah nyarinya. Atau bahkan bisa hilang. Jangan sampai terjadi hal-hal seperti itu. 

Jarak dari Mushola tadi ke Menara Hutan Pinus juga jauh, kami beberapa kali berhenti di jalan karena capek. Terutama di setiap tanjakan, terutama Bayu yang terasa capeknya. Tapi aku memakluminya, karena dia sudah lama tidak bersepeda, kemudian bersepeda langsung dengan jarak yang jauh. Tentu sakit pada betis akan terasa langsung. 

Sesampainya di menara menuju Hutan Pinus, kami tidak melihat sama sekali Anin. Kurang lebih 15 menit menunggu tak kunjung datang juga. Mau beli pulsa tapi selama perjalanan, kami belum melihat konter sama sekali. Aku menyuruh Maman untuk bertanya kepada warga setempat untuk menanyakan dimana yang ada pulsa. Awalnya Maman tak mau karena malu. Aku sempat bicara dengan nada tinggi, "kalau kamu malu bertanya kapan dapet pulsanya man, daripada nyari jauh-jauh tapi gak dapet. Mending tanya dulu aja sana."

Setelah itu Maman baru mau bertanya, dan sekali bertanya Alhamdulilah di rumah itu juga menjual pulsa. Coba saja kalau tadi tidak bertanya akan nyari entah kemana dan belum tentu dapet juga. Setelah itu barulah telfon Anin. Ternyata dia sudah ada di Hutan Pinus. Aku suruh pulang lagi ke menara yang mau masuk ke Hutan Pinus. Tapi Anin tidak mau. Ya sudah, kami memutuskan untuk makan dulu kemudian menyusul Anin kesana.

Kebetulan dekat merara, ada yang jualan mie ayam. Kami sepakat untuk makan mie ayam. Habis hujan, dingin, makan mie sepertinya enak. Kami pun memesannya dengan minum seperti biasa air es. Mau cuaca hujan ataupun tidak es selalu menemani..hehe.. Harga mie ayam di daerah sini masih sama seperti pada umumnya yakni Rp. 7.000,-

Ingin sekali mengabadikan momen ketika makan mie ayam, tapi handphoneku ada di Anin, jadi belum bisa. Sabar saja lah yang penting sekarang makan kemudian lanjut perjalanan agar cepat bertemu Anin. Kasihan juga dia sendirian menunggu kami.

Setelah selesai makan kami melanjutkan perjalanan kembali. Jarak dari tempat kita makan menuju hutan pinus kurang lebih 500 meter lagi. Meskipun dekat tapi karena jalanya naik dan banyak lika likunya jadi tetap saja kami lama dalam perjalanan. Sembari menuntun aku bertanya berulang kali kepada Maman dan Bayu. Apakah ada yang tertinggal di tempat mie ayam tadi. Coba periksa lagi sebelum jauh. Beberapa kali setiap berhenti istirahat aku selalu menanyakannya.

Dengan tegas mereka menjawab tidak. Kemudian kami melanjutkan perjalanan lagi. Setelah dipertengahan jalan. Tiba-tiba Maman teringat kalau topinya tertinggal di mie ayam tadi. Mau balik lagi jauh, turunan pula jalannya. Dengan pasrah Maman membiarkannya, gampang bisa beli lagi. Kalau topinya masih milik dia, pasti sampai besok pagi masih ada.

Sembari menuntun sepeda di tanjakan jalan, terdengar suara telfon di handphone Bayu. Ketika dilihat Anin yang telfon. Kami bilang suruh nunggu saja, karena kami sedang dalam perjalanan. Semakin kami sampai ke lokasi, maka sinyak juga semakin susah.

Ketika cahaya banyak yang terpancar dalam kegelapan, disaat itu juga suara musik terdengar jelas keras. Kami semakin penasaran, apakah itu suara dan cahaya datangnya dari Hutan Pinus ? Bayu dan Maman juga mempunyai filling itu hutan pinus. Kami semakin mendekati dan ternyata memang betul. Alhamdulilah akhirnya kami sampai juga. Tepat pada pukul 19.30.

Namun masih khawatir juga karena Anin belum ketemu. Aku mengajak Bayu dan Maman untuk masuk dan mencoba mencarinya. Karena tempat duduk di depan terlihat gelap, tak lama terdengar suara menyapa, "woyy", di tempat duduk yang tak ada cahayanya itu. Aku menebaknya itu adalah Anin. Setelah di dekati ternyata memang betul.

Kami pun duduk bersama di bangku yang Anin dukuki. Kami ngobrol sebentar sembari istirahat. Namun lama kelamaan aku merasa kedinginan. Karena habis kehujanan, baju basah terus kena angin. Dinginnya serasa sampai ke tulang. Aku mengajak untuk pergi ke tempat yang lebih tertutup.

Anin mengajak untuk pergi ke Mushola di sekitar Hutan Pinus. Kebetulan Anin sudah izin boleh untuk menginap di Mushola itu. Anin juga sudah ngobrol lama bersama orang-orang yang ada di sekitar hutan pinus. Bahkan dia sudah makan bersama dan itu gratis lagi. Kalau rezeki memang tidak kemana ya.

***

Musholanya terlihat sederhana, terbuat dari kayu jati, jadi lebih kuat dan kokoh. Meskipun tidak semuanya tertutup rapih dengan kayunya. Tapi Mushola ini unik, dan aku suka. Di tempat wisata seperti ini memang sangat penting untuk adanya Mushola atau Masjid. Karena sesibuk apapun kita, sesenang apapun kita dalam berwisata. Tetap ketika waktunya sholat semua harus di tinggalkan.


Untuk sepeda, kami simpan disamping Mushola dengan rapih. Mulari dari kiri, sepedaku, Anin, Bayu dan Maman. Tapi yang kami sayangkan di Mushola ini adalah tempat wudhunya, yang lumayan jauh. Sebenarnya tidak jauh, hanya disamping Mushola dekat kamar mandi. Tapi untuk kesana harus berputar melewati warung-warung di lokasi hutan pinus, karena kalau langsung tidak bisa, ada pager yang memisahkannya. Itulah yang membuat jauh.

Begitu sampai Mushola ini kami sangat senang, selain bisa istirahat dengan nyenyak, kami juga bisa berkumpul lagi tidak seperti dijalan tadi saat ditinggal oleh Anin. Lihat saja senyum kami ketika istirahat, begitu senang dan tenang.



Kebetulan sarung di Mushola ini ada 2, yang satu dipake Maman dan yang satu lagi kami bertiga yang menggunakannya.  Sampai-sampai berebut antara aku, Anin dan Bayu. Karena udaranya semakin malam semakin dingin. Bayu dan Anin beruntung karena mereka membawa jaket. Jadi bisa digunakan untuk tidur. 

Sedangkan aku dan Maman hanya menggunakan kaos, Maman mendingan menggunakan kaos panjang. Aku sendiri kaos pendek, hanya saja dilapisi oleh manset di dalamnya. Tapi jujur dinginnya masih teresap sampai ke dalam tubuh. Terutama di bagian kakinya, dingin sekali.


Karena belum melaksanakan sholat Isya, kami tak lupa juga untuk berbegas sholat. Maman karena sudah tidak kuat matanya ngantuk. Dia langsung membuka celana kemudian menggunakan sarung dengan terburu-buru. Kemudian pergi mengambil air wudhu. Lihat saja posisi menggunakan sarungnya asal dan tidak rapih.


Setelah selesai sholat kami bersiap-siap untuk istirahat. Namun ketika mau tidur kami kesusahan untuk tidur.  Karena tidak ada kasur jadinya sedikit susah. Hanya beralaskan sajadah yang digulung, itupun membuat perih ketika terkena muka ataupun telinga. Aku melihat Bayu sudah tertidur, Maman, Anin juga demikian. Hanya aku saja. Aku mencoba untuk tidur juga.

Setelah beberapa menit, ternyata mereka juga tidak bisa tidur. Aku melihat jam masih puku 22.00, sepertinya lama sekali untuk pagi. Setelah itu hanya Anin saja yang bisa tidur. Bayu hanya memejamkan mata saja namun tak bisa tidur. Maman malah asik maen game. Aku beberapakali melihat handphone namun sinyal tak kunjung ada.

