April 25, 2017

Menikmati Sore di Grhatama Pustaka Yogyakarta


www.andinugraha.com - Cuaca sore di Yogyakarta saat ini sering sekali mendukung, alias cerah. Itu tandanya aku bisa memanfaatkannya dengan berbagai hal, misalnya bersepeda, bersantai ataupun melakukan berbagai hal yang lainnya. Sore itu aku diajak main sore ke perpustakaan oleh Maman.

Awalnya aku gak mau, karena waktu juga sudah sore. Kurang lebih tepat pukul lima sore aku berangkat ke perpustakaan. Niat awalnya bermain sembari membaca. Aku juga ada buku yang waktu itu belum rampung aku baca.

Untuk bisa melihat bagaimana dalamnya, silahkan baca ini juga : Grhatama Pustaka Yogyakarta, Perpustakaan Terbesar Se-Asia Tenggara

Sesampainya di perpustakaan ternyata banyak juga para pengunjung yang berdatangan disaat sore. Tapi banyak dari mereka yang sengaja tidak masuk ke perpustakaan. Mereka hanya bersantai duduk diluar sembari menikmati pemandangan sembari mengabadikan foto.

Setelah menyimpan motor, kami keluar lagi untuk mengabadikan foto. Diatas rumput dengan background gedung Grhtama Pustaka Yogyakarta.


Meskipun diluar gedung, tapi aku masih bisa melanjutkan baca buku. Yang selalu nyelip di tas kesayanganku. Dan itu selalu berganti-ganti, tergantung buku yang belum selesai aku baca. Meskipun begitu, membaca diluar tidak selalu nyaman, dengan alasan tempatnya yang terlalu ramai, banyak orang.
Di tempat ini aku rasa tidak hanya sore, justru pagi hari akan lebih nyaman. Terutama cuaca yang cerah dan tempat yang nyaman. Apalagi bersantai di gasibu belakang gedung Grhatama Pustaka ini. Tapi sore itu aku belum sempat bersantai di gasibu, karena ramai, banyak orang yang sedang bersantai.



Aku meluangkan waktu untuk baca, sedangkan Maman sibuk beramain game COC (Clash of Clans). Semenjak punya android, Maman tak pernah telat untuk bermain game itu. Bahkan setiap malam selalu bermain bersama dengan adeknya. Meskipun adeknya berbeda tempat, Maman di Yogyakarta, sedangkan adeknya di Lombok. Malahan adeknya jauh lebih lama bermain game COC (Clash of Clans) dibandingkan dengan Maman. 


Disaat sore tidak hanya kami saja yang duduk. Tapi banyak yang lainnya juga. Satu yang paling aku tidak suka, banyak yang berdua-duaan gitu, yang bahasa kasarnya mah pacaran. Memang tempat ini bebas buat siapa saja. Namun, kurang suka aja liatnya kalau liat orang yang berdua-duaan gitu. Malahan niatnya kami pengen banget duduk di atas, tempat yang berumput juga tapi lokasinya sedikit lebih tinggi.

Kalau duduk disitu bisa lebih menikmati pemandangannya. Kami mencoba sabar untuk bisa bergantian duduk, tapi sampai sore, mereka tidak pidah. Kami berpindah tempat ke dekat gasibuk, dan aku baru tahu di Grhatama Pustaka ini ada tembok, dimana terdapat coretan yang menurut aku keren, apalagi buat background foto.


Kami mencoba mengabadikan foto dengan background tembok keren. Baru tahu juga ternyata tempat ini semakin sore semakin ramai. Terutama lokasi background tembok itu. Setelah aku bergantian fose dengan Maman. Ada bebrapa orang yang datang segnaja untuk mengabadika foto juga.




Disaat aku melihat ke arah gedung perpustakaan, aku melihat seorang perepuan yang sedang tertawa menutupi mulutnya dengan tangan. Aku rasa dia menertawani kami yang sedang berganti-ganti fose foto. 

Gedung Grhatama Pustaka ini, kalau dilihat sore hari serasa hotel yang berbintang-bintang. Tidak lagi seperti perpustakaan. Tapi perpustakaan saat ini memang dibuat senyaman mungkin untuk para pembaca yang datang.


