September 14, 2016

Semarak Qur'ban, Sate dan Tongseng Jadi Menu Andalan Anak Kost


www.andinugraha.com - Idul Adha kali ini aku belum bisa di rumah. Lagi-lagi masih di perantauan. Tapi justru di perantauan lah kami bisa merasakan kebersamaan untuk mengolah daging qur'ban. Entah itu di sate ataupun di bikin tongseng, semua prosesnya secara bersama-sama.

Senin pagi aku, Endro, Mukhlas, dan Mugni pergi ke lapangan untuk sholat Idul Adha. Dari kost, kami hanya beberapa orang saja,  berbeda dari tahun sebelumnya. Karena di tahun ini, Idul Adha masih ada dihari libur kuliah. Jadi wajar saja, sebagian teman-teman belum datang semua ke Yogyakarta. Sengaja aku menyiapkan sajadah untuk sholatnya. Di tahun-tahun sebelumnya aku tidak membawa karena pikirku sudah di sediakan sadajah.

Memang sudah di sediakan, namun tidak semuanya kebagian. Karena banyaknya warga yang sholat di lapangan. Terlebih lagi anak-anak kost sekitar yang banyak juga sholat di tempat tersebut. Sudah dua kali aku merasakan sholat dengan beralaskan koran di jalan aspal. Maka dari itu, di tahun ini aku tidak mau seperti itu lagi.

Tidak jadi masalah sajadah kotor, toh bisa juga dicuci. Suasana sholat sangat ramai sekali. Waktu dimulainya pun rata-rata di Yogyakarta pukul 06.30, bahkan masih ada juga yang baru berangkat. Sedangkan di tempatku biasanya pukul 05.30 atau pukul 06.00 sudah siap-siap untuk berangakt ke Masjid.

Sepulang dari shola, entah kenapa naluri narsis Endro muncul. Biasanya setiap aku dan Endro gowes ada kalanya semangat untuk foto ada juga tidak sama sekali. Tapi kali ini Endro ingin sekali foto, mau tidak mau aku fotokan.


Gayanya seperti model saja. Selain gaya seperti itu ada juga gaya-gaya yang lainna. Mulai dari menghadap ke belakang, ke depan, samping hingga foto seperti layaknya foto KTP juga ada. Entah kenapa naluri narsisku juga muncul setelah beberapa kali melihat endro narsis. Waktu itu aku langsung masuk kamar, pake jaket lagi, pake peci dan foto. Padahal tadinya kurang semangat untuk foto tapi karena ketularan Endro jadilah ikut.


Memang foto atau dokumentasi aku rasa penting. Selain bisa melihat momen atau pakaian yang aku gunakan ini. Suatu saat jika kangen dengan suasana Idul Adha bisa melihat fotonya kembali. Malahan aku sendiri megnajak Endro pergi ke lanti 3 hanya sekedar untuk foto. Awalnya aku kira bagus, tapi karena ada sinar matahari jadi tak begitu jelas.


Diatas terlihat berantakan, karena sebelumnya belum dibereskan. Sedangkan satu hari sebelum hari H Idul Adha baru dilantai satu saja yang dibereskan. Tapi meskipun seperti itu aku tetap mendokumentasikannya. Backgroundnnya masjid Al Munir. Dimana setiap sholat kami ke masjid tersebut. Dekat sekali jaraknya, hanya dibelakang kost.

Sebenarnya foto diatas tidak seberapa, tapi kalau dikumpulkan kurang lebih 50-an foto. Bisa dilihat seperti foto dibawah ini. Banyak gaya yang menurutku sama, hanya saja senyumannya yang berbeda. 

Tapi itu juga belum seberapa dibandingkan kalau kami main ke tempat yang asri, indah dan belum pernah di kunjungi sebelumnya, gunung juga demikian. Terakhir gowes ke pantai Ngunggah kami mengumpulkan 300 foto lebih. Pernah juga ke curug Cimandaway aku sampai habis 5GB. Tapi itu sudah lengkap, mulai dari foto dan video.

Setelah selesai kami istirahat sembari menunggu giliran dipanggil untuk mendapatkan dading Qur'ban. Karena setiap tahun kami selalu mendapatkan jatah. Kebetulan kami tidak ikut melihat proses penyembelihan. Kami hanya menunggu sampai jadi. Pukul 14.00 barulah pengumuman untuk mengambil daging di umumkan.