Kemudian kami hanya terdiam diri masing-masing, bagi yang bisa tidur tetap nyenyak, bagi yang tak bisa tidur dipaksakan untuk tetap tidur. Karena sekitar pukul 23.00 ke atas hujan besar yang membuat hawa dingin semakin terasa ke dalam tubuh. Aku beberapa kali melihat kondisi teman-teman, apakah aman atau tidak. Melihat Maman tetap asik bermain handphonnya karena tak bisa tidur. Bayu tetap berusaha memejamkan mata. Anin sendiri sampe mengkhayal entah apa. Terlihat dia sangat nyenyak.

Anin selain nyaman mengenakan jaket, ditambah juga dilapisi oleh mantel yang dia bawa. Kebetulan sudah kering. Jadi ketika hujan besar itu Anin sendiri yang tak sadar dan tidak tahu. Padahal dinginnya terasa sekali. Tapi itulah keberuntungan Anin, kami bertiga kurang persiapan saja. Tak membawa mantel. Aku dan Maman memang tak punya..hehe

Ketika mendekati Subuh, terdengar suara handphoneku, menerima pesan singkat dari mas Endro, sahabat di kostku. Dia menanyakan aku pulang kapan. Aku lupa belum mengabari dia kalau aku akan bermalam di hutan pinus. Selain itu juga memang susah sinyalnya selama di hutan pinus. Adapun sebentar-bentar hilang. Pukul 04.00 pagi aku membalas pesan singkat mas Endro. Alhamdulilah sinyalnya ada, dan terkirimlah. Setidaknya teman-teman sekaligus kelarga di kost tidak cemas mengkhawatirkanku.

Tak lama waktu Subuh datang, bapak-bapak yang jualan atau menetap di hutan pinus masuk ke Mushola, salah satunya mengumandangkan Adzan. Kami pun bergegas untuk segera mengambil air wudhu. Setelah itu sholat berjamaah.

Setelah sholat Subuh aku menyuruh teman-teman semua untuk beres-beres. Kemudian untuk pergi ke kamar mandi. Siapa tahu ada yang mau buang air kecil ataupun besar. Karena setelah itu kami akan pergi ke hutan pinusnya untuk melihat keindahannya.

Sebenarnya target kami bisa sampai ke puncak becici. Tapi karena waktu itu hari Jum'at kami mengejar waktu juga untuk bisa Jum'atan di rumah/kost masing-masing. Karena ada yang sedikit lama di kamar mandinya. Kami memutuskan pukul 06.00 barulah keluar untuk eksplor hutan pinus. Beginilah suasana pagi di hutan pinus.


Pager pada foto diatas merupakan pembatas antara Mushola dan kamar mandi atau tempat wudhu. Meskipun terlihat sederhana tapi asik dan seru menginap di hutan pinus ini. Tentu dengan tidur di Musholanya. Tak terbayang kalau tidurnya hanya di hutan saja. Selain kehujanan tentu dingin.
.

Sekilas suasananya seperti sore ya, padahal ini suasana pagi. Sekitar pukul 06.00. Jam segitu juga aku melihat ada salah satu keluarga yang mengguanakan mobil kemudian parkir dan pergi ke kamar mandi. Pikirku mereka hanya numpang ke kamar mandi saja. Tapi mereka justru jalan-jalan di sekitar hutan pinus sembari menikmati keindahan ketika pagi.


Setelah dilihat pagi ternyata penampakan Mushola depannya seperti ini. Ada penutupnya juga, kalau tahu semalam ketika tidur bisa ditutup agar tidak terlalu dingin. Ada juga tikar dan tempat mukenanya.


Nampak dari jauh juga terlihat bagus Musholanya. Beruntung kami bisa merasakan menginap di Mushola yang luar biasa ini. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju Hutan Pinusnya. Terlihat keren nan indah ketika pagi hari. Selain tidak panas, terlihat juga kabutnya. Sayangnya agak becek karena malamnya habis hujan.


Terlihat seperti besi tulisan di pintu masuk ini. Namun jika kita cermati itu terbuat dari akar. Mungkin saja akar pinus karena adanya di hutan pinus. Selain itu, ada juga beberapa gubug yang ada di sekitar hutan pinus ini. Selain untuk beristirahat, untuk berfoto juga bagus.


Orang yang ada dalam foto diatas merupakan keluarga yang sebelumnya aku ceritakan pergi ke kamar mandi itu. Tetapi mereka juga sama dengan kami keliling hutan pinus. Hanya saja ke arah yang berbeda. Karena hutan pinus cukup luas tempatnya.

Terlihat masih sepi, karena hanya kami dan keluarga yang tadi mengenakan mobil saja yang ada di tempat ini. Mungkin sekitar pukul 08.00 akan lebih ramai lagi. 


Gubug di atas juga terlihat sederhana, namun jika duduk disitu kita bisa menikati keindahan yang begitu indah. Rasanya adem nan tenang. Cocok untuk mengademkan pikiran yang  penat karena kerjaan.


Selain itu ada juga seperti panggung yang bisa diliihat pada foto diatas. Jika kami naik ke atas akan lebih indah lagi melhat pemandangan sekitar. Kalau siang mungkin saja akan antri orang-orang yang naik ke tempat tersebut.


Sedangkan tempat yang ada pada foto diatas persis seperti gordeng, namun terbuat dari akar juga. Kemudian ada jalan setapak yang dilapisi dengan kayu. Sekilas seperti naik ke angkasa jalannya.


Bangunan yang menyerupai panggung ini merupakan tempat yang baru di hutan pinus. Panggung ini terletak di sisi barat hutan pinus. Dengan adanya beberapa obyek yang baru di hutan pinus. Saat ini menjadi lebih menarik untuk dikunjungi. Untuk mengabadikan foto juga semakin keren.


Setelah itu kami mencoba ke arah yang lebih tinggi. Dan kemudian naik ke atas tangga agar bisa melihat indahnya matahari pagi, sekaran baru akan terbit. Karena mendung jadi baru kelihatan agak siang. Tapi Alhamdulilah selama keliling di hutan pinus kami tidak kehujanan dan dapat mengabadikan foto dengan lancar.


Anin mencoba naik ke tempat yang lebih tinggi, namun ketika di jembatannya, dia terlihat seperti ketakutan. Selain takut, licin juga kalau menggunakan sendal, karena habis terkena air hujan malamnya. Dan pada waktu itu belum tersinari matahari pagi.



Kapasitas untuk naik ke atas hanya bisa untuk 3 orang saja. Karena terbuat dari kayu kalau kebanyakan orang yang naik akan roboh nantinya. Tak terbatang kalau sedang rame-ramenya orang. Pasti ngantri panjang hanya untuk berforo ditempat itu.


Aku juga mencoba melewati jembatan, karena hanya aku yang menggunakan sepatu, aku rasa akan lancar ketika jalan tidak licin. Tapi malah sebaliknya, lebih licin. Dan aku harus ekstra hati-hati. Di susul dengan Bayu yang naik ke atas. Aku sendiri takut dengan ketinggian, entah kenapa ketika ada berada di ketinggian badan ini bergetar takut. Takut jatuh.


Untuk naik ke atas juga tidak sembarang orang. Tapi hanya mereka saja yang mau dan berani. Sebelum naik ke atas ada papan yang bertuliskan : "AWAS...!!! Tidak Berani .. Berbahaya, Jangan Dicoba" Intinya ya bagi siapa saja yang tidak berani untuk naik atau takut, sebaiknya jangan coba-coba.


Di hutan pinus ini juga tidak semuanya ikut berfoto. Hanya beberapa saja. Berfoto pun kalau aku foto dengan diam-diam. Rasanya hanya aku yang paling banyak fotonya. Selain foto ada juga videonya. Aku sengaja sedari berangkat membawa buku ke-5 ku ke hutan pinus. Dengan tujuan untuk bergaya disaat berfoto.

Selagi santai juga bisa digunakan untuk membaca. Lebih jelasnya sih aku ingin buku ke-5 aku ini sedikit eksis di tempat yang baru pertama kali aku kunjungi dengan penuh perjuangan yakni bersepeda. Ketika duduk di salah satu gubuk, Anin juga ingin membaca bukunya. Kesempatan aku mengambil fotonya disaat dia sedang membaca. Aku jugu minta untuk memegang bukunya kepada Bayu dan kemudian difoto. Tapi dia tidak mau, begitu juga dengan Maman, lebih suka memotretnya. Jadi apa boleh buat, aku lah yang sering difoto..he..he..
.

