September 4, 2016

Menelusuri Pantai Ngunggah dengan Sepeda


www.andinugraha.com - Hari libur memang sebaiknya diisi dengan kegiatan yang positif. Semenjak punya sepeda dulu aku sering gowes keliling Yogyakarta. Baik itu pagi, sore bahkan malam juga. Tapi di tahun 2015 aku kehilangan sepeda yang kuberi nama Eni. Bisa dibaca disini Namun setelah hilang aku tetap berusaha gowes dengan meminjam sepeda teman. Kalau tidak dipakai barulah aku pinjam, satu atau dua hari.

Setiap gowes aku ditemani sahabat kostku yakni Endro. Di bulan Agustus 2016 ini memang aku belum sempat gowes karena aku sedang ada dikampung halamanku di Ciamis. Sekitar tanggal 20-an aku baru kembali lagi ke Yogyakarta. Sepi rasanya di kost tidak ada sepeda, jangankan sepeda, motor juga belum punya. Endro sendiri mengajaku gowes dengan inisiatif sepedanya pinjam sama teman.

Biasanya yang sering minjemin aku sepeda kang Irwanto dan mas Ale. Sore itu pun aku mengirimkan pesan singkat dengan tujuan ingin meminjam sepeda untuk gowes. Alhamdulilahnya boleh, kami mengambil sepeda kang Irwanto terlebih dahulu karena jaraknya lebih dekat dibandingkan ke rumahnya mas Ale.

Setalah sepedanya ada, kami bingung karena belum ada tujuan gowes kemana. Dulu pernah gowes ke pantai Parangtrisis, pantai Samas, pantai Goa Cemara dan pantai Pandansari.

Bisa dibaca : Gowes ke-3 Pantai

Tapi setiap kami mau gowes tentu tak jauh dari si mbah google untuk mencari tahu informasi tentang tempat-tempat yang bagus untuk didatangi. Sering juga aku mendapatkan informasi dari mas Mawi, di mblusuk.com Kali ini Endro menemukan tempat yang indah nan asri yaitu pantai Ngunggah. Kebetulan mas Mawi juga pergi ke tempat pantai Ngunggah menggunakan sepeda. Kami fikir, kenapa tidak dicoba ? Sejak itu kami putuskan untuk gowes ke pantai Ngunggah. Kalau melihat cerita dari mas mawi sih seru. Semoga saja kami menemukan hal yang baru.

Berikut jalur perjalanan yang akan kami tempuh dari kost kami yang beralamat di Jalan Menukan, Brontokusuman, Mergangsan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan pantai yang akan kami datangi berada di daerah Giriwungu, Panggang, Kabupaten Gunung Kidul.
 



Kami sengaja melihat perta perjalanan menuju pantai ngunggah dengan jalan kaki yang membutuhkan waktu 7 jam 1 menit. Jadi kami pikir akan lebih cepat menggunakan sepeda. Syukur bisa menempuhnya dengan 3-4 jam sampai. Satu hari sebelum gowes aku sengaja pemanasan untuk gowes keliling Yogyakarta.

Bisa dibaca : Keliling Yogyakarta di sore Hari

Malamnya kami saling mengingatkan agar jangan tidur larut malam karena besok rencananya berangkat sejak pagi. Setelah sholat Subuh Endro mandi terlebih dahulu, aku sendiri menunggu giliran karena ada teman-teman yang lainnya sedang mandi juga.

Setelah mandi hingga beres-beres apa saja yang akan dibawa. Kami berangkat Selasa pukul 05.30 Rasanya udara pagi masih segar dan tak terasa capek setelah puluhan pedal kami kayuh. Brersepeda kali ini kami sengaja tidak membawa bekal makan dari kost. Karena menurut Endro sendiri nanti beli saja disana yang murah, enak lagi.

Setelah satu jam bersepda belum juga mendapatkan tempat makan. Warung makan yang Endro beritahu ternyata tutup. Karena pantat sudah panas kami putuskan untuk istirahat terlebih dahulu di dekat toko samping jalan. Sejak berangkat aku menggunakan sepeda berwarna putih yang aku pinjam dari kang Irwanto. Sedangkan Endro menggunakan sepeda yang berwarna merah.


Selagi masih bulan Agustus, warna sepeda kami juga sama seperti warna berdera Indonesia. Setelah cukup istirahatnya, kami lanjutkan perjalanan kembali. Ternyata semakin jauh roda sepeda ini berputar semakin tinggi juga jalan yang harus kami lewati. Saking tingginya kami tak mampu untuk mengayuh sepedanya. Alhasil kami menuntunnya hingga jalan datar kembali.

Beberapa kali Endro mengajaku untuk istirahat, karena capek dan mukanya juga sudah merah tidak seperti biasanya. Perlahan melanjutkan perjalan, kemudian menuntun sepeda disaat bertemu jalanan yang naik, setelah itu barulah dikayuh kembali dan seperti itu seterusnya. Wajar kalau Endro terlihat kurang fit, karena semalaman tidak tidur karena masih penasaran dengan codingnya yang belum bisa dia pecahkan. Kemudian kurangnya makan, terakhir masak di kost denganku sore hari.

Kemudian kami berhenti untuk istirahat, hiraukan mukaku yang satu ini. Terlihat seperti tak berdaya karena kelelahan. Keringat bagaikan air yang bercucuran. Lihat saja Endro yang sudah tergeletak lelah. Tertidur di rumput bagaikan kasur empuk dalam kost.


Inilah jalan yang kami lewati. Memang halus dan akan mudah untuk dilewati kendaraan termasuk sepeda. Namun tingginya tanjakan yang tak selalu bisa kami lewati. Mau tidak kamu kami harus istirahat terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan. Tak lupa juga membasahi tenggorokan kami yang kering.


Terlihat seperti lelah juga kedua sepeda yang kami tunggangi. Beberapa kali setiap istirahat kami selalu memeriksa keadaan sepeda terutama ban sepeda dan rem. Kami rasa untuk jalanan yang turun akan sangat memerlukan rem yang cakram.


Di jalan ini belokannya sedikit curam, sehingga tidak semua orang yang melewat bisa melihat apakah di depan ada kendaraan atau tidak. Jadi selama melewati jalan ini kami jalan dengan menuntun sepeda. Selain tidak mungkin di kayuh karena jalan juga nanjak. Sebentar-bentar kami minum. Selain mengobati rasa haus bisa menghilangkan sedikit capek juga.


Di jalan ini belokannya sedikit curam, sehingga tidak semua orang yang melewat bisa melihat apakah di depan ada kendaraan atau tidak. Jadi selama melewati jalan ini kami jalan dengan menuntun sepeda. Selain tidak mungkin di kayuh karena jalan juga nanjak. Sebentar-bentar kami minum. Selain mengobati rasa haus bisa menghilangkan sedikit capek juga.


Setelah itu kami melanjutkan lagi dengan medan yang sama yakni jalanan yang nanjak. Lagi-lagi kami tak kuasa untuk mengayuh sepeda. Terpaksa harus jalan kaki agar dapat melewati jalan itu. Banyak orang yang lewat melihat kami. Mungkin dalam hati mereka berkata, "Itu dua orang tidak ada kerjaan sepedaan ke jalan yang nanjak seperti ini." Tidak hanya satu atau dua orang yang saja yang melihat tapi hampir setiap orang yang lewat.

Tak lama Endro memintaku untuk istirahat kembali karena sudah tidak kuat capeknya. Bahkan ia meminta izin untuk tidur dulu 5 menitan. Aku rasa itu hal yang penting, mengingat pada malam harinya Endro tidak bisa tidur dan siang itu belum terisi makanan sedikit pun perutnya.


Kurang lebih ada 10 menitan kami istirahat. Kemudian melanjutkan perjalanan dengan pelan dan santai yang penting sampai. Namun semakin siang panasnya semakin menyerang. Jadi ketika kami menuntun sepeda sangat terasa panasnya ke tubuh. Sepeda yang kami gunakan memang sedikit berbeda, yang Endro gunakan batangan (frame) lebih ringan jadi sedikit mudah untuk mengayuh di jalan yang tinggi. Namun kalau tinggi tanjakannya semakin tinggi akan susah juga untuk dijangkau. Lebih baik jalan sembari menuntun sepeda.

Selama perjalanan kami sering sekali istirahat kalau sudah capek dan tidak bisa melanjutkan. Selain tidur, kami juga minum atau ngemil agar perut terisi. Tidak hanyak yang kami bawa diperjalanan ini. Hanya ada keripik, minum, sarung dan yang satu lagi senjatanya Endro yakni rokok. Karena rokok mahal jadi dia beralih ngelinting, menggunakan mbako.


Tak lupa juga tisu basah always dibawa. Itu tisu cukup awet kami gunakan. Semenjak mendaki ke gunung padahal kami membelinya. Tapi bukan berarti setiap tisu yang sudah digunakan disimpan kembali. Biasanya tisu basah kami gunakan setelah makan atau sedang bersih-bersih muka.