Setelah Mukhlas mengambilnya kami mulai untuk mengolahnya setelah sholat Ashar. Kami hanya 7 orang. Meskipun sedikit kami tetap mengolahnya menjadi makanan yang lezat ala anak kost. Dengan 7 orang itu kami bagi tugas dengan rata. Ada yang membersihkan dagingnya, motong daging kemudian ditusuk. Karena kami semua membuat sate dan rencana ingin membuat tongseng juga. Aku sendiri kebagian membeli bumbu untuk sate dan tongseng ke pasar.

Aku sengaja berangkat ke warung yang dekat terlebih dahulu. Sesampainya disana aku sampai kesusahan palkir motornya. Saking penuhnya, setelah masuk aku melihat banyak sekali orang membeli tusuk sate, arang, alat untuk memanggang sate. Intinya peralatan untuk nyate semua.

Benar-benar menguntungkan kalau orang yang bisa memanfaatkan momen Idul Adha ini dengan menjual peralatan yang ada kaitannya dengan daging. Aku sendiri tidak terlalu banyak yang akan dibeli. Berikut catatannya;


Diwarung aku hanya mendapatkan bawang merah, bawang putih, tomat dan kecap. Jadi aku harus mencari jeruk nipis dan cabe rawit serta bumbu tongsengnya. Awalnya bingung, tapi aku teringat untuk pergi ke pasar Gading yang biasa jadi langganan saat hari-hari biasa masak di kost. Sesampainya disana penuh juga. Memang di momen Idul Fitri seperti ini harus sabar dan antri ketika pergi ke pasar.


Di pasar Gading ini ada dua lantai, di lantai satunya saja sudah terlihat penuh dan aku hanya mendapatkan jeruk nipis saja. Sedangkan cabe rawit dan bumbu tongsengnya ada di lantai dua. Ingin rasanya aku cepat-cepat pulang setelah mendapatkan apa yang akan aku beli. Tapi terlihat dari kejauhan ramai sekali orang yang mengantri di lantai dua.


Di lantai dua bukan main ramainya, melebihi di lantai satu. Setiap sudut toko ini penuh sekali dengan orang yang membeli bumbu-bumbu dapur untuk masak. Mulai dari bumbu tongseng, rendang, gulai dan tusuk sate sekalipun tak ketinggalan. Dan kebanyakan ibu-ibu, aku sampai capek sekali berdiri. Mungkin ada setengah jam lebih aku mengantri, awalnya aku berdiri dari kejauhan sembari melihat-lihat cabe rawit dan bumbu tongseng, tapi tak kelihatan karena penuh dengan orang. Mau mendekat belum bisa. Masih ramai orang-orang yang ngantri.


Jujur saja, aku sebenarnya sedikit malu karena banyak sekali perempuannya. Aku merasa tidak PD untuk belanja. Setelah satu per satu keluar dari pasar. Aku langsung menyerobot tempat yang waktu itu ada bapak-bapak yang sedang antri juga. Namun disitu masih lama antrinya.

Setelah bapak penjual dibantu oleh anaknya, sedikit cepat terbantu para pelanggannya. Kebanyakan ibu-ibu yang belanja mengeluarkan uang lebih dari 100 ribu untuk belanja. Tapi wajar menurutku, kalau di rumah aku melihat ibuku juga belanja sampai banyak. Meskipun pada waktu itu belum diperlukan, tapi ibu sudah mempersiapkannya untuk esok harinya.


Lega rasanya setelah aku mendapatkan apa yang aku beli. Sesampainya di kost teman-temanku banyak yang bertanya sembari menyindir. "Pasarnya pindah ya ?", Mungkin mereka heran karena aku belanja sampai lama sekali. Setelah aku jelaskan mereka baru paham. Padahal tak begitu banyak yang aku beli, tapi habis antriannya membuatku capek.


Dibawah ini total semua bahan-bahan atau bumbu yang aku beli di warung dan pasar Gading;

Bahan Yang Dibeli
Harga
Bawang Merah
Rp. 2.500,-
Bawang Putih
Rp. 2.500,-
Cabe Rawit
Rp. 2.000,-
Jeruk Nipis 2
Rp. 2.000,
Tomat 2
Rp. 1.000,-
Bumbu Tongseng 2
Rp. 6.000,-
Kecap 2
Rp. 6.000,-
Jumlah
Rp. 22.000,-

Ketika sampai kost, teman-teman belum selesai. Mereka masih membakar satenya secara bergantian. Terlihat ramai, tapi tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Satu tahun yang lalu kami lebih seru lagi, memasak nasinya saja sampai 3 magicom, itupun masih kurang. Namun kali ini kami memasak nasi 2 magicom dan yang satunya magicom besar.