Setelah dari tempat itu, kami pindah ke tempat yang lebih tinggi. Berharap bisa melihat pemandangan yang lebih indah lagi. Bisa dilihat jarak untuk naik ke atas dari tangga pada foto dibawah ini. Lumayan jauh nan tinggi kan. Ini buktiinya bahwa hutan pinus itu luas.


Untuk melihat pemandangannya pun semakin indah terlihat. Coba saja kalau mataharinya sudah menyinari, tentu akan lebih indah lagi. Waktu aku ditempat ini, sudah ada beberapa orang yang datang ke hutan pinus ini. Semakin siang pasti akan lebih banyak lagi yang datang.
.

Di tempat ini tempat untuk melihat pemandangannya dari atasnya lebih tinggi lagi. Sehingga jika kita keatas akan lebih jelas melihat pemandangan disekitar. Dan tentu akan lebih keren kalau mengabadikan foto ditempat ini.


Tak lupa juga untuk mengabadikan buku. Selagi naik di atas, tapi aku belum berani naik ke paling atas. Hanya di tingkat yang pertama saja. Karena pertama kalinya naik ditingkat pertama saja, rasanya badanku sudah bergetar dan ekstra hati-hati ketika jalan diatas.



Selain buku, aku juga mencoba mengabadikan diriku sendiri. Kalau melihat pemandangan seperti diatas, rasanya jadi kangen ketinggian. Kangen mendaki gunung lagi. Merasakan kedinginan yang luar biasa namun seru ketika melihat pemandangan di atas awannya.


Tak lupa juga mencoba memoto Maman dan Anin yang sedang ada dibawah. Karena yang berani naik ke atas hanya aku dan Bayu. Maman sendiri katanya sudah naik ke tempat itu namun ketika aku, Bayu dan Anin sedang duduk di gubug sembari istirahat.



Di atas juga tak terasa banyak semut yang menggerumuti tanganku. Dengan pelan aku mencoba melepaskannya dan mencoba mengabadikannya ketika semut itu saling berjabat tangan.


Setelah itu aku turun, sedangkan Bayu masih ada ditas. Aku mencoba melihat ke atas ternyata tinggi juga. Aku sebenarnya penasaran ingin mencoba naik ke yang paling atas. Tapi aku merasa takut dan tidak berani. Sebelum pulang, aku memaksakan diri dan mencoba membuang rasa takut itu untuk naik ke atas. Dengan ucapan bismilah dan doa, aku pun mencobanya.
.

Sesampainya di tingkat yang pertama rasa takutnya masih ada. Dan mencoba mengabadikannya dengan Bayu sembari duduk memegang buku.
 


Setelah itu aku memberanikan diri untuk naik ke atas. Seperti inilah ketika di atas. Rasanya takut tapi semakin jelas terlihat pemandangannya dan seru juga ternyata berada di atas ketinggian seperti ini. Melihat kebawah Maman dan Anin terlihat kecil.
 


Setelah itu kami memutuskan untuk pulang, karens udah pukul 08.00. Takutnya ketika pulang nanti lama diperjalanan. Kami mengejar ingin shalat Jum'at di Masjid sekitar rumah/kost masing-masing. Ketika hendak pulang, tiba-tiba mataku melihat sebuah ayunan. Aku megnajak teman-teman untuk berhenti sejenak mengabadikan foto ditas ayunan.


Ketika kami pulang cuaca di hutan pinus semakin indah karena tersinari oleh sinar matahari yang baru terbit. Selain itu banyak juga para pengunjung yang berbondong-bondong baru datang. Aku baru tahu ternyata jam 07.00 - 08.00 banyak juga orang yang sudah pergi ke hutan pinus. Kami merasa paling pagi karena sedari kemarin sudah di hutan pinus.
.

Ketika hendak sampai pintu keluar, rasanya kami berat sekali meninggalkan hutan pinus ini. Masih kangen ingin keliling lebih lama lagi. Sayang hari Jum'at sih, aku rasa dari tempat tersebut agak jauh untuk sampai ke Masjid jika Jum'atan. Wajar kami menggunakan sepeda, kalau menggunakan kendaraan bermotor akan lebih cepat sampai.
.

Kami juga baru tahu kalau di hutan pinus ada tenda. Aku kira orang yang sedang camping di hutan pinus. Tetapi itu tenda disewakan untuk siapa saja yang mau menginap disitu. Entah berapa harga sewanya. Kami hanya menumpang foto saja di depan tenda.


Setelah itu eksis beberapa kali lagi sebelum menginjakkan tanah aspal menuju perjalanan pulang. Ingin rasanya ketika melihat orang-orang yang mengabadikan fotonya dengan kamera DSLR. Tapi aku yakin suatu saat bisa beli dengan hasil keringan dan kerja kerasku sendiri.
.



***

Setelah ngambil sepeda, dan pamit kepada orang yang mengurus di hutan pinus itu. Kami siap berpetualang kembali. Menelusuri jalan pulang dengan menuntun sepeda kembali. Karena sepeda kami tak ada yang ada remnya, jadi kami ketika bertemu turunan lebih baik menuntunnya. Menjaga keselamatan lebih penting.

Tak masalah beberapa kali jalan, hingga kaki ini sakit menahan beban badan dan sepeda ketika turun. Karena ini sudah menjadi resiko kami yang nekat bersepeda ke hutan pinus dengan kondisi sepeda yang apa adanya. Terutama di remnya, yang kebanyakan pada sepeda kami kanfas remnya habis.
 

Setelah melewati perjalanan yang turun cukup panjang, beberapa kali kami di ingatkan oleh papan petunjuk arah yakni HATI-HATI, RAWAN KECELAKAAN. Banyak orang yang tidak memperhatikannya. Meskipun terlihat umum tulisannya, yang banyak kita temukan di jalan-jalan. Jangan sampai kita menyepelekannya. Penting juga memperhatikan papan petunjuk jalan atau peringatan.


Karena sendal yang Anin gunakan penuh dengan tanah bekas hujan. Dia memilih untuk melepasnya karena berat. Untung aku ada kantong plastik, jadi aku kasihkan dan dimasukanlah sendalnya. Sembari menuntun sepeda membawa sendal dalam kantong plastik. Dari jauhan mungkin sekilas seperti membawa makanan. Tapi jika dilihat hanya sendal jepit yang penuh dengan tanah bekas hujan.
.

Ketika melewati mie ayam yang semalam kami makan. Maman tak lupa juga untuk mengecek topi yang tertinggal. Jika masih ada berarti masih milik Maman. Ketika di cek Alhamdulilah masih ada, terimpan rapih di dinding dekat bangku mie ayam. Maman pun langsung mengambilnya dan digunakan untuk menutupi panasnya sinar matahari yang terkena kepala.


Karena tempat mie ayam dengan menara hutan pinus berdekatan, hanya saja terpisah oleh jalan saja. Aku pun memanfaatkannya untuk berfoto. Karena sedari malam ingin berfoto di tempat ini belum bisa karena handphonya dibawa Anin.


Di tepat itu hanya aku saja yang berfoto, yang lainnya sudah tidak kuat karena capek, sakit kaki juga. Setelah foto kami melanjutkan perjalanan pulang. Jalan pulang dari menara ini jalannya semakin turun dan curam. Pantes saja semalam aku merasa jalan menuntun sepeda dengan lumayan capek, ternyata jalan naiknya cukup tinggi dan panjang.

Beberapa kali turunan Bayu dan Maman menaikinya dengan rem dengan sendal yang mereka kenakan. Sedangkan aku dan Anin tetap santai untuk jalan dibelakang. Ketika bertemu turunan yang tak begitu curam barulah aku dan Anin berani menaiki sepeda. Dan itu terjadi terus seperti itu.

Kadang aku menyusul sampai ke depan. Setelah di depan bertemu turunan aku berhenti dan memberitahu teman-teman kalau turunannya curam. Dengan terikan aku memberitahukan kepada yang ada dibelakangku. Kemudian terus sampai ke belakang. Hal ini kami lalukan akan lebih hati-hati lagi ketika bertemu jalan turuna yang curam.