Setelah cukup istirahatnya kami melanjutkan perjalanan. Terkadang aku nyesel melakukan gowes ini. Karena jalannya sangat jauh dan capek sekali. Dalam hatiku berkata, "Kenapa harus seperti ini ya, hanya untuk pergi ke pantai ngunggah." Aku belum terfikir seperti apa pantainya. Selama melihat di internet aku rasa belum begitu jelas kalau aku belum melihat langsung.

Dalam internet bisa saja foto tahun berapa dan kali ini kami ingin melihat pantainya langsung. Meskipun berkali-kali aku ngeluh, Endro selalu menyemangatiku untuk terus semangat gowes. Mulai dari bilang sebentar lagi sampai, sebentar lagi ketemu warung. Pokoknya apapun itu agar aku semangat melanjutkan perjalanan ini. Kalau pulang pun nanggung karena sudah hampir setengah perjalanan.

Tapi aku tetap tak kuat mengayuhnya lagi, sehingga aku putuskan untuk jalan saja selama ditanjakan. Sedangkan Endro perlahan gowes dan sudah duluan. Sekiranya capek dia pun istirahat sembari menungguku datang. Kali itu aku sedikit jauh tertinggal. Namun di depan sana aku mellihat sebuah warung dimana sepeda yang Endro kenakan ada didepannya.

Waktu itu aku senangnya luar biasa, yang ada dipikiranku minum dan minum. Tentunya minuman yang dingin atau es. Aku dan Es seperti sesuatu yang susah dipisahkan. Di rumah saja, aku tak pernah minum air kalau tidak dingin. Kadang aku juga menganggap bahwa aku belum minum sama sekali selama dalam sehari itu aku belum minum es. Aku pun menghampirinya dan menyimpan sepeda tepat disamping sepeda Endro.


Aku langsung ke dalam mengambil minuman dingin kemudian langsung meminumnya. Sembari duduk santai aku merasakan ketenangan yang cukup mengobati rasa lelah dan hausku. Ditemani angin yang sepoi-sepoi. Rasanya nikmat luar biasa. Kalau dari tadi ada warung ini pasti aku sudah tidak kehausan dijalan karena bekal minumnya habis.

Tapi inilah perjuangan, hanya untuk minum saja, harus melewati perjalanan yang nanjak dan beberapa kali harus terkapar lelah ditepi jalan.


Padahal banyak pilihan makanan, tapi tidak banyak yang aku inginkan. Rasanya minum saja sudah kenyang. Dari berangkat kami merasakan kenyang air, tapi mau gimana lagi harus sih. Daru warung itu pun kami tak membeli makanan apapun untuk dibawa dalam perjalanan. Dengan santainya nanti akan ada warung lagi disana.

Setelah minum, aku membeli roti untuk mengganjal perutku yang kosong. Padahal hanya dengan minum perutku sudah kenyang. Tapi aku tetap membeli satu roti, agar yang diplasik satu. Meskipun hanya aku yang beli, itu makanan aku bagi dua, tentu yang sebelah buat Endro. Meskipun sedikit tak ada salahnya untuk berbagi.

Setelah roti dan agarnya dimakan, kami melanjutkan perjalanan. Baru saja masuk ke jalan raya, lihat jalan langsung tak semangat. Habisnya jalannya naik nan tinggi juga. Aku rasa harus jalan lagi sembari menuntun sepeda. Banyak ibu-ibu dan bapak-bapak yang sedang kerja bakti di samping jalan.

Tak lama ada yang nyeloteh kepadaku, "Mas itu keringatnya kaya mandi saja", ada juga yang tanya "dari mana mas?.\" Macem-macem pokoknya, setiap aku ditanya dari mana, aku jawab dari Yogyakarta. Merekka kaget, karena jauh-jauh menggunakan sepeda. Endro sendiri memilih untuk menjawab, lagi ngelatih fisik. Tapi memang benar, jika kami satu minggu seperti ini terus bakal kurus nih badan.

Tapi aku tidak mau kalau harus seperti ini terus, lebih baik olahraga saja. Kalau untuk gowes jaraknya seperti ini ampun. Butuh waktu lagi dan persiapan. Karena tidak hanya kaki yang sakit, tapi semua badan sakit. Tapi apapun itu kami melakukan ini dengan senang hati. Karena bersepeda merupakan hobi. Jadi setiap bersepeda kemana pun, sejauh apapun. Resiko harus tetap ditanggung sendiri.

Minuman dan roti yang tadi aku makan serasa hilang dan terasa capek lagi. Endro berusaha mengayuh terus meskipun jalan naik. Tapi aku sendiri tidak memaksakan, aku perlahan mengayuh, serasa tidak kuat aku turun dan aku dorong. Sebentar-bentar aku mengelap keringatku yang bercucuran seperti mandi. Terkadang perih terkena mata.

Topi hitam yang aku kenakan sudah tidak kering lagi. Dalamnya basah seperti terkena air. Berkali-kali aku putar itu topi, kebelakang, kedepan. Serasa tidak nyaman karena kepanasan dan harus mendorong sepeda.Waktu itu aku sengaja duluan karena ingin istirahat lebih lama. Sedangkan Endro di belakang sedang menuntun sepeda.


Ketika Endro melewatiku, aku sengaja tidak terbangun karena masih capek. Biarlah Endro lebih dulu, nanti aku nyusul dibelakang kalau sudah mendingan rasa sakit di kaki ini.

Di depan Endro sudah menungguku sembari istirahat. Aku mempercepat jalannya agar cepat sampai dan bisa istirahat. Tak lama dari samping terdengar suara orang yang berjualan cilok. Aku pun membelinya, beli Rp. 5.000,- jadi dua bungkus.


Kalau dilihat sih seperti bukan cilok. Karena ini digoreng, untuk bumbunya sendiri sama seperti cilok-cilok pada umumnya. Sembari menunggu aku bertanya, "Pak kalau jarak ke pantai Ngunggah berapa KM lagi ya kira-kira ?" Bapak nya menjawab, "Kurang lebih 6-7 KM lagi mas. Ini saya juga mau daerah sana."

Mendengar jawaban bapak itu pikiranku langsung terbuka. "Wah sepertinya disana bisa makan-makan, dekat pantai, angin sepoi-sepoi, rasanya enak sekali." Aku jadi tak sabar ingin cepat sampai. 


Ketika kami makan cilok itu rasanya enak. Selain terasa keringnya karena digoreng, ditambah bumbu pedasnya cukup meresap. Aku jadi teringat salah satu makanan di tempatku, tapi aku lupa namanya apa. Biasanya ketika SD dulu sering membelinya.

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan yang sama seperti sebelumnya, jalannya yang semakin nanjak dan turun, nanjak, turun. Begitu seterusnya. Disitu semangatku mulai turun, karena capek sekali rasanya. Betis ini semakin sakit dan terkadang bertemu tempat teduh aku langsung tergeletak tidur. Waktu itu sendirian lagi karena Endro sudah duluan berada di depan.

Sembari jalan aku memperhatikan terus petunjuk arah jalan yang ada dipinggir jalan. Sempat juga aku melihat papan petunjuk jalan arah ke pantai. Waktu itu panas sekali suasana dijalan. Tapi aku sempatkan untuk mengabadikannya.


Aku kira setelah melewati petunjuk jalan itu tinggal sebentar lagi sampai. Ternyata masih jauh dan hampir sepanjang jalan tak ada tempat untuk berteduh. Hingga akhirnya aku berteduh di samping tenda tempat orang-orang menyimpan kendaraannya untuk bekerja. Kebetulan banyak orang yang sedang bekerja di salah satu bangunan.


Uniknya disitu ada hiasan mobil replika yang keren. Meskipun panas aku tetap senang bisa melihat proses penyelesaian bangunan itu. Meskipun tidak hampir 100% selesai, karena aku istirahat hanya sebentar saja. Itupun karena aku ingin minum. Setelah selesai aku lanjutkan perjalan kembali.

Setelah kurang lebih 15 menitan aku berhasil menyusul Endro. Terlihat sepedanya di depan angkringan. Aku datang menghampirinya. Setelah sampai aku sudah dipesankan es teh dan satu porsi makan.


Angkringannya cukup lengkap dan berbeda dari angkringan pada umumnya. Angkringan ini tidak menjual nasi kucing melainkan menjual makanan seperti halnya rumah makan. Hanya saja penyajiannya disajikan di sebuah angkringan. Selain mendoan banyak juga lauk yang lainnya. Ada sayur-sayuran, daging ayam hingga ceker sekalipun ada.

Endro sendiri mengambil ceker hingga habis 2. Aku sendiri kurang begitu suka dengan ceker, apalagi ceker yang ada di dalam seblak, yang cara memasaknya dikukus. Jadi ketika aku makan rasanya seperti ceker yang masih mentah.. Mungkin kalian lebih suka seperti itu.



Awalnya aku tidak mau makan karena masih kenyang. Kenyang dengan air minum. Tapi karena sudah di pesankan mau tidak mau aku harus memakannya. Jangan lihat muka lelahku yang berkucuran keringat. Dan kaget saja melihat satu porsi makan yang biasanya cukup ketika lapar. Tapi ini rasanya terlalu banyak ketika perut kenyang dengan air.