Selain membakar sate, ada juga yang mempersiapkan piring, dan ada juga yang membuat sambalnya. Cabe rawit yang aku beli dua ribu semuanya di sambal. Belum juga mencicipi aku sudah mengira sambalnya akan pedas. Dari baunya saja sudah terlihat.


Waktu itu kebetulan ada dua orang yang datang ke kost, mereka semua teman Mugni yang kamarnya di lantai dua. Sekalian kami ajak untuk nyate. Selain tambah orangnya, jadi ramai juga suasana kebersamaannya.


Kami sengaja menggunakan kipas, agar tidak capek mengipasinya. Bagaimanapun caranya anak kost harus kreatif. Alat untuk memanggang satenya pun kami tidak beli ataupun punya. Kami membuatnya dengan sederhana dari batu bata. Ketika aku ke warung tadi banyak sekali orang-orang yang membelinya.

Untuk tusuk sate dan arengnya, Alhamdulilah kami masih punya sisa nyate tahun kemarin. Karena isinya banyak jadi kami simpan untuk keperluan nyate lagi. Begitu juga dengan arengnya, mungkin setelah nyate kami berfikir untuk tidak mengguankannya lagi lalu dibuang. Kami tidak begitu, tidak penting sekalipun di waktu itu, suatu saat pasti akan perlu dan digunakan.


Inilah sambel yang kami buat, selain kacangnya yang menggoda, cabenya juga terlihat merah dan akan terasa pedas. Tak lupa juga untuk mengecek magicom apakah sudah mateng atau belum nasinya. Nasi yang aku masak di magicom yang disimpan di kamar sudah hampir matang sebentar lagi.

Sedangakn di magicom yang satu lagi yang disimpan diluar ketika dilihat masih belum matang sama sekali. Ternyata tombol ONnya belum di pencet. Waktu itu juga kami bersorak kepada salah satu teman yang menanak nasi dengan magicom itu.
Mungkin lupa, pernah juga aku dan Endro mengalami hal seperti itu. Tapi dari situlah aku belajar. Setiap menanak nasi dengan magicom harus ingat ada satu tombol yang harus di pencet agar nasinya matang. Setelah itu, barulah dinyalakan dan menunggu lama lagi untuk matangnya nasi. Kebetulan satenya sudah matang semua. 

Tak lama suara adzan Maghrib sudah berkumandang. Jadi sate kami simpan terlebih dahulu kamudian kami semua melaksanakan sholat.


Cukup banyak jadinya sate yang kami bakar. Padahal di ember masih ada banyak daging sapi yang belum di olah. Tadinya mau sekalian dibuat tongseng, tapi takutnya tidak kemakan dan nantinya akan mubajir. Jadi kami simpan terlebih dahulu.


Terlihat sedikit gosong sebagian satenya, tapi percayalah jika dimakan bersama-sama pasti akan tetap terasa nikmat. Karena dengan kebersamaan makanan sedikit pun jadi cukup.

Setelah selesai sholat Maghrib kami masih menunggu lama nasinya. Tapi kami gunakan untuk istirahat terlebih dahulu sembari menunggu sholat Isya. Setelah itu, barulah melihat nasi. Setelah Endro cek ternyata sudah matang.

Dia langsung berteriak, "Ayo, makan-makan, waktunya makan". Dengan begitu kami semua berkumpul dan bersiap makan. Karena piring yang kami punya ada yang pecah dan hilang entah kemana. Aku membeli kertas nasi ke warung untuk pengganti piring.

Tapi teman-teman memilih untuk di gelar secara bersama. Jadi makannya seperti anak santri. Jika kalian anak santri atau pernah nyantri pasti tahu dan pernah mengalaminya.


Bermula dari magicom yang kecil, kemudian di tumpahkan nasinya semua untuk ditaburkan diatas kertas nasi. Sedikit susah karena panas. Kemudian kami simpan juga sate dan jangan lupa lumuri dengan bumbunya.



Awalnya kami kira tidak pedas, sekali dua kali kami makan tetap nikmat tapi setelah beberapa kali, Umar kepedasan. Dan tak kuat sehingga meminta minum dengan muka sedikit merah. Memang aku akui sambalnya pedas. Bagi yang suka pedas mungkin tidak masalah. Tapi dari kami semua hampir merasakan pedasnya sambal.