Sering sekali Bayu menaikinya, karena kanfas rem belakangnnya masih ada sedikit jadi ketika turunan pendek dia bisa mengeremnya dengan santai tanpa menggunakan sendal seperti Maman. Sendal Maman lama-lama habis dan bolong karena sering digunakan untuk mengerem sepeda pada ban.

Waktu itu Bayu berada di depanku dengan menunggangi sepedanya turun, aku rasa dia santai-santai saja karena ada remnya. Aku menoleh ke belakah, ke arah Maman untuk memberitahukan bahwa di depan ada belokan curam. Maman pun menuntunnya dan memberitahukan kepada Anin yang ada dibelakangnya. Mungkin saja Anin tak mendengar atau posisi dia sudah menaiki sepeda dalam jalan turunan.

Waktu itu Anin meluncur dengan cepat dijalan turunan itu dengan melewati Maman dan Aku. Aku juga kaget ketia ada yang menyalip dengan cepat. Pikirku motor, ternyata Anin. Kebetulan di jalan itu sedang ramai para pengendara motor yang sudah dari hutan pinus ataupun mau berangkat.

Anin mungkin bingung karena di depan banyak kendaraan, sedangkan sepeda dia tidak ada remnya sama sekali. Jadi tidak tak bisa mengeremnya, dan dia membanting setir ke arah rerumputan. Dimana rerumputan tersebut banyak pohon-pohon berduri. Dan Anin pun pada waktu itu terjatuh, terperosok dan terguling beberapakali dan itu tepat sekali berada di depanku.

Aku langsung berlari berusaha menolongnya. Tak lama Maman datang juga. Kami berusaha menganggkat  sepeda yang berada tepat diatas kaki anin. Dia hanya terdiam dengan luka pada tangan, kaki, dan sedikit lecet dibagian jidat dan hampir kena mata sedikit lagi.

Setelah sepeda kami singkirkan dari kaki Anin, kami tanya apa lagi yang sakit. Dia merasa pusing sekali kepalanya. Aku dan Maman berusaha membantu membersihkan lukanya. Untung aku masih punya persediaan tisu untuk memebersihkan darahnya. Sedangkan Bayu tak terlihat sudah di depan. Tak lama kami menjadi pusat perhatian para orang-orang yang hendak lewat. Kebanyakan dari mereka hanya melihat dan kemudian pergi.

Pernah ada dua orang laki-laki menghampiri kami menggunakan motor. Kemudian bertanya, "Kenapa mas ?", aku jawab, "Ini jatuh pa dari sepeda". Setelah itu apa yang terjadi. Mereka langsung pergi begitu saja. Bukannya menolong atau apa. 

Setelah kami membersihkan lukanya. Bayu datang dan itupun diberitahu oleh salah satu orang yang melihat kami sedang mengobati Anin. Setelah Bayu datang kami berusaha menenangkan Anin. Karena badannya gemetaran terus, mungkin dia shock dan kaget ketika terjatuh.

Sepedanya untung tidak rusak parah. Hanya saja sedikit singkang dan rusak pada remnya. Sudah kami pastikan juga sepertinya Anin belum bisa jalan dengan lancar. Sempat bingung juga kami harus seperti apa. Karena tak ada satupun orang yang peduli.

Aku mempunyai ide, untuk memberhentikan salah satu mobil yang lewat. Waktu itu juga Maman memberitahuku ada mobil. Aku langsung meberhentikannya dan meminta tolong.

Aku : "Maaf sebelumnya pa, kami boleh minta tolong ?"
Bapak Supir : "Minta tolong apa mas ?"
Aku : "Ini teman saya jatuh tadi dari sepeda, sekarang belum bisa jalan."
Bapak Supir : "Boleh mas, tapi cuma sampai Imogiri saja ya."

Mendengar itu aku sangat lega, tak apalah sampai Imogiri juga yang penting Anin tidak kenapa-kenapa. Kami langsung menaikan sepeda satu per satu ke mobilnya. Kebetulan mobil bak kecil. Bapak supirnya berdua dan mereka membantu kami juga untuk menolong Anin.

Ketika sepeda sudah masuk semua ke mobil. Giliran Anin naik ke bak mobil. Namun Anin tak kuat untuk melangkahkan kakinya. Dengan nada rendah, bapak supir menyuh untuk di depan saja. Jadilah Anin duduk di depan bertiga bersama bapak supir dan teman satunya.


Kami merasa lebih aman, biarkan kami bertiga kepanasan. Ini juga sudah bersyukur sekali karena bisa menumpang di mobil. Dalam perjalanan kami berniat untuk berhenti di apotek nantinya setelah turun dari mobil. Untuk membeli obat agar luka yang Anin alamai bisa diobati


Namun ketika sudah sampai Imogiri kami tidak diturunkan terlebih dahulu. Kami di bawa ke suatu tempat. Awalnya kami juga bingung mau kemana. Mungkin bapak supirnya ada keperluan ke salah satu tempat. Namun di depan jalan sebelum masuk ada papan petunjuk yang memberitahukan tempat tersebut.


Tak begiju jelas ketika lewat, hanya saja terbaca praktek doket. Aku tak kepikiran bahwa tempat tersebut berupa klinik. Kami hanya berfikir akan dibawa ke suatu tempat. Setelah sampai depan pintunya kami melihat tulisan KLINIK. Mobil inilah yang sudah membawa kami menuju klinik.


Dalam hatiku bersyukur sekali, sudah dapet tumpangan gratis, bapak supirnya juga mengankan kami ke klinik langsung. Untuk mengantarkan Anin berobat.

Bayu dan Maman menurunkan sepedanya dari mobil dan bebicara sebentar sembari memberikan uang uantuk tumpangan tadi. Tapi bapak supir itu menolaknya dan beliau memang ikhlas. Sepeda yang diturunkan pun tak peduli di standarin atau tidak. Karena kami lebih mementingkan kesehatan Anin pulih kembali.


Sedangkan aku mengantarkan anin masuk ke dalam klinik untuk daftar terlebih dahulu sebelum berobat. Karena Anin belum bisa jalan karena efek pusing setelah jatuh dari sepeda tadi. Aku awalnya bingung setelah sampai dalam, karena tidak tahu dimana tempat pendaftarannya.


Di dalam ruangan juga terlihat sepi dan tak ada orang satu pun. Tapi aku mencoba megnajak Anin untuk keliling mencari tempat pendaftaran sebelum berobat. Terlihatlah dari pintu masuk yang kedua, kemudian aku mengantarnya.


Setelah bertanya-tanya aku diminta KPT Anin untuk syarat pendaftaran. Aku berbegas mendatangi Maman dan Bayu yang sedang diluar memegang tas Anin. Setelah dicari KTPnya ternyata di dalam tas Anin ada kartu BPJS juga. Langsung aku bawa berserta KTP. Kemudian aku serahkan ke administrasi pendaftaran.


Selama pendaftaran untung tidak ngantri, hanya aku dan satu ibu yang mengantri menungguku. Aku sengaja menyerobot langsung, agar Anin bisa cepat diobati. Sedikit lama juga ketika pendaftaran, karena nama Anin di KTP dengan di kartu BPJS berbeda, aslinya Anin Rodahan, sedangkan di kartu BPJS Anin Rudayat.

Mungkins aja ketika membuat kartu BPJS salah. Wajar lah namanya manusia tempatnya salah. Lagi pula yang membuat kartu BPJS pasti banyak sekali. Jadi kalau tidak hati-hati bisa salah ketik nama juga. Nantinya jadilah sama seperti punya Anin ini.

Untungnya Anin mempunyai kartu BPJS ini. Jadi gratis berobatnya. Kelebihannya memang bisa digunakan untuk berobat secara gratis. Namun tidak bisa digunakan jika harus berobat rawat inap.


Setelah aku dapat kartu ini aku mengajak Anin untuk masuk ke ruang UGD. Untuk diperiksa dan dibersihkan kotoran yang ada pada luka di tangan, kaki dan wajahnya. Kebetulan yang membersihkan lukanya masih siswi SMK yang sedang praktek.