Meskipun lama menghabiskannya tapi Endro dengan sabar menungguku. Disini aku habis 2 gelas es teh. Setelah selesai kami melanjutkan perjalnan, tak lupa di depan sana membeli air lagi satu botol besar. Karena air bekal dari kost sudah habis. Tak terasa waktu sudah pukul 11.30, kebetulan di depan ada sebuah masjid yang bernama Masjid Asalam di Dusun Widoro, Desa Giripurwo.



Waktu itu masih sepi karena belum memasuki waktu sholat Duhur. Aku cuci tangan, kaki hingga muka dan istirahat dengan tiduran di teras Masjid. Di Masjid itu rasanya adem, selain itu air untuk wudlunya juga segar ketika dibasuhkan ke muka. Akan lebih segar lagi jika digunakan untuk mandi. Warna Masjidnya aku sangat suka, hijau warna kesukaanku.


Tempat palkirnya juga dekat dengan tempat wudlu. Jadi cukup tenang untuk istirahat. Meskipun aman, tapi setidaknya kami waspada takut terjadi apa dengan sepeda yang kami bawa. Jangan sampai seperti satu tahun yang lalu sepedaku hilang dibawa orang yang tidak bertanggung jawab.

Baca juga : Sepedaku Yang Hilang Entah Siapa Yang Membawanya

Tapi aku berfikir positif saja. Allah pasti punya rencana lain dan akan menggantinya untuk yang lebih baik. Terkait waktunya entah kapan. Meskipun saat ini belum ada sepeda tapi banyak teman-temanku yang baik dan mau meminjamkannya. Meskipun tidak bisa setiap hari gowes tapi setidaknya rasa kangen untuk mengayuh pedah terobati.

Tak lupa juga aku selalu membawa koas kesayanganku untuk pergi gowes. Biasanya aku membawa lebih dari satu koas setiap pergi main. Alasannya agar ditempat yang belum aku kunjungi sebelumnya bisa mengabadikan foto dengan beberapa kaos atau pakaian yang berbeda. Jadi selama backgroundnya sama, pemandangannya sama. Setidaknya pakaian yang aku kenakan berbeda. 

Tak lama ada seorang warga yang datang ke Masjid dengan rapih seperti Ustadz. Aku rasa beliau mau adzan di Masjid. Kami pun ditanya mau kemana, setelah diberitahu mau ke pantai Ngunggah. Beliau juga tahu bahwa pantai Ngunggah tersebut memang belum banyak orang yang tahu. Masih asri juga.

Selain itu kami menanyakan jalannya, karena lupa. Tadinya mau mengandalkan bantuannya google maps tapi karena sinyal di desa tersebut susah. Yang ada hanya telkomsel, itupun tidak stabil. Tapi untungnya warga disitu baik dan ramah. Setelah adzan kemudian kami sholat berjamaah, disusul para warga dan guru yang hendak sholat. Karena lokasi Masjid dengan sekolah tidak terlalu jauh.

Sholat sudah selesai, kami lanjutkan untuk beres-beres dan tidak lupa juga untuk cuci kaki kembali dan muka. Kebetulan aku membawa pembersih muka, parfum pakaian, dan yang tak pernah lupa yakni sisir. Kadang sisir bawa 2. Yang satu khusus untuk aku pribadi dan yang satu lagi untuk teman-teman yang mau pinjem. 

Setelah selesai kami langsung bergegas gowes melanjutkan perjalanan. Jalannya pun banyak turunannya, jadi kami cukup senang tidak usah mengayuh pedal. Semilir angin pun menyegarkan muka dan badan. Namun tak lama tetap bertemu dengan tanjakan yang membuatku harus jalan kaki sembari menuntun sepeda.

Tapi setelah itu bertemu dengan jalan yang turun panjang. Sehingga aku semakin semangat mengayuh sepeda mendahuli Endro. Saking semangatnya aku hingga melewati petunjuk jalan yang bertulisan Pantai Ngunggah. Untung saja Endro memanggilku sehingga aku dapat berputar balik.


Setelah masuk kawasan ke pantai Ngunggah, kami tidak melewati jalan aspal lagi. Melainkan jalan setapak yang sudah di cor dengan semen. Dengan itu akan lebih mudah juga untuk dilewati kendaraan. Tadinya kami bingung juga ketika menemukan jalan pertigaan. Untungnya ada salah satu bapak yang ada disekitar situ, setelah bertanya kami ditunjukan jalannya.

  
Namun semakin jalan yang kami tempuh, kami bertemu dengan jalan bebatuan. Tidak hanya bebatuan, tapi naik turun juga jalannya. Setiap bertemu dengan jalan naik aku lebih memilih turun dan menuntun sepeda. Ketika bertemu turunan aku tunggangi agar lebih mudah. Tapi waktu itu ada jalan yang sangat susah dilalui. Turunan juga, kebetulan aku menungganginya. 


Sebelumnya beberapa turunan dapat aku lalui dengan lancar. Ketika menemukan turunan yang lebih curam dengan bebatuan yang besar-besar, tiba-tiba rem sepeda yang aku tunggangi mendadak tidak berfungsi alias blong. Kalian bisa bayangkan seperti apa waktu itu. Aku seperti terbang melewati atas bebatuan itu. Andaikan waktu itu aku tak bisa mengontrol keseimbangan, mungkin saja aku akan terjatuh.

Waktu itu aku hampir putus asa dan sempat menyesal untuk pergi ke pantai Ngunggah, karena susahnya perjalanan yang membuatku nyerah. Ingin rasanya pulang tapi sebentar lagi sampai. Bekal aqua tinggal setengahnya pula. Tapi pikirku nanti disana akan ada orang yang jualan minum dan makanan sejenisnya.

Endro sendiri tidak mengalami hal sepertiku karena rem sepedanya masih berfungsi. Tak lama aku mendengar suara motor yang membuntutiku, ternyata ada seorang bapak yang membawa anjing di belakangnya yang akan pergi ke pantai Ngunggah juga.


Kemudian kami memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu. Bapak itu pun ikut ngobrol bersama kami. Namun si anjing itu tidak mau lewat, mungkin karena ada kami yang menghalangi jalannya. Endro menyempatkan untuk membuat lintingan rokok yang dia bawa. 

Setelah cukup untuk istirahat kami melanjutkan perjalanan lagi. Ternyata tidak hanya bapak tadi yang berada di daerah menuju pantai Ngunggah. Tapi banyak juga bapak-bapak yang lain, bahkan ada ibu-ibu yang sedang mencari rumput. Kebanyakan dari mereka itu jalan kaki.

Karena sebenatar lagi sampai, kami mempercepat perjalannya untuk sampai ke pantai Ngunggah. Kata bapak yang tadi ngobrol dengan kami, katanya di dekat pantai ada gubuk yang bisa digunakan untuk istirahat. Mendengar itu aku sangat senang dan berharap ingin cepat-cepat tidur sembari melepas lelah.


Sesampainya disana aku merasakan dua hal bersamaan, senang dan kecewa. Senangnya sudah sampai ke pantai. Kecewanya tidak ada satu oragn pun yang jualan. Tapi aku mengganggapnya wajar, karena pantai Ngunggah sendiri masih asri dan belum banyak orang yang tahu. Mungkin kalian juga yang ada di Yogyakarta masih asing mendengarnya. Yang jelas aku bersyukur bisa menapakan kaki di pantai ini dengan bersepeda.

Aku berusaha menengok ke sana kesini, tak begitu jelas terlihat pantainya. Yang terlihat hanyalah tebing curam yang menghadap ke laut. Tapi jujur pantainya indah, terlihat indah biru. Dari kejauhan kami dapat menikmati ketinggian tebing dari gubug tempat kami istirahat.

Pantainya masih terlihat asri, sepi tak terdengar suara banyak orang. Yang kami dengar gemuruh ombak di lautan. Orang-orang yang mencari rumput harus turun ke bawah. Sedangkan kendaraannya di simpan di gubug tempat kami istirahat.


Andaikan bisa mengajak teman-temanku yang lain kesini passti mereka juga akan senang. Selain indah pantai ini membuatku takjub atas ciptaan-Nya. Dan memang benar-benar nyata adanya. Aku tidak melihat lewat internet saja, tapi secara langsung.


Karena masih capek, kami istirahat terlebih dahulu di gubug tersebut sembari tidur. Kami juga berencana untuk menginap di pantai ini. Karena mengingat rem sepeda yang aku guanakan tidak berfungsi. Takutnya terjadi apa-apa kalau harus memaksakan pulang. Tapi harus puasa kalau mau nginep di pantai ini. Karena tidak ada yang jual minuman, dan bekal minum kami pun tinggal sedikit.


Setelah cukup istirahatnya, Endro mengajaku untuk melihat pantainya lebih dekat. Tapi harus turun ke bawah, jalannya pun belum begitu terlihat. Rasanya seperti jalan ke semak-semak gitu. Jalannya kecil tapi banyak juga warga yang mencari rumput atau sekedar mancing di pantai Ngunggah ini. Untuk mencapai ke pantainya hanya ada satu jalan saja.


Kalau mau ke pantai Ngunggah harus hati-hati. Apalagi kalau mengguanakan sepatu atau sandal yang licin. Selain tumbuh-tumbuhan, ada juga pohon bambu disekitar jalan menuju pantainya.