Meskipun terasa pedas, tapi kami semua berhasil menghabiskannya. Malahan kami kekurangan nasi, sehingga menambah dari magicom yang satu lagi. Nasi yang baru di tambahkan, masih panas. Tak kebayang kan, sudah panas, pedas. Beuh, apalagi kalau minumnya air panas, pasti akan terasa bergetar tuh bibir.


Tak lupa juga setelah selesai kami membereskan bekas makannya. Mencuci piring, gelas dan yang lainnya. Sengaja kami langsung membersihkannya, tidak disimpan ditumpukan cucian piring. Karena kalau tidak langsung dicuci nantinya akan terasa malas dan ketika ingin menggunakannya lagi kita tentu akan males karena harus membersihkannya terlebih dahulu.


Keesokan harinya barulah kami memasak tongsengnya, karena sudah membeli bumbunya jadi akan terasa mubajir kalau tida dimasak. Tapi yang masak tongseng kali ini tidak banyak, mungkin tidak semuanya suka. Dan cara masaknya juga lebih cepat, karena tidak membutuhkan waktu seperti halnya nyate. Harus menusuk daging terlebih dahulu, mengipas dan yang lainnya.

Karena waktu itu masaknya sore, setelah Maghrib barulah tongseng ala anak kost selesai dan siap disantap untuk makan bersama. Seperti inilah penampakan tongseng dan nasi yang aku makan.


Backgorund nasi dan tongseng di atas bukanlah editan, tapi itu tulisan di dinding kamar kostku. Selamat Hari Raya Idul Adha :)

Artikel Terkait

Founder DiaryMahasiswa.Com Hobinya Jalan-jalan, makan, bersepeda dan membaca | Penulis 5 Judul Buku | Bisa dihubungi : PIN : D097B234 | SMS/WA 085723741831

52 Komentar dari sahabat Andi Nugraha

Wah, senangnya bisa kompak dengan penghuni kost yang lain. Emang seru kalau acara masak bareng trus dilanjut makan.
Apalagi makannya di satu tempat yg sama. Kental banget kebersamaannya.
Jadi inget masa-masa ngekost dulu..belasan tahun silam, hehehe.

Eh busyet ke curug doang bisa 5 giga ?????
Gw jalan 9 hari, cuman habis 8 giga doang lho hahaha

Asyiknya makan sate rame2 begitu ya, langsung tandas itu nasi xixixi

Haahh ngga ada meja ni mas, jadi makannya di lantai? Tapi asyik juga ya, belanja sendiri, masak sendiri kemudian dimakan bareng-bareng, pasti rasanya luar biasaaa *khas anak kos :)

sampai saat ini jatah daging kurban saya belum diapa - apain mas. masih beku. bikin sate ide bagus juga nih

Iya mba Ety, karena kekompakan itu yang paling penting. Apalagi disaat saling membutuhkan.. hehe

Iya jadi lebih nikmat hasil masakan sendiri.. :D

Wah noastalgia ya mba, sudah lama juga ya 11 tahun silam.. he

haha.. iya om cum, gue juga gak tahu,, tp stiap video yg gue gunakan di HP itu memang besar resolusinya.. untuk satu menitnya aja bisa sampai 100 MB... :D

haha... iya bu, tandas karena pada lapar sih.. :D

Iya gak ada meja mba, dan piring juga kurang.. hehe
jadi mending di lantai seperti anak santri ceritanaya.. :D

iya rasanya kamnyus, biasanya di hari2 biasa juga seperti ini mba, cuma kalau hari biasa tidak semuanya makan bareng. Tapi kalau momen seperti ini pasti kumpul bareng.. :)

wah iya itu mang, di sate aja, atau di tongseng yang lebih cepat dan gampang.. :D

Kompak banget anak kost ya, masak dan makan sendiri.. Meskipun tak ada perempuannya harus tetap bisa masak ya :)

Sya lbih suka sate sih, tpi klo kseringan juga gk enak. Klo tongseng sya blum prnah cobain, cuma sring liat di iklan2 gtu. Hehe

Hore, makan2 ala2 mahasiswa nih, sya biasanya mkan kyak gtu diatas gnung klo lagi mndaki itupun alasnya pke daun pisang.