Tak terasa hari mulai malam, kami bergegas untuk masuk ke dalam perpustakaan untuk melaksanaka shalat. Setelah itu baru pulang. Perjalanan ke dalam perpus tidak jauh, tapi kami mencoba memanfaatkan backgound gedung disaat menjelang Maghrib.



Setelah pulang, temanku, Sholeh namanya. Dia mau pergi ke kost Maman, katanya udah lama tidak kumpul. Aku juga tidak langsung pulang, sekalian kumpul dan kebetulan malam terakhir bertemu dengan Imam, sahabatku juga. Dia seharusnya wisuda tahun kemarin, tapi karena ada kendala jadi diundur tahun 2017 ini, in shaa Allah bareng denganku.

Tapi dia sudah selesai sidang diawal tahun, jadi tinggal nunggu wisudanya aja. Sebelum Imam memusutkan pulang alias pulang kampung, dia juga sudah cari-cari kerja di Yogyakarta. Tapi belum rezekinya, karena tidak mau membuang-buang waktu, dia memilih pulang untuk lebih dekat bersama keluarga.


Kami tidak hanya bertiga, kebetulan ada Bayu yang datang juga ke kost Maman, ada juga Tri yang satu kost dengan Maman dan Imam. Kami memutuskan untuk makan bareng bakso jumbo. Bakso yang sederhana, cukup dengan harga Rp. 10.000,- aja.

Baca juga : Bakso Klenger Ratu Sari Yogyakarta


Lagi-lagi diakhir tulisan, aku sering sekali mengakhirinya dengan sebuah makanan, entah itu apa. Yang jelas itu sering, dan kesekian kalinya ini bakso. Ya, semoga aja kalian tidak pengen, apalagi ngiler.

Itulah, caraku menikmati sore di Grhatama Pustaka Yogyakarta. Teman-teman biasanya kemana kalau menghabiskan waktu sorenya ?

April 15, 2017

Serba Ayam


www.andinugraha.com - Sebagai anak kost jarang-jarang kan bisa makan ayam. Tapi waktu itu aku lagi pengen makan sama ayam. Beruntungnya sedang ada rezeki. Alias ada uangnya. Kurang lebih dalam sebulan makannya serba ayam, ada 3 sampai 4 kali. Baik ayam geprek ataupun lainnya.

April 5, 2017

Gowes Sore ke Malioboro


www.andinugraha.com - Selepas Duhur waktu itu, udara di Yogyakarta terasa panas sekali. Aku dan teman-teman kuliah kerja lapangan (KKL) dulu berkumpul di temapt favorit. Kedai Cadudu namanya. Makanan yang sering kami beli tidak jauh dari kebab dan es jeruk atau teh. Tapi waktu itu aku mencoba beli milshake, pengen coba sesekali.

Di kedai ini ada banyak pilihan makanan dan minuman. Salah satunya ada roti maryam. Tapi maaf, aku belum sempat memoto kedainya untuk dikasih tahukan teman-teman disini. Sebenarnya sederhana tapi berada di lingkungan pesantren, tepatnya di daerah Krapyak. Dimana setiap sore hingga menjelang Maghrib banyak para santri dan santriwatinya berkeliaran.

Ada yang sengaja jalan-jalan atau duduk santai. Tapi paling banyak beli makanan atau cemilan. Di Krapyak sendiri banyak yang jual makanan. Mulai dari makanan ringan dan berat ada disitu. Hargana juga terbilang murah dan tentu banyak pilihan. Aku juga sering makan di daerah Krapyak kalau malam.

Ini milshake dan roti maryam yang aku beli. Teman-teman ada yang mau ? Eit, jangan kepengen ya. Kalau ada yang ngiler, aku gak tanggung jawab ya.


Milshake yang aku pesan rasa coklat. Dicampur dengan serutan keju dan kacang. Rasanya nikmat dan sangat cocok aku minum di siang hari yang panas. Sempat aku pesan rasa duren, tapi aku kurang suka, habis minum yang rasa duren, pulang pusing kepalaku. Ah, aku rasa teman-teman sudah tahu seperti apa rasanya minuman yang aku pesan.


Oh, iya foto diatas adalah roti maryam yang aku pesan. Entah apa namanya kalau di tempat teman-teman. Yang jelas itu seperti roti bakar gitu. Aku juga kurang tahu asal muasal kenapa dikasih nama roti maryam. Atau yang buat Maryam, ya ? Tapi seperti bukan, karena yang jualan di kedai cadudu laki-laki semua.