Suara gemuruh ombak semakin jelas kami dengar, tandanya jarak ke pantai akan lebih cepat sampai. Birunya laut sudah terlihat dari kejauhan. Ingin rasanya cepat-cepat melihat dari dekat, ingin menginjakkan kaki di atas pasir pantai ngunggah.

Alhamdulilah aku ucapkan, akhirnya sampai juga. Tepat pukul 13.30 kami sampai di pantai ngunggah. Bisa kalian hitung berapa jam untuk sampai di pantai ini dengan menggunakan sepeda. Kami dari kost pukul 06.30 sampai di pantai Ngunggah pukul 13.30. Kurang lebih perjalanan untuk sampai membutuhkan waktu 8 jam.

Lamanya luar biasa, 8 jam ini sama halnya dengan aku mudik dari Yogyakarta ke Ciamis. Itupun menggunakan mobil. Apa iya aku harus mencoba pulang ke Ciamis dengan bersepda ? Tidak konyol kah :D

Terlihat ada orang yang pergi ke tepi pantai. Entah mau kemana, mungkin saja bapak itu mau mancing di tepi pantai. Selain bapak itu kami tak melihatnya lagi. Memang betul-betul sepi dan masih asri suasana di pantai Ngunggah ini. Aku bersyukur bisa mengayuhkan kaki menggunakan sepeda untuk sampai kesini. Meskipun capek.

Endro sendiri langsung bergegas membuka baju luar, melepas santai dan langsung main basah-basahan. Tak lupa aku mengabadikan momen ini dengan selfie. Jarang-jarang aku selfie kalau tidak di tempat yang bagus dan baru aku kunjungi. Terlebih di pegunungan selfie merupakan hal yang wajib.


Batunya terlihat bersih, pasir di tepi panti juga putih. Karena hanya kami berdua yang ada di pantai ini. Serasa tempat ini milik kami. Terlepas bapak yang tadi tak terlihat lagi. Mungkin sore hari beliau akan pulang dan sepertinya tidak mungkin juga kalau sampai malam disitu. Kalaupun iya harus membawa penerangan.



Setelah asiknya bermain air, tak lama Endro kelelahan dan terkapar diatas batu. Dan dia benar-benar tidur, kasihan juga melihatnya. Selain jalannya jauh, kami juga sepertinya kembung kebanyakan air. Apalagi Endro belum tidur semalaman. Kurangnya istirahat akan mengganggu kesehatan kita, terutama ketika kita melakukan aktifitas, seperti halnya gowes ke pantai ngunggah ini.


Kata Endro sendiri menaruh batu diatas kepala seperti halnya terapi. Tapi entah terapi apa, mungkin saja bisa membuatnya tenang, masalah dalam fikiran hilang. Terlihat pulas sekali tidurnya, dimanjakan oleh suara ombak yang membuat tidurnya nyenyak.


Uniknya pantai Ngunggah ini, terdapat banyak tebing yang terlihat. Bahkan baru sampai gubug tempat beristirahat pun langsung terlihat tebing yang curam namun indah dipandang. Kabarnya banyak juga warga yang mencari rumput laut di pantai ini. Kemudian ada juga salah satu tebing yang mengelilingi pantai ini yang terdapat mata air.

Dimana mata air ini disebut mata air sumur Watutumpeng. Banyak juga para warga sekitar yang memanfaatkannya untuk  kebutuhan air tawar sehari-hari. Seperti halnya memasak, mandi dan mencuci. Meskipun dibalik tebing tepat Endro teduh disiang hari tapi jika ingin lebih dekat ke pantai bagusnya disore hari karena akan lebih teduh.


Aku duduk lama sembari melihat ombak, rasanya tenang, beban dalam fikiran hilang. Beberapa kali ombak datang menghampiriku. Namun aku tetap duduk dengan tenang sembari melihat indahya ciptaan Allah ini.

 
"Birunya lautan terlihat jelas disaat siang,
saat lagit begitu biru teranng benderang,
semilir angin membelai lembut walau tak kelihatan
membuat diri ini takjub atas ciptaan-Mu Tuhan"
-Andi Nugraha-


Tak lupa juga untuk menuliskan sesuatu di pasir pantai Ngunggah ini. Terutama www.andinugraha.com Blog aku pribadi yang sejak  2013 aku jadikan diary. Selain aku, orang lain juga bisa membuka dan membacanya.


Karena Endro tidur, jadi aku bermain saja sendiri. Jadi teringat masa kecil dulu. Terkadang main sendiri. Di pantai Ngunggah ini pun demikian, aku menggambar dan menuliskan sesuatu di pasir. Mainan air, batu dan tak lupa juga membuat video. Berkali-kali aku mengamati keadaan sekitar, takutnya ada orang lain juga yang datang ke pantai ini. Tapi sampai satu jam lebih masih tetap sepi. Mungkin dihari itu hanya kami saja yang main ke pantai ini. Selain itu warga sekitar yang mencari rumput ataupun mancing tadi belum terlihat lagi.

Tak terasa ternyata Endro tidur sudah hampir satu jam. Aku rasa capeknya sudah mulai hilang dan segar kembali. Setelah aku bosan main sendiri, aku kemudian datang menghampiri batu dimana Endro tidur. Aku pun tidur disampingnya dan istirahat. Meskipun sebenatar berharap bisa menyegarkan badan yang lelah ini.


Sebenarnya sembari tiduran aku tak bisa tidur seperti Endro. Tapi aku sedang membayangkan kalau jadi nginep di pantai ini rasanya tidak mungkin. Karena jarak dari bawah ke gubuk di atas saja lumayan lama. Apalagi untuk sampai ke pedesaan yang banyak orang, perumahan dan pencahayaan.

Sedangkan di daerah pantai belum ada pencahayaan, belum ada MCK juga. Jadi aku mengajak Endro untuk tetap pulang saja. Terkait remnya blog tidak masalah, nanti kita cari bareng bengkel yang ada di sekitar jalan sembari mencari makan. Selain itu kami mencari aman takut terjadi apa-apa kalau tidur di pantai Ngunggah ini.

Setelah Endro terbangun aku bicarakan untuk tidak jadi nginep di pantai ini. Ternyata Endro juga sama mengajak pulang saja. Lebih baik kami istirahat di masjid sembari sholat. Kalau boleh menginap juga, karena lebih  baik menginap di daerah yang ramai dengan warga dan pencerahan lampu. Selain aman akan mudah juga meminta pertolongan jika terjadi apa-apa.

Di pantai ini, kami dapat menghilangkan stres dan segala penat yang ada. Keindahan pantai Ngunggah membuat kami merasa lebih senang dan tenang, meskipun untuk sampai di pantai ini penuh dengan perjuangan. Tapi perasaan kami tenang. Dengan main ke pantai kami lebih bisa bernafas lebih lega.

Ada sebuah penelitian membuktikan bahwa udara segar dipinggir pantai mampu membuat paru-paru bernafas lebih lancar. Begitu juga dengan angin sepoi-sepoinya. Tidur pun menjadi lebih nyenyak, rasa capek selama bersepeda diperjalanan bisa diobati di pantai Ngunggah ini. Melepas lelah sembari menikmati indahnya suasana pantai.

Menurutku pantai adalah cara mudah dan murah untuk melarikan diri sejenak dari rutinitas yang membuatku penat. Entah itu dari rutinitas kuliah ataupun kerjaan. Lebih asik lagi kalau pergi ke pantai dengan bersepeda. Jadi lebih terasa perjuangannya.

Selain itu, pantai juga bisa memberiku kesempatan untuk menikmati manfaat sinar matahari. Terlalu banyak beraktifitas di ruangan itu tidak baik, sehingga kurangnya vitamin dari sinar matahari untuk tubuh kita. Air laut tak hanya untuk dilihat saja, melainkan asik juga untuk dimainkan, atau mungkin bagi yang hobi berenang bisa juga memanfaatkannya. Sekitar pukul 16.00 kami memutuskan untuk pulang. Beres-beres tas, menggunakan sendal dan sepatu.


Senenarnya kami masih kangen dengan pantai ini. Apalagi di sore hari, selain teduh lebih mudah juga untuk menelusuri pantai karena tidak panas. Tapi karena waktu sudah sore dan mengingat perjalan yang jauh. Jadi kami memutuskan untuk pulang dan tak lupa selfie dulu :D




Ketika pulang aku menemukan bunga, entap apa namanya tapi sepertinya cukup bagus apalagi warnanya yang ping. Kalau kalian tahu boleh dihsare kolom komentar nanti, apa nama bunga ini.


Kurang lebih 15 menit untuk sampai ke gubug tempat sepeda kami disimpan. Dari jauh terlihat dengan gagahnya sepeda kami berdiri. Meskipun ketika dibawah kami khawatir takut kenapa-kenapa sepedanya. Kalau sampe hilang akan susah kami menggantinya dan akan susah pula untuk pulang sampai ke kost.