Ketika menunggu Anin dibersihkan lukanya. Aku sempat ditanya oleh salah satu dokter yang duduk di depanku. 
Dokter : "Temannya kenapa Mas ?"
Aku : "Habis jatuh dok, dijalan"
Dokter : "Habis dari mana ?"
Aku : "Dari Hutan Pinus dok".
Dokter : "Owalah, kalau mau bersepeda ke Hutan Pinus itu harus menggunakan sepedanya yang cakram, bagus. Jangan seperti itu."
Aku : "senyum manis" (dalam hatiku, kami kan anak nekat pa, punyanya sepeda itu ya sudah tidak disyukuri saja)

Ketika dibersihkan melihat Anin kasihan, sepertinya dia kesakitan. Terlihat seperti menjerik namun tak terdengar suaranya. Aku berharap setelah dibersihkan dia sudah mendingan dibandingkan dengan sebelumnya ketika baru terjatuh.


Tak lama setelah semuanya dibersihkan selesai, aku dikasih obat oleh dokter untuk Anin. Dimakan 3x dalam sehari. Ada dua macam obat yang harus dia makan.


Setelah itu aku mengajak Anin untuk keluar dari ruangan UGD. Sembari memberi tahu berapa kali sehari dalam meminum obatnya. Kami duduk terlebih dahulu didalam ruangan. Setelah Anin paham berulah kami berbegas pulang.


Anin juga sudah terliaht mendingan, dia sudah bisa jalan sendiri bahkan mengajak pulang dengan menaiki sepeda. Aku dan teman-teman awalnya khawatir, baru saja mendingan sudah mau bersepeda lagi. Tapi setelah melihat membawa sepeda memang sudah baikan. Semoga saja cepat sembuh dan kering luka yang lecet pada kaki dan tangan.


Hanya sepeda kami yang terparkir di depan klinik. Sedangkan yang lainnya sepeda motor dan mobil. Tapi jangan melihat sepedanya seperti apa. Seperda kami itu sudah menemani perjalana jauh, baik selama ke Hutan Pinus maupun ke tempat-tempat yang lainnya. 

Setelah diperjalanan, aku menyarankan teman-teman untuk makan terlebih dahulu. Kebetulan kami juga sudah lapar sekali. Kami makan di rumah makan padang yang jaraknya tidak jauh dari klinik Anin berobat. Sengaja kami mencari yang dekat agar Anin tak terlalu jauh bersepeda sebelum tenaganya terisi. Tak masalah harganya berapa, yang penting sehat.

Sesampainya di warung makan padang, pukul 09.30. Kami target makan sembari santai sampai pukul 10.00. Karena perjalanan ke rumah/kost masing-masing juga cukup lama. Kurang lebih sampai pukul 11.00 baru sampai.


Kami di warung makan ini memanjakan diri untuk makan dengan lauknya berupa daging ayam semua. Sekali-kali menemani yang sedang sakit makan daging ayam. Biasanya di kost kami hanya makan SATE (sayur tempe) saja.

Ketika mengambil nasi, handphoneku bunyi terus, suara peringatan bateraiku mulai habis. Dengan rasa PD aku numpang cas kepada mba-mba yang jaga di warung padang tersebut. Dan alhamdulilah diperbolehkan. Sembari makan bisa lah sambil ngasih makan handphone juga.

Tapi karena handphoneku di cas, jadi tak banyak yang bisa di dokumentasikan ketika makan, tempat makannya seperti apa. Tapi aku rasa cukup nyaman tempat makannya. Kami memilih menu makanan yang berbeda-beda. Tak terlihat seperti dibawah ini.


No
Nama
Nasi & Lauk Pauk
Harga
1
Andi Nugraha
Nasi + Ayam Goreng + Perkedel + Air Es
Rp. 16.000,-
2
Maman
Nasi + Ayam Goreng + Perkedel + Air Es
Rp. 16.000,-
3
Bayu
Nasi + Telur + Perkedel + Es Jeruk
Rp. 15.000,-
4
Anin
Nasi + Ayam Goreng + Tempe + Es Jeruk
Rp. 14.000,-
J u m l a h
Rp. 61.000,-

Itulah total yang harus kami bayar. Bagiku makan di daerah Imogiri cukup mahal. Padahal harga jauh lebih murah dekat kosktku. Tapi tak apalah, karena waktu itu aku sengaja nyari yang terdekat dari klinik dan berusaha untuk secepatnya makan. Agar Anin juga bisa makan obat langsung.

Berikut nota makan aslinya yang sengaja aku foto :


Setelah itu kami melanjutkan perjalanan untuk pulang. Seperti biasa sampai di manding kami berpisah. Anin dan Bayu belok ke arah manding. Sedangkan aku dan Maman lurus terus. Ketika di perjalanan, Maman mengajaku untuk beli es kelapa dekat pasar seni gabusan.


Sesampainya di gabusan pun kami berhenti. Waktu itu jarum jam masih menunjukan pukul 10.30. Jadi masih ada waktu untuk bisa nyantai sembari menikmati segarnya es kelapa.


Setelah selesai, kami bergegas pulang dengan sedikit cepat. Karena kami mengejar waktu untuk sholat Jum'at. Sesampainya di kost pukul 11.00. Ada sekitar 5 menitan aku istirahat sembari mengeringkat keringan di badan. Setelah itu barulah mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke Masjid untuk sholat Jum'at.

Sebenarnya dibalik kejadian Anin jatuh dari sepeda ada hikmahnya juga. Kami jadi bisa dengan tepat melaksanakan sholat Jum'at. Coba ketika pulang kami tidak menggunakan mobil. Mungkin saja pukul 11.00 kami masih kepanasan dijalan sembari menuntun sepeda dijalanan turun.

Tapi kami percaya setiap kejadian selalu ada hikmahnya. Bisa jadi teguran juga buat kami. Semoga kedepannya kami bisa lebih hati-hati jika ingin bersepeda. Khususnya dalam perjalanan jauh. Karena keselamatan menjadi hal yang utama.

Itulah suka duka kami selama bermalam di Hutan Pinus. Tidak hanya bermalamnya saja, tapi aku menceritakannya mulai dari berangkat hingga pulang kembali. Semoga kedepannya juga, kami masih bisa mengunjungi tempat-tempat yang indah dengan sepeda.

Karena dengan sepeda aku sendiri jadi lebih tahu jalan yang dilewati dan mudah diingat juga. Selain itu jadi ada perjuangannya untuk sampai ke tempat yang kami tuju. Yuk berikan komentar kalian ?

Artikel Terkait

Founder DiaryMahasiswa.Com Hobinya Jalan-jalan, makan, bersepeda dan membaca | Penulis 5 Judul Buku | Bisa dihubungi : PIN : D097B234 | SMS/WA 085723741831

115 komentar

Sensasinya sejuta rasa pasti yaaa, tripnya pke sepeda trus nginap di hutan pinus..breng temen" seperjalanan lg..

E ini aslik seru banget
Berasa back to nature
Sepedanya keren ih, ijo, mahal tapi yak huahahah
Wah anin makannya paling ngirit xixiix

jadi pengen ikutan ..., indah sekali viewnya mas...., bener bener my trip my bike :D

Kehujanan, malamnya didngin, wah luar biasa. Jalannya juga naik turun gitu ya.. :))

Untung aja pulangnya naik mobil ya, kalau dituntun trs smpe rumah jam brapa ya :D

itu jam 6 gitu udh ada orng yang kesitu ? tmpat" nya kern2, apalagi panggungnya buat perform bisa tuh.. :D

kalau ikut kuat gk ya.. hehe
btw, kasihan jg si anin ya..

kayanya udara di hutan pohon pinus itu sejuk ya mas?? cocok nih buat yang kerja terus terusan biar otak nya fresh lagi :)
lain kali kalo bersepeda lagi cek lagi mas sepedanya, jangan sampe terulang kedua kalinya tuh ...

Gokilll....
Serasa menyatu dengan alam gtu liburan nya...