Kbrsamaannya mmng krasa bnget, apalagi beli bahan sama2 trus masak sama2. Kren (y)

Oiya, bdw orang mana nug? Sya liat nmanya ada "andi" nya kyaknya orang sulawesi ya?

mantap kekompakannya, harus dilestarikan :-)

wah seru juga ya mas makan sate rame" keceh dah.... suka hasil nyatenya keliatan mantap... hehe... semoga makin sholeh mas Andi aamiin

Masih belajar sih kalau masak.. Hee
Tapi ya selalu ada yang di ceritakan kalau setiap idul adha 😊

Ko gak di gulai aja mas.. hehe
Gak suka tah :D

Lebih enak disate kalau aku mas, apalagi makannya pake nasi anget dan sambal kacang.. wuih, jadi lapar.. haha

Asik juga ya kalau makannya rame-rame seperti itu, kalau makanannya enak tapi makannya sendiri seperti ada yang kurang..:D

Di sate memang nikmat bang,, betul, kalau keseringan lidahnya jga akan menolak.. hehe Bosan sih.. :D

Kalau di gunung juga sama bang, biasanya ya mie lagi mie lagi, tidak jauh dari makanan anak kost.. hehe

Betul, dengan masak bersama, makan juga bersama, maka akan terasa dekat dan seperti layaknya kelaurga bang..

Bukan bang, aku asli dari Ciamis, asli sunda. Sebenarnya namaku juga tidak asing dari sundanya. Lengkapnya Encep Andi Nugraha. Tapi selama merantau di Yogyakarta aku lebih di kenal dengan Andi Nugraha. Begitu juga dengan nama di beberapa bukuku..

Semua akunku juga atas nama Andi Nugraha :)

Siap, itu mah harus. Selain sama teman2 kost yang sudah lama. Begitu juga dengan teman2 kost yang baru :)

Iya seru sekali mas Angki, emang mantep.. hehe

Aamiin, terimakash mas Angki.. :)

Gak mas Faisal, karena teman2 yang lain tidak ada yang mau. Dan biasanya ketika idul adha kami tidak pernah neko2 untuk menu makannya. Cukup sate saja..hee

Iya betul mas, disate juga sudah cukup dan nikmat.. hee

Wah jadi pgen makan lagi mas malem2 gini..hee

Iya betul mas, kalau makan rame2, makanan biasa pun jadi enak dan nikmat.. hehe

buset, ada daftar harga bahannya :D

menyenangkan sekali bisa nyate bareng-bareng. Liat satenya bikin ngiler bang, tanggung jawab nih -_-

Tahun ini aku melewatkan nyate karena ada acara ahahhaha

Haha.. sini bang, nyate bareng aja .. :D

Iya sengaja di data, setiap kami maen juga pengeluaran sebisa mungkin didata mas, karena pengeluaran yang besar kita juga harus tahu apa saja yang dibel..hee

Wah sayang sekali mas, saking pentignya ya mas acaranya.. hehe

Luar biasa itu pesta satenya, Mas, mantapss...
Berarti tempat kostnya tidak jauh dari pasar Gading ya, Mas?

Aduh bikin ngiler saja itu satenya mas, pas banget bacanya malem-malem, jadi kepengen sate deh. *laper

Waduh.... Ternyata mas Andi selain Traveller, juga jago buat masakan enak. Ya, soalnya bisa gitu sampe licin bener-bener licin sampe gue gak dikasi. Oy!!!! Bagi kenapa? Jadi laper siang2 baca beginian. :D

Btw, selamat hari raya kurban... (agak telat karena sakit kemaren, mas. jadi baru bsa BW :'( Hiks...)

wihh, asik banget tuh ya. nikmat di nyatenya apet, kebersamaanny ajuga dapet, mantap.

Alhamdulilah pak, mantapss....
tempat kost saya di daerah Menukan/Salakan Banguntapan, Sewon Bantul pak :)

Biasanya kalau sore gowes ke alun2 atau gk Malioboro.. :)

hehe.. ayo bikin aja bu, atau tidak beli biar praktis.. :D
Tapi kalau bikin sendiri itu lebih terasa nikmatnya.. hihi

Hehe... Bisa saja nih Pange.. :D
Kemarin gk bilang sih, kalau bilang ya, aku gak kasih.. hehe
nyate bareng aja pange, biar mantaps.. hee

Enaknya kalau baca postinganku yang ini sambil makan satenya.. :D

Selamat hari raya Qur'ban juga :)
Btw, cepet cepet sembuh ya mas.. aamiin..