Setelah selesai kami bergegas pulang. Istirahat di kost masing-masing sembari menunggu shalat Ashar. Setiap cuaca sore yang cerah, aku berusaha meluangkan waktu untuk bersepeda. Dari beberapa teman kost yang dulunya sering gowes bareng sekarang cuma tinggal satu. Itupun jarang gowes, Sulis yang biasa gowes pagi dulunya, sekarang sudah tidak ngekost bareng lagi. Endro juga semenjak kerja di Solo jadi jarang gowes.

Tapi aku masih punya sahabat yang sekarang ini sering gowes bareng. Meskipun tidak satu kost tapi dia sering aku ajak gowes. Baik itu menikmati udara pagi keliling Jogja ataupun hanya sekedar cari makan. Kalau teman-teman sering baca tulisan gowesku di blog pasti tahu sahabatku siapa. Ya, Maman namanya.

Sore itu selepas shalat Ashar kami bergegas mandi kemudian lanjut gowes ke Malioboro. Hanya untuk menghilangkan penat sembari menikmat udara sore di Malioboro dan sekitarnya. Suasana sore itu sangat adem, tidak panas tapi cerah. Mendukung sekali untuk jalan-jalan santai bersama keluarga.


Sesampainya di Malioboro aku duduk santai sembari menikmati pemandangan. Beberapa kali melihat banyak kendaraan maupun orang yang berkunjung ke Malioboro juga. Di tempat ini teman-teman jangan khawatir kalau lapar. Banyak yang jualan makanan, terutama sate lontong dan minuman dingin yang ada di sekitaran trotoar.

Setelah itu kami melanjutkan untuk menelusuri Malioboro. Tidak jauh dari tempat dimana aku duduk, kami melihat pertunjukan angklung. Hal ini yang aku suka. Pertunjukan angklung ini biasa ada dari sore hingga malam. Beberapa pertunjukan angklung juga tidak hanya ada di Malioboro saja. Tapi di jalan tepatnya dekat lampur merah.


Dimana lampu merah menyala, salah satu dari team angklung menyodorkan tempat untuk meminta uang. Aku sendiri kalau lagi ada ya kasih, kalau tidak ya tidak. Tapi jujur, selama kita nunggu lampu merah berubah jadi hijau itu cukup lama. Tapi kita bisa menunggunya sembari menikmati alunan musik yang dihasilkan oleh angklung.

Berhubung waktu sudah mendekati maghrib, kami bergegas pergi ke Taman Palkir Portable Abu Bakar Ali (TPP ABA). Yang aku suka dengan Malioboro sekarang itu lebih terlihat tertata karena sudah tidak boleh lagi kendaraan palkir di kawasan Malioboro. Jadi saat ini sudah disediakan Taman Palkir Portable Abu Bakar Ali (TPP ABA), menurut sumber yang aku baca, untuk menyelesaikan pembangunan taman palkir tersebut menghabiskan biaya 21,9 miliyar, wow. Seperti ini palkirannya.


Tempat palkir ini mulai di operasikan mulai tahun 2016. Parkiran ini memiliki tiga lantai, kapasitas 40-50 kendaraan untuk mobis dan bus. Untuk dilantai dua dan tiga masing-masing menampung sekitar 1.000 kendaraan. Selain tempat parkir, dilantai 1 juga ada kios yang digunakan pedagang yang dulu kiosnya dibongkar. Terdapat 76 kios dengan luas 2,2 meter x 1,6 meter. Kemudian disediakan juga toilet dan P3K. 



Awalnya kami menyimpan sepeda di lantai 2. Setelah dipikir-pikir lebih baik dibawa saja karena kami juga mau pergi ke lantai 3. Lantai paling atas. Di tempat ini udaranya dingin, kami juga bisa melihat pemandangan dibawah dan sekitarnya. Beberapa bus juga banyak yang masuk ke parkiran ini. Kebanyakan memang rombongan stady tour dari berbagai kota di Indonesia.


Gowes sore itu aku masih seperti biasa ditemani fijo (fixie ijo). Jogja memang tempat yang sangat nyaman untuk bersepeda. Tidak hanya kami yang ada di lantai tiga parkiran Abu Bakar Ali ini. Tapi banyak orang juga.