Jalan yang kami lewati pun akan tetap sama seperti berangkat tadi. Akan bertemu jalan yang rusak menanjak dan turun. Sehingga kami memilih jalan dengan menuntun sepeda. Banyak juga para warga yang baru pulang mencari rumput. Ada yang menggunakan motor, ada juga yang tetap jalan kaki.


Ketika pulang bertemu 3 orang laki-laki dan 1 orang perempuan yang hendak pergi ke pantai Ngunggah. Namun mereka menggunakan sepeda motor, meskipun demikian tetap saja susah dinaikin dan akhirnya di tuntun. Tapi selang 5 menit mereka melewatiku tak lama mereka sudah pulang kembali. Aku rasa mereka hanya sampai gubuk, kalau untuk sampai ke bawah sepertinya akan sedikit lama.


Selama mengayuh sepeda, kemudian berhenti dan mengayuh lagi. Beberapa kali melewati ibu-ibu yang sedang jalan sembari menggendong barang bawaannya. Begitu juga bapak-bapaknya. Aku sendiri sampai malu beberapa kali dilewati oleh ibu-ibu yang jalan. Mereka semua terlihat begitu kuat, tak pernah berhenti berjalan meskipun membawa barang bawaan. Mungkin sudah terbiasa jadi kuat seperti itu.

Tapi jujur jalan untuk sampai ke pantai Ngunggah benar-benar sulit terutama menggunakan sepeda. Mungkin kalau sepeda yang khusus untuk dijalan seperti itu akan lebih mudah. Tapi sesusah apapun  kami berhasil melewatinya. Dengan pernuh semangat dan perjuangan tentunya.


Setelah sekian lama berhenti dan beristirahat di tepi jalan, di rerumputan, terkadang dimana saja asalkan tempat itu nyaman. Tapi setelah bertemu dengan jalan yang lumayan mulus, kami menemukan pos ronda untuk beristirahat dan sudah terlihat juga penerangan dari beberapa rumah warga.

Tapi untuk sampai ke jalan raya masih jauh sekali. Kami juga berencana untuk tidak melewati jalan yang pertama kali kami lewati. Kami memilih jalan yang berbeda yakni melewati jalan parangtritis. Jauhnya mungkin sama, tapi untuk jalannya tidak terlalu banyak naik dan turunnya. Hanya saja ada beberapa jalan yang terus turun hingga sampai lokasi losmen dekat pantai Parangtritis. 

Karena rem sepeda yang aku gunakan tidak berfungsi sehingga pulangnya harus ekstra hati-hati dijalan. Terutama disaat bertemu dengan jalanan turun. Kebetulan untuk pulang, Endro meminta gantian untuk menggunakan sepeda denganku. Karena kasihan melihatku terus-terusan jalan ketika jalan yang turun.

Perjuangan ketika pulang lebih sulit dibandingkan dengan berangkat. Larut malam, gelap tak terlihat apapun. Mesekipun sudah dijalan raya kami tetap saja harus hati-hati. Karena melewati hutan dan harus menunggu kendaraan yang lewat barulah kami merasa terterangi lampu dan terlihatlah jalan.

Itu pun sangat panjang perjalanan tak terterangi cahaya. Untuk saja bintang menemani perjalanan pulang kami. Beberapa kali kami tertidur di atas rumput yang kami anggap seperti kasur kost kesayangan. Selain tidur kami juga mencoba mencari warung untuk membei minum. Aku juga merasa capek sekali dan hampir putus asa. 

Malam itu Endro berada di depan meluncur lebih cepat karena melewati jalan turunan. Aku sendiri tertinggal di belakang, gelap tak ada cahaya dan tiba-tiba kakiku kram tak bisa digerakin sama sekali. Itu terjadi 2 kali. Aku bingung karena sendirian, dan aku teriak keras karena kesakitan. Dan memanggil Endro untuk nungguin.

Karena tak kuat sakit kaki, kram. Tergeletak langsung di rerumputan samping jalan. Baru kali ini aku merasakan kram yang cukup sakit. Biasanya setiap sepak bola ataupun futsal tak pernah merasakan sakitnya kram.

Setelah itu kami istirahat terlebih dahulu agar kondisi kaki yang kram segera pulih kembali. Tak lama aku kepikiran untuk menggunakan senter yang ada di hanphoneku untuk menerangi perjalanan pulang. Aku memililh untuk jalan bareng dengan Endro. Aku sengaja menyuruh Endro duluan agar mudah terkena sinar senter untuk menerangi jalanan.

Tak lama Endro sudah tak terlihat jauh dari jalanan. Terlihat sepedanya dan Endro sedang mengobrol dengan orang disekitar warung. Dan aku pun sudah di pesankan satu gelas es teh.


Selain es teh, Endro juga mengajaku pergi ke dalam untuk makan gorengan sembari duduk manis melihat sinetron anak jalanan. Mau tidak mau harus aku tonton karena orang yang punya warung melihat film itu. Kami hanya bisa melihat sembari minum dan makan gorengan.


Es teh ini setidaknya dapat mengobati rasa harusku. Satu buah gorengan juga sedikit bisa mengganjal perutku yang sedang lapar. Meskipun disampingnya terdapat tukang bakso. Tapi kami tak tertarik untuk membeli. Kami memilih nanti saja disana, karena perjalanan juga masih jauh.


Setelah cukup terobati hausnya kami melanjutkan perjalanan. Lagi-lagi aku hampir putus asa dijalanan. Ingin rasanya aku beristirahat tidur dengan nyenyak di kamar kost. Tapi jaraknya masih jauh sekali 50 KM mungkin lebih. Pikiranku sudah tidak karuan karena capek. Ingin rasanya aku menyewa mobil untuk mengangkut sepedaku agar tidak capek mengayuhnya.

Beberapa kali aku membujuk Endro agar mau diajak naik mobil. Tapi dia malah tidak mau dan terus menyemangatiku, "bentar lagi sampai kok, kita harus sabar." Dengan nada tidak semangat aku terus menurutinya.

Sekitar kurang lebih 2 jam jalan sembari menuntun sepeda kami merasa kelelahan. Setiap bertemu dengan rumput kami istirahat dan tertidur. Begitu lama mata kami memandang langit penuh bintang. Tak lama ada seorang bapak-bapak menghampiri kami dan bertanya, "Kenapa mas ?", Kami menjawabnya dengan tenang, "tidak apa-apa pak, kami hanya istirahat kecapena."

Mungkin pikir warga yang lewat kami kenapa-kenapa. Karena tertidur di tempat yang gelap. Perlahan kami menyusuri jalan di sepanjang losmen dekat pantai parangtritis. Selang beberapa menit kami menemukan sebuah angkringan. Dan kami mampir sejenak untuk menikmati es teh dan sayap ayam yang bisa mengganjal perutku.

Endro sendiri memilih untuk memakan ceker lagi, es teh 1 dan satu dan teh anget 1. Dia langsung di borong karena saking laparnya. 


Di angkringan ini aku sengaja tidak menambah es tehnya karena memang sedikit berbeda rasanya tdiak seperti es teh yang biasa aku minum pada umumnya. Yang ini rasanya sedikit pait atau kalau dalam bahasa sunda itu hangit. Jadi masak airnya terlalu lama dan berpengaruh terhadap rasa tehnya.


Meskipun ada nasi kucing, aku belum tertarik untuk makan nasi. Begitupulan dengan Endro yang hanya makan ceker ayam saja ditambah dengan rokoknya yang setiap habis makan satu batang.  


 Setelah selesai dari angkringan Endro mengajaku untuk pergi ke pom bensis karena dia kekenyangan. Aku sendiri menemainya dan memilih untuk tidur di dekat sepeda yang aku palkir. Tak peduli banyak orang atau tidak, karena badanku sudah capek jadi tidur saja. Sembari tiduran aku sengaja membuka handphone dan mengaktifkan paket data. 


Setelah di aktifkan datanya, banyak sekali pesan masuk tak terbendung. Mulai dari BBM, whatsapp, SMS, e-mail, facebook dan messanger. Melihat whatsapp ada beberapa panggilan dari Ibu. Karena sejak pergi ke pantai aku belum sempat memberitahunya. Tak lama ayahku juga menelfon dan menanyakan keadaanku. 

Begitu juga dengan ibu tak lama menelfonku. Mungkin dikasih tahu ayah kalau nomerku sudah aktif kembali. Setelah ibu telfon aku cek jam, ternyata sudah pukul 22.30. Wajar saja kalau ibu dan ayah khawatir dengan keadaanku. Meskipun kami terpisah jarak. Ibu di Ciamis, Aku di Yogyakarta dan Ayah di Depok. Tapi naluri kedekatan kami seakan seperti tinggal satu atap terus. Setelah Endro keluar dari kamar mandi, bukannya pulang tapi dia malah mengajaku untuk tidur terlebih dahulu dan mengajaku untuk membeli mie ayam.

Sembari tidur aku mengiyakannya. Padahal pom bensin di tempat kami tidur itu jalan parangtritis KM 22. Jadi tandanya aku masih harus menempuh perjalanan 22 KM lagi untuk sampai ke kost. Tapi biarlah, kami tidur dulu agar badan ini semakin fit. Setelah terbangun aku kaget saja jarum jam menunjukkan pukul 23.30. Dan Endro tetap ingin makan mie ayam. Bukannya aku tidak mau, tapi jam segitu apakah masih ada yang jualan.