Tapi kasian juga si anin sih, agak lecet gtu smpe dibawa ke UGD, untuk ada si pak supirnya yang dngan baik hati memberikan tumpangan. Gk kyak si mas2nya yang cuma nanya lalu pergi. Mungkin dia takut tersesat dijalan, makanya nanya dulu sma kalian trus pergi dengan biadab.

wuiiii lagi lagi jalan-jalan bareng sepeda,,
sebagai pecinta sepeda ane seneng banget liatnya.

jadi pas baca ini sebenernya yang asik bukan hanya menginap di pepohonan pinus, tapi perjalanan menuju kesininya sih ..

ah suka banget, semoga ane bisa gini juga, tapi disni ga ada pohon pinus ..

Iya betul mba.. Dengan sepeda akan lebih terasa perjuangannya.. Apalagi gowes bersama sahabat :)

Memang seru mba.. :)
Iya sekeren harganya mba.. hehe

banyaknya sih sama mba, hanya saja lauknya yang berbeda, jadi harganya terlihat sedikit beda :)

Boleh-boleh :)
Iya betul, apalagi dipagi hari seperti itu selain indah, belum banyak orang yang datang juga :)

Iya mas, luar biasa lelahnya.. hehe
Meskipun jalannya naik turun, tapi asik ko :)

Nah itu dia mas, setiap kejadian tentu ada hikmahnya :)

Iya sudah ada, sebenarnya kalau mau main ke Hutan Pinus. Terutama mau berfoto, kita lebih baik menentukan waktunya terlebih dahulu, mau pagi, siang atau sore. Kalau pagi masih sejuk udaranya, siang panas sore teduh.. :)

Kalau belum pernah kesini, boleh dicoba mas ..

Tentu kuat, kalau capek ya istirahat.
Santai saja diperjalanan, yang penting sampai dengan selamat :)

Iya kasihan si Anin, tapi sekarang sudah semakin mambaik kok :)

Iya sejuk sekali mas Ikhsan, terutama dipagi hari. Betul, sangat cocok bagi yang banyak kerjaan, penat. Setidaknya dengan main ke Hutan Pinus bisa fresh kembali :)

Iya mas, in shaa Allah. Kejadian tersebut, aku jadikan peringatan untuk kedepannya agar lebih hati-hati lagi :)

Iya mas, serasa menyatu dengan alam :)

Iya, aku juga juga sangat bersyukur sekali. Atas jasa dan kebaikannya bapak supir, Alhamdulilah sampe saat ini Anin sudah semakin membaik kondisinya. Semoga lekas sembuh dan bisa bersepeda kembali :)

Karena mas-mas yang sebelumnya tidak menolong, Allah menggantikannya seorang bapak supir yang baik hatinya itu untuk menolong kami :)

Iya mas Khairul, jalan-jalan dengan sepeda itu menyenangkan :)
Terimakasih mas Khairul. Btw, mas Khairul sering gowes juga ya ?

Iya betul juga, selain menginap, perjalanan untuk sampai ke Hutan Pinus ini sangat menyenangkan :)

Aamiin, semoga ada waktu dan rezeki untuk bisa pergi ke Hutan Pinus ya mas :)

lbih baik pagi ya untuk menikmati pemandangannya..terlihat lebih sejuk... itu anin gak parah kah jatuhnya mas?

nekat luar biasa ya, udh jauh, gk ada remnya, tp trbayr ktika smpai di hutan pinus ya ..

Huh fix, tiap baca tulisan yang kayak gini rasanya langsung envy gitu. Pengen bisa ngetrip kayak gini. Huuah! Sama seperti postingan sebelumnya, butuh perjuangan yang luar biasa yak, masih tetep sama sepeda. ckckc. Engga sia-sia juga sih, hutan pinusnya keren gituuu T_T

Spanduk warung makannya lucu banget mas pemadam kelaparan....Asyik banget Gowes rame rame.Saya kapan ya? pengin banget cuma harus belu sepedanya dulu.Izin folow blognya mas

INilah yg namanya Capek yg terbyarkan... hehehe. Eh, saran aja, sih. Buat foto-fotonya coba diedit dulu mas Bro. biar agak kinclong banget. Gue lihat, beberapa foto ada ISO yg terlalu tinggi dan contras yg terlalu hangat.

Semoga temennya cepet sembuh, ya. Eh, itu beneran sepeda bekasnya aja 4jta? BUset...

Gokil abis. wahahaha seterong banget kalian. :D

Saya kok jadi takut ya mas. Bukan apa-apa, saya selalu menolak ajakan teman ke tempat yang agak curam seperti Embung Sriten dll karena rem sepeda kurang pakem dan ban sepeda kecil. Anjuran saya saja sesama pesepeda, kalau bisa gunakan alat kelengkapan dan cek sepeda mas. Modal nekat boleh, tapi masalah keselamatan harus nomor 1.

Iya betul mas, kalau pagi selain udaranya masih segar, lebih asik juga untu jalan-jalan keliling hutan pinusnya :)

Sekarang Anin sudah mendingan sih, sudah bisa kuliah seperti biasanya :)

Iya betul mas, tapi kami berusaha untuk kedepannya lebih hati-hati, karena kejadian kemarin menjadi peringatan buat kami.. :)_

Iya terbayang capeknya mas :)

Agendakan saja mba, seru lho bersepeda, apalagi bisa pergi ke tempat yang sebelumnya belum pernah di kunjungi :)

Iya harapannya trus bisa bersepeda mengelilingi tempat yang bagus nan indah :)

Perjuangannya gak bakal sia-sia setelah sampai tempatnya.. Lebih keren lagi bisa sampai hutannya mba :)

Iya mas, aku juga rasa lucu dan baru tahu juga .. hehe

Bisa di agendakan mas, kalau bisa pinjem dulu juga tidak apa-apa mas, nanti kalau sudah ada rezeki baru bisa beli :)

Silahkan mas, semoga bermanfaat curhata-curhatan di blogku ini :)

Terimakasih sebelumnya mas Dwi :)

hehe.. iya mas capeknya sudah terbayarkan :)

In shaa Allah mas, terimakasih sarannya ya :)

Aamiin, sekarang sudah mulai baikan kok, sudah bisa berangkat kuliah juga :)

Iya itu benar mas bekasnya saja 4jt, beruntung aku bisa merasakan bersepeda dengan si Fijo :)

hehe.. iya mba, setrong yang terbayarkan dengan keindahan Hutan Pinus :)

Saya juga kadang seperti itu mas, kalau ke tempat seperti Embung Sriten sepedanya harus benar-benar sehat, terutama ban dan remnya, karena itu sangat penting :)

Terimakasih mas atas sarannya, kejadian kemarin aku jadikan peringatan agar kedepannya bisa lebih dipersiapakan lagi :)

wiiiih... asik bener punya tempat asik kayak gitu, taman2 yang ada di tempat ku keliatan keciiiiil banget... jadi malu :( posting2 taman di blog.. ternyata diluar sana bagus bangeeet sangat

Gowes memang sangat seru ya kang selalu menyimpan cerita dan pengalaman baru soalnya kemarin kemarin saya pernah gowes ke gunung dikota saya dan seru sekali pengalamannya.

Gowes ke tempat seperti itu ngeri jg ya, jalnnya itu loh. apalagi gk ada remnya.. apa gk takut bang ?
kasihan jg si Anin tuh.

untng ada BPJS ya bang, jd gk ngluarin uang.. :D
cpet smbuh temennya bang..

Keren perjuangan dan pemandangannya (y)

Iya nih mas :)
Meskipun kecil tapi tetap indah mas.. Karena setiap tempat tentu berbeda-beda, tapi memiliki keindahan tersendiri :)

Iya betul kang, tentu sangat seru dan selalu ada cerita dibalik kelalahan yang kita alami :)

Oh yah, wah keren mas,ke gunung saja bersepeda :)
Btw, gunungnya gk tinggi apa kang ? kok bisa menggunakan sepeda ?

Iya mas, tapi seru.. :)
Tapi sudah mendingan kok Anin, sudah bisa bersepda lagi :)

Hehe.. Iya nih mas, untung saja ada BPJS.
Aamiin, sudah mendingan kok Anin nya juga :)

Iya bang :)

keren2 fotonya ma, puas liatnya.
itu pake fixi melahap medan yang menantang mas, gak kebayang :)

Waaah, seru ya, Mas, sepedaan ke hutan pinus. Saya pernah ke Mangunan, tapi tidak ke hutan pinusnya. Mantap itu, Mas, nginap trus dapet deh pemandangan indahnya di waktu pagi. Hehehe, itu topi Maman yang ketinggalan ketemu ya :) Tapi, pulangnya Anin pake acara jatuh segala. Beruntung tidak parah ya, Mas. Sungguh perjalanan yang berkesan itu, Mas Andi.