Iya nih mas, mantep pokoknya.. Apalagi bisa makan sate sambil baca tulisan ini akan lebih mantap.. hehe

Duuuh jadi kangen kebersamaan sama temen kost zaman SMK dulu 😂😂

Ngekost lagi aja May.. hehe
tapi jangan ding, mahal.. :D
mending reunian sama tmen kostnya aja :)

Jadi inget pas di asrama dulu. Malem-malem bakar sate bareng temen-temen. Seru banget. Ya, meski satenya nggak sampe gosong sih. :D

Makannya cowok itu simpel banget ya... Ngekek pas makan sate bareng-bareng yanv digelar bak tiker dari kertas minyak. Wkwkwk

Iya itu gosong bu, tapi percayalah tetap nikmat.. haha

Iya simpel dan tak ribet.. he
yang penting makan, meskipun gosong, meskipun beralaskan kertas minyak, asal makannya bersama sahabat, makan pun jadi nikmat.. hehe

Hidup di perantauan memang terasa sepi dan jauh dari keluarga, tapi enaknya bisa ngumpul terus bareng teman-teman. Kalo saya sih nggak suka daging kambing, jadi nggak terlalu excited banget kalo qurban, soalnya daging sapinya kebanyakan buat panitia nya, hadeeh...

BTW itu kelupaan nyalain magic com rasanya sesuatu banget ya mas....

13 tahun ini saya bahkan tidak pernah merayakan Idul Adha bersama keluarga. #AnakRantau

Nah itu dia mas, bisa kumpul, masak bareng, maen barneg.. Oh gitu, berarti jarang nyate dong kalau Qur'ban mas ?

Itu sesuatu banget mas kalau magicomnya .. duh duh..
Disaat kondisi lapar, luaknya sudah matang, nasinya belum :(

Wah sama mas, tapi sudah lama banget ya 13 tahun, aku yang baru 3 tahun juga sepertinya sudah lama sekali. Tapi suatu saat nanti bisa nyate bareng kembali mas Fei :)

emang kalo lagi hari raya pasarnya ramee bangeet...!!

serunyaa.. masak sate dan tongseng bareng tapi yang paling rame masak sate ya..

jhahahaa aku juga pernah tuh masak nasi tapi lupa belum di ceklekin hahahaaa

enaknya satenya apalagi makannya rame rame.. hehehee

Iya rame bangaet, banyak orang yang belanja .. :D

Wah ternyata mba Arum pernah juga ya belum di ceklekin.. haha
pengalaman yang bikin ketawa jika diingat.. :D

Betul, makan sate, rame-rame, jadi rame.. hehe

Dulu pas di pesantren aku juga seringloh makan bareng kayak gini,
kalo sekarang sih jarang pdahal aku ngekos barengan muehe.

untuk fenomena idul adha sendiri aku jarang gabusng sama temen temen yang makan daging kurban soalnya kau vegetarian.
suka sedih sih karna ga bisa makan kambing.

BTw, salamin sama bang indro ya. instagram dia apa ya sepertinya dia pandai sekali bergaya.

Kalau di pesantren pasti seru ya mas.. :)

Oh, mas Khairul tidk suka daging kambing ya. Tapi kan kalau makan-makan seperti ini tidak melulu daging kambing mas. Bisa juga menu yang lain asalkan makannya bersama. Selain seru, rasa kebersamaannya akan lebih erat lagi :)

Sudah aku salamin mas, dia memang pantai bergaya mas. Coba di cek di instagramnya : @gondoklongor

Anak kost banget ini idul adha = perbaikan gizi :))

Paling kerasa kebersamaannya kalo udah makan digelar 1 tempat gitu. Uhuy.

Aduh jadi inget masa-masa kost dulu,... rasanya mau nge-kos lagi..
kalo skrng dirumah paling bisa makan rendang... temen2 kosan pada bakar2 sate...

hehe.. batul ams, perbaikan gizi.. :D

Betul mas Joga, setelah selesai bagi rata tugas bersih2nya.. Akan selalu teringat ketika sudah tidak ngekos lati..

Iya mas Adhi, tentu kalau yang sudah tidak kost akan teringat dan ingin rasanya kembali ke kost. Selain bisa makan bareng-barneg, rasa kebersamaannya pun semakin erat nan kuat :)

Terima kasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan komentar, karena komentar kalian semua sangat berarti bagiku. Sebuah komentar bisa memotivasi seorang blogger agar bisa terus berbagi dan menginspirasi malalui tulisan.

Berkomentarlah dengan sopan, karena itu bisa mencerminkan dirimu sendiri.
In shaa Allah aku sempatkan untuk membalas satu persatu.

Sahabatmu,
Andi Nugraha
EmoticonEmoticon