Tapi ketika kami sedang mengayuhkan sepeda, tak lama Endro matanya sangat jeli untuk melihat mie ayam di sekitarnya. Waktu itu pun kami menemukan mie ayam dan menanyakan apakah masih ada atau tidak. Dan ternyata masih ada. Bisa dibayangkan pukul 23.40 masih ada orang yang ngejual mie ayam dan itu masih.


Terlihat sepi wajar, karena sudah malam. Tapi ujar sang pemilik mie ayam tutupnya semaunya. Kalau masih dan belum ngantuk ya tetap buka. Waktu kami ke tempat mie ayam itu pun, bapak tukang mie ayamnya sedang asik bermain hanphone pintarnya. Mungkin itulah yang membuatnya betah jualan. Meskipun sudah malam nan sepi. Android bisa menemaninya.


Melihat sepeda, kami bersyukur tidak terjadi apa-apa. Hanya saja yang satu remnya sudah tidak berfungsi. Untung saja tidak terjadi bocor pada bannya ataupun rusak dibagian yang lainnya. Mengingat bengkel yang susah dicari pada saat malam hari.


Awalnya sih pesan mie ayam saja. Tapi ketika tukang mie ayamnya menawarkan kami mau dikasih bakso atau tidak. Kami mengiyakannya. Karena sudah lapar dan ingn makan mie ayam.


Muka kami sudah tidak karuan, kucelnya nambah, lapernya luar biasa. Senyum dalam pose pun terpaksa agar bisa membuat senang orang yang melihatnya. Endro memesan es jeruk sedangkan aku memesan air es. Apapun itu yang terpenting ada esnya bagiku.


Padahal masi panas, tapi Endro dengan lahapnya menyantap mie. Wajar saja kalau lape, badan lemas dan serasa tak berdaya.


Begitupun aku yang sama lapernya, tapi aku tetap santai menyantapnya. Bukan karena tidak lapar tapi memang benar-benar panas ini mie ayam. Dari pada bikin rusak pada lidah lebih baik santai. Tapi kalau kuat yang tidak apa-apa.


Setelah selesai makan mie ayam kami melanjutkan perjalanan pulang dengan melewati 22 KM perjalanan. Tak terasa setelah tidur di pom bensis tadi kami jadi lebih ringan untuk mengayuhkan sepeda. Dengan jarak yang lumayan jauh, kami hanya istirahat 2 kali. Terakhir isitrahat di pasar seni gabusan. Disitu kami tidur karen terasa lelah kembali.


Sesampainya di kost kami hari Rabu, pukul 01.30. Kalian bisa bayangkan dari pukul 16.00 dari pantai Ngunggah hingga sampai ke kost pukul 01.30. Jika di total dari pagi akan lebih banyak jam dan perjuangan yang kami korbankan. Tapi semua itu terbayar dengan keindahan dan asrinya pantai Ngunggah. Kami juga belajar pengorbanan dan sabar untuk sampai ke pantai Ngunggah.

Jangan heran kalau fotonya banyak. Yang ada di blog ini belum seberapa. karenaya jumlah seluruhnya ada 300.an foto. Itu saja belum termasuk video selama dipantai.

Aku salut kepada mereka yang sudah sampai duluan ke pantai Ngunggah dengan bersepeda. Kalau kamu kapan mau gowes ke pantai Ngunggah ini ?

Berangkat Selasa, pukul 06.30 pagi, sampai ke kost Rabu, pukul 01.30 pagi


Rincian pengeluaran :

Yang Dibeli
Harga
Minuman, Roti dan Agar
Rp. 15.000,-
Makan di Angkringan
Rp. 16.000,-
Beli Aqua + 2 Aqua gelas
Rp. 7.000,-
Beli es di Angkringan, Ceker + Sayap
Rp. 16.500,-
2 Minuman Dingin + Cilok
Rp. 13.000,-
Mie Ayam Bakso Plus Minum
Rp. 29.000,-
JUMLAH
Rp. 96. 500

Jumlah seperti ini karena kami berdua. Jadi setiap membeli minum ataupun makan kami beli 2 porsi. Tapi semua jumla pengeluaran selama kami gowes jangan dijadikan patokan. Karena semua pengeluaran tergantung setiap orangnya. Biasa saja hanya main di malioboro bisa menghabiskan uang ratusan ribu. Sekali lagi kembali lagi sama orangnya dan apa yang dibelinya.

Kami berharap dapat ada kesempatan lagi untuk menjelajahi pantai-pantai yang asri lainnya. Dan tentunya penuh tantangan. Yuk berikan komentar kalian ?

Artikel Terkait

Founder DiaryMahasiswa.Com Hobinya Jalan-jalan, makan, bersepeda dan membaca | Penulis 5 Judul Buku | Bisa dihubungi : PIN : D097B234 | SMS/WA 085723741831

98 komentar

Kalo gue mah mending naek motor lah .. Itu sampe dua hari gitu dr brgkt trs pulang ? pasti capek bgt.

Mending tidur lah dari pada gitu.. haha

ternyata gk sia2 ya perjuanganya, indah pantainya dan aku baru mendengar nama pantai itu..

Mie ayam baksonya JOSS :v
Pengeluarannya juga JOSS :v
Tetap semangat gowes bang :v

Naekk sepeda ya...???

Kayaknya gue butuh Go-Jek dah...

Gue udah follow juga ya Blognya...

oke, thank ya..

Iya naik sepeda, jadi terasa perjuangannya...
kira2 berapa duit tuh kalau naik Go-Jek.. mau kah ngaterinnya si abangnya :D

Wah sepertinya mas Umar ini lavar ya.. :D
Jeli sekali sama makanannya.. padahal kan banyak tuh makanan yang aku bel. hee

Sebenarnya semua jumlah pengeluaran selama kami gowes jangan dijadikan patokan. Karena semua pengeluaran tergantung setiap orangnya.

Hayo gowes bareng mas..

Nah itu dia pantai yang terdengar asing namanya memang banyak di Gunung Kidul. Perjuangan tidak membohongi, alhasil terbayar lah dengan keindahannya.. hee

haha.. tidur sambil mimpi aja mas, mimpi ke pantai Ngunggah sekalian. wkwk
Jadi kan gk capek.. :D

Haha. naek motor juga susah bro, tapi kalau naek sepeda jadi tahu perjuangan dan kesabarannya seperti kami..

Kasihan Eni ilang:(

Itu mau ke pantai Ngunggah ternyata perjuangannya cukup berat ya, harus melewati tanjakan, lembah jurang dll hahahah. Sampe udah beberapa kali nyerah. Tapi perjalanannya yang panjang bener-bener gak sia-sia, pantai ngunggah-nya indah, dari foto aja keliatan bagus banget, masih alami dan bener-bener asri. Omaygad!

Iya itu si Eni hilang :( padahal aku dapetinnya juga susah.. suka gak tahan kalau lagi jalan atau naik motor lihat orang nyepeda, rasanya ingin sepedahan..

Semoga cepat dapet pengganti si Eni nya. :)

Tapi untungnya punya teman yang baik, yg mau minjemin. hee

namanya ngunggah, sama seperti jalannya nggunggah, #Ehh munggah (naik) maksudnya :D

gokil om perjalanannya. Mana gowes pula. pasti pas sampai di tempat tujuan apalagi ini tujuannya pantai, capeknya langsung hilang karena puas :))

Bener bang, serasa capeknya langsung hilang gitu.. sempat juga tidur disana.. Adem pula sembari dengerin suara ombak :D

Ampun deh mas, lu niat amat mau liat pantai jauh gitu genjot sepeda?

Naik motor napah, hahaha

Kalau naek motor gk ada perjuangannya mas.. Kalau naek sepeda justru ada tantangannya..

Awalnya ku kira tak sejauh itu, Ehh buset jauh juga. Tapi jadi tahu dan terbayar lah sama keindahannya :)

Lumayan keren juga nih destinasi tempatnya. Dilihat dari view, layak dicoba. Tapi mahal banget itu harga makanannya.

Benar2 petualangan sejati... banyak makannya dan banyak tidurannya... hahahaa...

Itu ngetrip make sepeda bisa siang malam??? ruuuaarr biasa..

oh ya, baru denger nama pantainya saya :)

Hhahahaha, seru banget kan kalau sepedaan. Aku malah kangen sama tanjakan di Siluk, jadi pengen ngulang tanjakan sana lagi :-D

Itu setiap beli makanan 2 porsi bang, karena kami berdua.. kalau buat sendiri pasti gk segitu harganya..

Lebih murah lagi kalaw bawa bekal bang.. :)

Iya petualangan mas Dar,maklum sebelum berangkat kami tidak makan, malam juga sama.. hee

Itu ngetrip paling lama, sampe berangkat Selasa, pulang hari Rabu :)

Na sekarang jadi tahu kan sama Pantai Ngunggahnya :)

wah asyik ya gowes sepeda ke Pantai ngunggah itu. sensasinya jd berasa banget kesana, 4 jam? super sekali. mantaaabb travelingnya mas

Wah mas Nasirullah malah sudah duluan kesana ya ?