Makasih mas :)

hehe... Jadi buat pengalaman maen ke Hutan Pinus dengan fixie :D

Iya pak, seru :)

Padahal sudah dekat ya pak dari Mangunan ke Hutan Pinusnya..hee
Karena waktu sudah malam jadi kami menginap, dan Alhamdulilah dapat pemandangan yang indah :)

Iya pa, untungnya topinya Maman masih ada, dan itu berarti masih miliknya Maman..hehe

Iya pas pulang Anin jatuh, tapi kami jadikan peringatan dan pengalaman kejadian itu pa. Dibalik itu semua pasti ada hikmahnya :)

Sangat berkesan, karena baru pertama kalinya ke Hutan Pinus, dan itu bersepeda :)

Wah mantap ini benar" blog niat sekali mas... Mantap panjang dan lengkap, wah seru y semoga persahabatannya langgeng mas... Semangat terus mas,,, semoga Allah berkahi mas andi aamiin....

aamiin, terimakasih mas Angki, semoga Allah juga selalu memberkahi mas Angki :)

Iya seru, selain pemandangan indah, penuh perjuangan juga :)

Kasian amat, nggak diajak jalan, tau2 fotonya udah di upload, sing sabar mas, hahaha...

Tempatnya asli keren banget, sayang di Depok belum ada hutan pinus, adanya angkot ama perumahan mas, hahaha..

Itu orang-orang yang liatin si Anin jatuh, mirip mantan ya, melihat dan berlalu begitu saja. #Eaaaa...

Saya berasa diajak jalan-jalan di dalamnya.
Very nice post.

Haha.. iya mas.. Tapi sekarang Alhamdulilah sudah bisa berfoto sendiri :)

Iya mas, keren, aku juga jadi gak penasaran sesudah kesana :)

Hehe.. Angkot banyak ya di Depoh, kalau di Yogyakarta tidak ada angkot mas.. :D

Duuhh, disamain seperti mantan mas .. #Eaaa.. #Eaa..

Terimakasih mas Hendra :)

seriously? ke hutan pinus sepdaan? ya ampunnn keren banget dehhhhh sehat banget badannya ya mas.. akudri dulu pengen ke pinus engga kesampean, cuam bisa gigit jadi lait foto foto ini, pengen kesitu juga

Sintiiiiing. Itu kalo gue udah dijamin betis langsung sixpack. Gile deh, tapi seru sih soalnya ada temen yang sama-sama sintingnya. Sampe nginep dan tetep lanjut anjir. :))

Anwyway, kayaknya baru pertama kali main ke sini deh. Salam kenal ya. \:D/

Serius :)
Sepedahan ke Hutan Pinus belum secapek ketika bersepeda ke Pantai Ngunggah (bisa dibaca di ling judul diatas "Menelususi Pantai Ngunggah dengan Sepeda)...

Alhamdulilah sehat mah harus :)

Nunggu waktu saja mba, mudah-mudahan dilain waktu bisa :)

Gue sendiri kebetulan gak sakit betisnya, mungkin saja karena seringnya bersepda dengan jarak yang lumayan :)

Sudah dipertengahan lebih soalnya bang, jadi mending lanjut sampai Hutan Pinusnya :)

Pertama kalinya memang betul, karena baru kesampaian kesini, Alhamdulilah :) Dan itu dengan sepeda. :)

Salam kenal juga :)

Untung masih ada yg mau nolongin ya.. btw kaki langit yg di gapura hutan pinus itu apa maksudnya?

Jadi kepengen ikuta tour bicycle dah...hahhaaa

Pengorbanan bisa sampai ke hutan pinus pake sepeda luar biasa sekali yaa..

Itu kayaknya saking ngebetnya pergi ke hutan pinus sampe-sampe bermalam disana hihi
Padahal kalo berangkat pagi bisa sehari pulang pergi 😁

nano2 banget mas pengalamannya, tapi seru banget..btw saya suka spot yang seperti panggung di hutan pinus itu, unik :)

Gilak mas :D ke pinus, sepedaan ._. itu capek sih, tapi seru dan penuh kesan ya mbak. Soalnya bareng temen sih :D hihiih mantaaaplaaah Mas :D

Iya May :)
betul, selain pegen, penasaran juga :)
Iya sebenarnya gitu, tapi karna teman-teman yang lain belum bisa jadi terpaksa sore :)

Iya mba, Alhamdulilah masih ada yang nolong :)
kaki langit yg mana ya mba ?

Iya mba, unik itu panggungnya..
lebih dari nano2 mba, seru dan penuh perjuangan :)

Makasih mas Febri :)

lhoo kok itu mbak :(

Ayo ikutan mas.. :D

Buset mas Andiii *geleng2*
Pertama ini postingan panjang banget! Tapi gue habis bacanya, soalnya emang asik banget perjalanannya. Berani banget sepedaan ke sana dengan persiapan yang boleh dibilang apa ada nya, salut mas. Tapi itu kasian temennya sampai sakit hahaha...

Kedua, gue mikirnya ini hutan pinus di Bandung itu, tapi di Jogja ada juga, kok gak tau ya? ._." Ahh gue kudu kesini, harus banget kalau ke Jogja selain ke danau biru itu hehe

Ketiga. btw kalau fijo gak dipakai lagi, gue siap mas dikasih! :'v
Keren banget fixie nya, dikasih body nya aja juga gak papa kok gak papa hahhaa

Ih, asik banget sepedahaan! Udah lama nggak naik sepeda :( Udah nggak punya sepeda juga sih di rumah :/

Hutan pinus ya.. Hmm. Semoga kapan kapan bisa ke sana. Keliatan bagus bgt hihi

Ceritanya lengkap banget!

Kenapa mas Adit, kok geleng2, gak pegel tuh kepala :D

Makasih mas Adit sudah meluangkan waktunya untuk membaca hingga selesai :) Iya mas, tapi Alhamdulilah temanku sekarang sudah baikan. Malah kemarin BBM ngajak sepedahan lagi. Sepertinya dia ketagihan..hehe

Ada mas di Jogja juga. Boleh juga kalau ke Jogja mampir ke Hutan Pinus mas, biar gak penasaran :)

Hehe.. masih dipake untuk keliling sehari-hari mas Adit..hehe
Btw, mas Adit juga punya fixie ya, sempat aku lihat di video youtubenya mas. Baru semalam aku menjelajah youtube mas Adit. Keren (y)

Iya mba, asik dan menyenangkan :)
Itu juga bukan sepedaku, tapi Alhamdulilah masih bisa bersepeda. Kalau sudah ada rezeki pengen beli lagi buat pengganti si Eni yang hilang :) Si Fijo ini sementara bisa buat pengganti :)

Aamiin, semoga cepat ke Hutan Pinus ya mba. Biar bisa mengabadikan foto disana :)

Terimakasih mba Nikmatun Aliyah Salsabila :)

Buset dah, lu niat amat ke hutan pinus aja genjot pake sepeda gitu.

Oh, ini toh hutan pinus yang sering nongol di tipi-tipi itu. Bagus yah

waw keren,aku pernah ke hutan pinos tapi tempatnya di malino hehehe

Iya mas, karena segala sesuatu perlu dengan adanya niat.. hehe
Iya mas, Hutan Pinus yang sedang buming itu, kapan maen kesini ? :D

Oh, beda tempat ya mas :)
Hutan Pinus gak hanya di Yogyakarta saja ya..

Tempatnya bagus, jadi pengen ke sana. Tapi tentunya tidak mengikuti jejak admin dengan naik sepeda.

mantap banget dah ni petualangannya :D
kalo gue di jogja temenin yak, kesana :D

Iya mba, mudah2an segera kesana :)

Iya jangan mengikutiku dengan sepeda, pokoknya jangan ditiru kalau belum siap..hehe

Iya mas, mantap dan penuh perjuangan :)
Hehe.. Boleh2 mas :)

Btw, tinggal dimana mas Salaminzaghi ?