Benar seru bangen bang.. haha.. sampe kangen gitu,, apalagi habis tanjakan, ketemu turunan.. wuiiihhh... :D

Iya bener mba jadi berapa perjuangannya.. itu lebih mba, untuk berangkatnya aja 8 jam, dan pulangnya lebih dari kami memilih jalan, soalnya rem sepedanya blong.. :)

Halo Mas Andi, sebelumnya salam kenal ya.
Sepanjang baca postingan ini, aku ikut merasakannya juga. Hampir 1 hari penuh di jalanan... Mungkin kalau aku ikut, kayaknya udah minta digendong :(
Nama pantainya baru aku denger, dan ternyata emang belum ramai dikalangan wisata ya. Tapi aku suka!!! Tapi banyak lika-liku jalan. Pengen ke sana... Semoga kesampaian.
Aku sih nggak kebayang pas balik ke kosannya. Malem-malem di jalanan terus fasilitas penerangan belum memadai... Di sekitaran hutan lagi. Sampai kosan dini hari. Salut!
Pulang-pulang badan pegel nggak, Mas?

Wah edan, itu gowes sampe lama gitu, jadi tidur dimana aja ya mas :D

Hallo juga Mba Riska, salam kenal juga ya :)

Ikut merasakan capek ya mba,, hehe.. Wah kalau Mba Riska miinta gendong, siapa ya yang mau gendong coba.. hehe :D

aamiin, semoga kesampaian ya Mba,, memang jalannya lika liku, plus naik lagi, wajar naik namanya juga ke Gunung Kidul.. hehe..

Nah itu dia mba, mana kaki sampe kram. Awalnya aku kira tidak sampe malam gitu, tapi itulah perjuangan dan aku jadi tahu .. hehe

Bukan pegal lagi mba, tapi puegalll :D
Teman saya malah sampe memar itu kakinya, soalnya nuntun sepeda hampir 2 jam.an di jalanan turun.. :)

Tapi itu semua membuatku senang .. :)

Iya itulah mas, karena capek jadi tidurnya dimana saja, asalkan bisa membuat kami nyaman dan nyenyak.. hehe

Gilakk , blog kamu rapi banget hehhe, jdi betah buka dari tab
Tapi seremnya pas rem blong tu,
Telor asinnya sa kali minta satu hehheh

Mkasih mba :)

Nah itu dia Mba, makannya pas pulang kami memilih untuk jalan aja, agar aman.. heee

Boleh mba, 5.000 tapi ya.. hehe

Wah. kamu sering dolan sama mas mawi ya ternyata. kok makin banyak aja ya wisata pantai di gunkid. aku belum pernah k sini

Hanif insanwisata.com

Belum pernah malah mas, cuma blog mas mawi itu yg aku jadikan referensi kalau mau cari tmpat2 maen.. hee
Pgen kapan2 bisa maen bareng mas Mawi..

Masih banyak lagi yg belum di kunjungi di Gunung Kidul mas..

Salam kenal ya :)

wow.. sepedahan doang bisa ke sana? hobi kamu jadi inget sama orang indonesia yang menjelajah dunia pake sepeda, kayaknya bisa tuh kamu juga.
kok aku g tau pantai ini ya? pantai baru kah?
kalau yang kamu sebutin kayak samas, goa cemara, dsb tadi aku tahu dan udah pernah kesana. tapi pantai ngunggah, hm.. baru kali ini aku dengar

Waduh greget banget mas, ane ngebayangin sambil baca ini malah sudah capek hahaha...tapi top lah... Apalagi pemandangannya hehe. Ehh cerita yg remnya blong serem banget hiii

Iya mba, ini juga jarang2 karena belum menemukan pengganti si Eni. Kalau sudah ada mungkin ada lebih rutin sepedahan.. :)

Wah bisa jadi mba.. tapi untuk keliling dunia pake sepeda, harus dipikirkan lagi.. hehe

Baru atau tidaknya aku kurang tahu, yg pasti di Gunung Kidul sendiri banyak sekali pantai2 yang masih asri dan belum banyak orang yang tahu..

Oh gitu, kapan mba ke pantai samas, goa cemara sdb ?

Cape yang gowesnya Mas.. Hehe..

Iya jadi gak sia2 perjuangan untuk mendapatkan pemandangan yang indah :)

Nah itu dia mas, untung saja aku bisa mengendalikannya.. Kalau tidak aku udh jatuh tuh.. 😀

Yang dibeli itu makanan semua ya? Hahaha, lebih enak bawa sendiri makanannya. Lebih ngirit. Pemandangannya cantik sih. Keren juga.

iya rob, biasanya aku membawa bekal terus, tapi kali ini gk bawa :D

Secantik perjuangannya rob .. hehe

Ngeri perjuangannya bro, tapi terbayar lah sama pemandangannya :)

Iya itu dia, meskipun lelah tapi aku merasa puas mas :)

WAAAAKZ! Ediyan nyepeda ke Pantai Ngunggah! :D

Padahal di artikel blog udah aku kasih peringatan supaya jangan ditiru, wkwkwkw...

Lha piye? Masih belum kapok nyepeda ke Gunung Kidul? :D

Kalau masih penasaran cobain deh nyepeda ke Laut Bekah. Cuma "tetangganya" Pantai Ngunggah kok. Cuma jalan ke sananya lebih menguji kesabaran, wkwkwkw. :D

Tapi ya aku salut untuk orang-orang macam kalian yang sudah berani nyepeda ke pantai di Gunung Kidul macam ini. :D

Alhamdulillah juga, 2 tahun sudah lewat dan belum ada orang kaya kurang kerjaan yang bangun resor di Pantai Ngunggah. Tetaplah jadi pantai yang mengundang pensaran para pesepeda Jogja! :D

Wah ini yang punya mblusuk baru kelihatan. :D
Sebelumnya salam kenal ya mas Mawi, siapa tahu bisa gowes bareng.. hehe

Aku sudah terbawa aliran gak ada kerjaan, udah kebusuk, ehh jadi terbawa :D

Kapan-kapan deh, aku cobain lagi mas, soalnya aku belum menemukan pengganti si Eni..
Kalau sudah kan, jadi lebih bebas bisa kapan saja dan kemana saja gowesnya :D

Dengar jalannya lebih menguji seperti jadi penasaran, meskipun sudah tahu bakal pegal-pegal, tapi terbayar kalau sudah sampai sana .. hhee.

Karena kurang kerjaan, makannya kami mencari keindahan dengan cara perjuangan. Berjuang untuk kesananya.. hhe

Waaw sepertinya ini kunjungan pertama ane disini gan.
Amazing sekali.
Seneng rasanya silaturahmi ke Blogger Travel (eh iya ga sih?)

btw, kita banyak kesamaan loh gan,
ane kalo jalan-jalan lebih suka naek sepeda.
sayanganya ane ga pernah naik sepeda kepantai, karna lokasi pantai dari kost ane jauhnya Subhanallah gan.

Ini cerita agan selama sehari kalo dijadiin Vlog ke youtube bakal rame gan.
eh ga tau juga deng.

But so far, ilove your journey sih.
apalagi dengan biaya yang relative murah gitu.
mungkin ini salah satu hikmah bersepeda, duit ga abis di ongkos jadinya.
Hiduup Pesepedaa

Wadaw lengkap sekali kang perjalannya kalau pengalaman saya mah menderita sekali kang yang pertama karena lintasannya jauh dari perkotaan jadi sulit untuk mencari makanan kaya diatas kang.

Oh kitu, Alhamdulilah.. Salam kenal ya mas Khairul :)

Hehe.. gak juga kang, cerita ini hanya salah satu dari hobi saya.
Yang lainnya mah gak tentang travelling juga ko :D

Oh yah, iya benear mas. Dengan bersepeda kita jadi lebih tahu detailnya jalan untuk menuju ke tempat yang baru kita kunjungi.. :)

Wah gitu, ini juga pantainya jauh mas, memang ada pantai yang dekat yaitu pantai Parangtritis, kalau ke situ 2 jam an sampai lah.. :)

Wah iya seru kayaknya, tapi aku kecapean dijalannya, gak sempat video :(

Iya mas, uang yang aku keluarkan itu untuk berdua. Baru kali ini habis segitu, biasanya kami membawa bekal makanan terus.. :)

Yeahh,, Hidup Pesepedaa...

Iya itu perjalanan dari berangkat sampai pulang lagi.. hehe.

Oh gitu, harusnya kang Nurul membawa bekal makanan saja dari rumah, jadi meskipun tidak ada warung masih bisa tetap makan.. hehe

Serius nih gowes berapa jam? Ya ampun... gila!! Aku aja sering gowes, cuma sejam udah capek. Apalagi ini? Aargh... tidak, terima kasih!!

Duh kakak, keringat-keringat kamu bagaikan bermandikan air.

Tapi, keren banget bisa gowes segitu lamanya.

Semangat kakak!

Serius mba.. Berangkat hari Selasa, pukul 06.30 pagi, sampai ke pantai pukul 13.30.. Kemudian pulang dari pantai pukul 16.00 dan sampai ke kost hari Rabu, pukul 01.30 pagi...

Itu perjuangan untuk mendapatkan keindahan seperti pantai Ngunggah .. hehe

Iya tuh keringetnya sudah kaya mandi.. haha

Keren juga perjalannya mba . hehe

Semangat juga buat Einid Shady, semoga saja bisa gowes seperti itu . hehe

Pantainya cantik juga. Btw, itu pantainya pantai pasir apa lumpur ya?

Iya cantik.. :D
Pantainya pasir mas,,

Memang keren nih perjuangannya.. Gak nyesel kan bisa liat pantai yg indah seperti itu..

Banyak yang masih asri ya kalau di gunung kidul pantainya..

Tentu, perjuangannya berbuah manis Mas.. hee

Nah itu dia, selain asri banyak orang yang belum tahu juga lho.. hehe

Kalau mau gowes sepeda jadi jangan sampai kurang tidur malemnya ya mas, biar nggak kecapean,,, biar jadi nggak bikin orang yang memandang muka kelelahannya jadinya ketawa (hehehe ini becanda mas)...

Bagi yang hobi gowes sepeda, pasti menyenangkan menelusuri pantai ngunggah dengan gowes sepeda, walaupun pasti capek tuh ya.... hehehehehehehehehehe :D

Hehe.. wah masnya perhatian sekalih :D
haha.. muka lelah kami membuat mas Diar ketawa kah.. :D

Capek pasti mas, bahkan sampai putus asa, tapi capeknya terbayar dengan indahnya pantai Ngunggah..

Perjalanan yang bekesan apalagi dengan sepeda dan jarak jauh lagi. Jujur sangat tepukau dengan petualangan mas. Intinya mas orangnya tidak mudah putus asa dan mau beusaha keras.

Mangga kang di candak we,, hehe
Beli 2rb juga udh banyak kang. hee

Tidak hanya menggapai cita2 saja yang perlu perjuangan, petualangan pun demikian.. :)

Terimakasih Pa Adam :)

Udah lama gak maen sepeda. Dulu gue termasuk sering maen sepeda. Sekarang udah nggak. Udah gak punya juga sepeda. Hehe

Kayaknya seru deh maen sepedahan. Walaupun ya gitu, pasti capek. Tapi yang namanya hobi ya pasti seru. :))))

Oh yah, kemanain sepedanya bang ?

gue juga belum nemuin pengganti si Eni.. Tapi Alhamdulilah banyak teman2 gue yang baik yang mau minjemin sepeda :)

Bukan seru lagi, capek dan lelahnya terbayang ketika menemukan tempat yang indah seperti pantai Ngunggah ini :)

Pejuangan gowes dalam jangka waktu yang sangat lama, luarbiasa sekali.. Nanti bisa dicoba tuh mudik ke Ciamis gowes sepeda hihi

hehe. bisa dicoba tuh. :D
tapi sepertinya istirahatnya akan lebih lama.. hehe

Eike paling malas liat postingan jalan2 begini wkwkwk. . Irik. . Tapi bileh deh sekali2 nyobain. . Cuma kalau dari bsd ke serang wkwkwkw

hehe.. jangan males dong mba.. nanti gak diajak jalan2 lagi sama mamah tuh.. :P

Sumpah! Lengkap banget pengalamannya...!! Aku baca sambil ngebayangin capek banget kalo naik gunung, jalan kaki, belum lagi rim blong ya Alloh..

Tapi pantainya bagus banget! Keren. Sepi lagi dan pasti belum banyak sampah.

Itu bunganya bau. Jadi aku bilangnya bunga tai ayam :D

Sumpah! Capek juga ngebayanginnya... jadi? Nyesel gak ke pantai bersepeda?? :P

Yang gowesnya juga capek mba Arum.. hehe
nah itu dia pas rimnya blog, kami memilih untuk jalan pulangnya, terutama di setiap turunan.. Karena malam banyak kendaraan takutnya nabrak tak bisa mengendalikan ...

Iya pantainya bagus dan masih asri lagi.. Gak nyesel, malah seneng, jadi ada perjuangannya untuk melihat pantai yang asri nan indah itu.. hehe

Masa sih bau mba, aku malah gk mencium baunya kemarin.. hehe

Rencana kalau sudah ada pengganti si Eni, bakal lebih sering lagi gowes nih, sementara pake sepeda temen dlu selagi tdk dipake. :)

Keren juga perjuangannya mas Mirwan :)

asyik banget kang trek nggowesnya, destinasinya juga menarik, blom pernah nggowes jauh2

hehe,, iya nih kang.. bisa dicoba untuk gowes jauh kang.. :)

Sehat nih gowesan jauh begitu ^_^

Semoga makin konsisten sepedaannya supaya banyak yang terinspirasi untuk jaga badan dengan olahraga.

Jadikan olahraga budaya yang positif! ;)

Iya mba, Alhamdulilah :)

In shaa Allah mba, nanti kalau sudah ada pengganti si Eni, mudah2an lebih konsisten lagi berolahraga dengan cara bersepeda .. :)

Bhadalah aku baru denger ini Pantai Ngunggah, padahal aku wong Wonosari. Tapi Wonosari-Panggang sudah kayak Wonosari-Jogja ding hahaha.. btw, itu tiduran di deket rumput gajah (kalanjana) apa gak gatel? Wkwkwkwkwk..

Masa sih mas Tom baru dengar.. hehe
aku kesitu juga tanya2 mas, soalnya pas mau tanya si mbah google maps, sinyalnya kurang mendkung, mungkin karena kartuku juga.. hehe

Alhamdulilah mas tidak apa2, dan sampai kost pun hanya lelah dan capek yang dirasa tanpa galta2.. Dan itu wajar :)

Kalau orang Wonosari berarti sudah menjelajah ke pantai mana aja nih mas Tom ?

Perjalanan dengan naik sepeda yang mantaps itu, Mas. Saya belum pernah naik sepeda ke pantai. Paling jauh saya bersepeda ke daerah Cangkringan dan sekitarnya. Sekali lagi, mantaps... Mas.

Terimakasih pa Akhmas sudah mampir :)

Bapa suka gowes juga ya, bersepeda di Yogyakarta itu menyenangkan. Saya jarang juga kalau setiap bersepeda dengan jarak yang jauh. Tapi kalau ada waktu luang biasanya nyari2 tempat yang masih asri seperti pantai. Selain bisa berpetualang, bisa menikmati perjuangannya juga untuk mencapai tempat yang dituju.. hehe

Ya ampun...pagi-pagi subuh begini liat cilok..... langsung ngiler. Tanggung jawab!! Beliin cilok.

Ikutan menggos-menggos pas baca part nuntun sepeda di tanjakan.. emang ya kalo udah hobi, apa pun dilakuin, :D

Siapp.. Mau sedikit atau banyak saosnya kak ? :D

hehe.. Makasih ya mba Meriskan sudah mau mampir dan baca :)
Iya kalau hobi mah apa aja dilakuin.. hehe

Mantab bang , apalaigi bersepeda dengan Speda kesanyangan . pasti tambah asik jalan-jalanya
OBAT BATUK ANAK HERBAL

Bener tuh, kalau sudah ada pengganti si Eni pasti akan lebih asik lagi bersepedanya.. :)

wiihh seru juga, jadi pengen berpetualang naik sepeda :)

Seru plus seneng kang.. hehe
Hayu atuh berpetualang :)

Asyik tuh mas bisa gowes kepantai ada acara makan makannya lagi

Asik dan seru mas, serasa ada perjuangannya untuk melihat pantai :)

Gue mah ampun kalau suruh gowes sejauh gitu bang.. haha

Asik tuh kayaknya... sampe dua hari gitu ya.. skalian keliling indo bang..

Wah bahaya juga kalau remnya blong.. harus lebih hati* lagi mas..

Kalau bukan hobi memang susah sih bang.. Kalaupun mau mencoba, dipikirkan lagi ya... hehe

Karena benar kata mas Mawi, yang gowes ke gunung kidul itu orang2 gak ada kerjaan.. haha

Asik, senang, bahagia, capek, lelah. Tapi itu semua aku lakukan atas senang, tanpa paksaan, tanpa disuruh pun.. :)

Dibalik itu semua ada rasa terbayar ketika sampai ke pantainya .. :)

Dari awal memang kami tidak tahu akan terjadi seperti itu, tapi Alhamdulilah sampai kost dengan selamat, hanya saja capek dan lelah, tapi itu wajar :)

MasyaAllah.... Mantap mas wijna virus wkwkwk

waw.. mantep,,
g kebayang naik sepeda rasanya naik motor aja rasanya udah pegel-pegel naik kepantai ngunggah..salam kenal juga mas andi :)

Hehe..biar terasa perjuangannya mas alan 😀

Terimakasih buat yang sudah mampir untuk menyempatkan membaca coretan, diary, unek-unek di www.andinugraha.com

Silahkan tinggalkan komentar kamu dibawah ini, jangan berkomentar tidak sopan, jangan berkomentar yang mengandung unsur SARA. In shaa Allah aku sempatkan untuk membalas satu persatu.

Sahabatmu,
Andi Nugraha
EmoticonEmoticon