Jadi ini toh hutan pinus yang ngehits itu...
Disini masih hutan jati yg hits hehehe

Ceritanya panjang banget, Mas. Gila nih, ada kali 20 menit buat baca ginian. Wakakak. Seru juga yaaa. Apalagi pas sampenya malem gitu terus nginep. :D

Oiya, ini beneran ada di Bantul? Ya, Allah. Kampungku iki. Udah lama gak pulang kampung, gak tau ada tempat sebagus ini. :')

KAyaknya cocok nih buat backpackeran disini.

Iya mba, boleh mampir kalau lagi liburan ke Yogyakarta :)
hehe.. hutan jadinya tak kalah kerennya juga ya...

Iya mas Yoga, tapi perjalannya lebih capek dibandingkan bacanya.hehe. Btw, thank sudah baca mas :)

Oh, yah. Mas Yoga orang Bantul juga toh. Lah sekarang dimaana. Jakarta kah ?

Kalau pulang keliling langsung mas, buat eksplor..

Waa.. emang bener, pasti selalu ngaret dari jadwal yang direncanain. Bacanya ikutan kesel kwatir waktu si Anin duluan ke hutan Pinus. Apalagi waktu jatuh. Ternyata orang yang selalu penuh persiapan bisa kena musibah juga..

Disitu yang paling narsis kamu ya Di.. ?? Hahahaha

Keren ya hutan Pinus nya sekarang ada semacam panggungnya :)

Serasa ikutan disana juga ih saking detilnya. Dari bulan lalu pengen banget beli sepeda yang ada keranjangnya buat ke kampus, pas liat Fijo, jadi tambah pengeen!

Iya mba, ngaret sepertinya jadi hal yg biasa :(
Benar, kami bertiga juga kesel pas Anin ninggalin ke Hutan Pinus duluan..

Yang penuh persiapan tidak melulu selalu beruntung. Dan yang namanya musibah kita semua tidak ada yang tahu. Dari kejadian tersebut aku jadikan pelajaran buat kedepannya..

Haha.. iya aku paling narsis, habis yang lain difoto pada gak mau, apalagi Maman pegnennya moto aja, aku kan jadi seneng.. wkwk

Iya betul, dipanggungnya bisa tuh buat perform :D

Hehe.. gimana rasanya mba seneng ? Bisa ikutan ke Hutan Pinus :D
Aku di rumah juga punya sepeda yang ada keranjangnya, lebih bagus buat perempuan. Selain keren, bisa buat menyimpan barang2.. Berupa buku dll :)

Beli aja mba, jangan kalah sama si Fijo :)

Byuh baca ini udah kayak novel. Tapi sensasinya seru juga liburan naik sepeda dan menginap di hutan pinus. Salam buat FiJo hehehe..

Hehe..iya seru mas..penuh perjuangan 😁
Iya nanti disalamkan sama Fijo 🚴 😀

Berasa pernah ngerasain bermalam dihutan pinus abis baca ini cerita....
Emang mantap ya kalo bisa bareng temen jalan2 naek sepeda ke bukit jauh dari perkotaan.... Ggggerrr banget rasanya...

buset...nginep dihutan pinusnya panjang banget ya...hadeuh

Hehe.. Kalau merasakan nginep sendiri bakalan lebih seru mas Adhi :)

Iya betul mas, susah senang serta perjuagnannya lebih terasa :)

Kapan-kapan sepedaan ke Candi Sambisari ya, Mas, hehehe...

In shaa Allah pak, nanti kalau mau kesana saya kasih tahu terlebih dahulu :)

tempatnya bagus banget, sayang jauuuhhh dari lampung hikhik

Iya mas Agus, meskipun jauh tapi tak sia-sia kalau sudah sampai sana :)

huaaa naik sepeda..
aku naik motor dari kota jogja aja capek sampai sana
heuheuheu

Hutan pinus ya ?? ane pernah'e ke yang di Magelang itu mas ( top selfie ) Hehehe..
tapi kalau dilihat di DLingo pohonya lebih rimbun ya ?? :D
bisa masuk ke list nih kapan-kapan dicoba. Hehehe

Iya mas..aku malah belum ke yg di Magelang..pgen juga ke yg di Magelang..

Iya masukin list aja mas..he

Kalau gue pasti ketagihan juga, gak masalah cape tapi hasil akhir nya itu loh haha :v

Haha iya bang, entar ajak gue ya kalau ke Jogja nya agak lamaan haha.

Wah bukan bang Andi, itu sepede yang punya cafe. Pinjem doang kemarin pas mau bikin video hihi

Iya mas, rasa cepeknya bakal terbayar lunas dengan keindahan Hutan Pinusnya :)

hehe. in shaa Allah mas :)

Oh gitu, tapi itu fixienya bagus juga lho mas. Cafenya juga keren, sangat cocok untuk ngeblog ya mas :)

Sky tree-nya keren iih. Tapi rata-rata hutan pinus punya sky tree yak. Jadi bisa naik dan mengamati dari ketinggian.

Iya mba, betul hutan pinus memang punya sky tree :)

Apalagi dipagi hari pemandangannya terlihat keren :)

Sebelumnya salah kenal nih sob saya dari tasik, eum mau tanya nih habis berapa hari buat artikel selengkap ini sob ? saya salut nih kalau saya mah gampang pegel kalau ngetik artikel panjang :-)

Btw bagus juga sepeda yang kau punya sob :-) kapan-kapan kalau nginep lagi ajak-ajak dong ah biar lebih seru ;-)

Salam kenal oge kang Effendi. Kita tetanggaan lho. Aku dari Ciamis kang :)

Kalau waktunya luang mah bisa sehari juga kang, tapi kalau lagi ada kegiatan biasanya di tunda sampe dua atau tiga hari kang..

Hehe.. Itu sepeda teman kang, bisa dibaca lebih detail lagi soal siapa pemilik sepeda itu.. hehe..

Hehe.. Boleh kang :)
Aku penasaran pengen eksplor Tasik juga nih :)
Boleh kapan2 diajak keliling kalau maen ke Tasik kang :)

Whawha.. gak nyangka kang andi bloger ciamis :-) padahal saya juga suka main lhoo kang ke alun-alun ciamis di taman raflesia :-)

wah hebat ya 1 hari aja beres kalau santai :-)

Ohaha kirain punya kang andi, maf kang mungkin karena artikelnya panjang mata dan bibir saya lelah dan keburu lupa :-D

Wahwah boleh juga tuh kang ayoo main ke tasik, deket ini kok ;-)

Iya kang, tapi aku Ciamisnya daerah Lakbok. Tahu kan. Hanya kabupatennya saja Ciamis :)

Hehe.. Iya gak apa-apa kang. Sepedahu "Eni" ada yang pinjam dan sampai saat ini belum dikembalikan :(

In shaa Allah nanti kalau maen di hub kang :)

wah seru dan bagus banget. Dari dulu pengen main ke hutan pinus belum keturutan. Semoga bisa main kesana kapan-kapan hehehe

Salam kenal
mind to follow me back?
Dream Big!

Iya mba semoga segera bisa maen ke hutan pinus :)

Salam kenal juga :)
Sudah ku follow blognya..

gilaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkk berasa baca novel gw, panjang benerrrrrr, hahahahhaha. kemarin gw juga sempet kesini, next postlah gw bahas. btw kok gw gak menenumkan itu si tempat yang tinggi bgt yaaak?

ceritanya panjang..tapi yang saya salut adalah, Mas Andi dan kawan-kawan tak lupa sholat meski dalam perjalanan, meski niatnya jalan-jalan. jarang ada yang seperti ini di jaman sekarang ini.
semoga selalu istiqomah ya Mas-Mas.. :)

Aduhh jadi pengen cepet-cepet tinggal di yogya :D

Terimakasih buat yang sudah mampir untuk menyempatkan membaca coretan, diary, unek-unek di www.andinugraha.com

Silahkan tinggalkan komentar kamu dibawah ini, jangan berkomentar tidak sopan, jangan berkomentar yang mengandung unsur SARA. In shaa Allah aku sempatkan untuk membalas satu persatu.

Sahabatmu,
Andi Nugraha
EmoticonEmoticon