Tidak hanya aku dan Maman yang mengabadikan momen sore di Taman Parkir Abu Bakar Ali ini. Tapi semua orang juga. Semakin sore, semakin banyak orang yang datang. Melihat ke bawah, motor dan mobil terus berganti dari tempat parkir ini. Bersyukur, karena pemandangannya cerah, tidak hujan.



Perjalanan untuk turun dari lantai tiga ke dua juga lumayan menurun. Aku lebih baik menuntunnya agar lebih aman. Kalau sepedanya ada remnya tidak jadi masalah. Tapi demi menaga keselamatan lebih baik jalan sembari menuntun sepeda saja. Karena banyak orang juga yang bergantian naik turun. Ada yang baru mau parkir dan ada juga yang mau pulang.


Jiengyang. Sepeda Maman yang sudah menemaninya selama di Yogyakarta dari tahun 2013 akhir. Terlihat biasa, tapi manfaatnya luar biasa. Sepeda itu juga sudah sampai ke hutan pinus bareng fijo dan teman-teman yang lainnya. Teman-teman bisa baca disni.




Perlahan waktu terus berjalan, hingga akhirnya adzan Maghrib berkumandang. Kami sengaja diam terlebih dahulu sembari mendengarkan lantunan suara adzan. Setelah itu kami bergegas turun ke bawah untuk melaksanakan sholat di mushola sekitar tempat parkiran. Tapi kami harus mengantri karena banyak para stady tour yang shalat. Karena musholanya kecil jadi harus bergantian shalatnya.

Setelah shalat kami pergi ke Malioboro. Duduk santai di tempat duduk yang baru. Ya, tampilan malioboro yang baru. Untuk duduknya juga harus mengantri karena ramai. Satu hal yang paling aku tidak suka, banyak sekali pengamen. Baru selesai yang ini tak lama datang lagi. Begitu seterusnya. 

Karena capek, kami duduk aja di teras bawahnya, sembari duduk internetan. Karena di Malioboro sendiri kami bisa menikmati internet gratis. Sepeda kami simpan di belakang tempat kami duduk.


Semakin lama duduk, semakin ramai yang datang berbondong-bondong. Kami tidak nyaman akhirnya pindah tempat. Berusaha mencari tempat duduk yang kosong. Beberapa kali sempat gagal, karena siapa cepat dia yang dapat. Tapi kami mendapat kesempatan untuk duduk juga.


Saking senengnya, Maman senderan sembari senyum manis. Lelahnya terasa sedikit terobati ketika dapat tempat duduk. Begitupun aku, bisa santai sembari menikmati pemandangan malam di Malioboro.



Setelah cukup istirahatnya, kami memutuskan untuk pulang. Sembari mencari makan. Kebetulan malam itu kami sepakat makan bakso. Bakso jumbo. Tapi tak sebenar bakso klenger. Karena ini harga terjangkau dibandingkan bakso klenger yang ukurannya 1kg. Bagi yang belum tahu bakso klenger, aku kasih tahu ya.

Bisa dibaca : Bakso Klenger Ratu Sari


Bakso jumbo ini harganya Rp.10.000,- satu porsi. Aku rasa masih terjangkau buat anak kost sepertiku. Setelah selesai kami langsung pulang, cuci kaki kemudian istirahat. Ya itulah perjalanan gowesku disore hari ke Malioboro. Semoga dilain kesempatan cuacanya tetap sama mendukung.

Teman-teman kapan terakhir ke Malioboro ?

March 22, 2017

Jalan-Jalan di Solo


www.andinugraha.com - Semenjak nyaman tinggal di Yogyakarta, aku merasa ingin berkunjung atau sekedar jalan-jalan di kota yang jaraknya tidak jauh dari Yogyakarta. Misalnya Solo, Semarang ataupun yang lainnya. Semenjak ngekos aku punya sahabat, Sulis namanya. Dia yang biasa gowes bareng denganku. Dan kami punya rencana untuk main ke Solo.

March 17, 2017

Gowes Pagi, Sarapan Pagi


www.andinugraha.com - Bagiku Yogyakarta tempat yang sangat nyaman untuk bersepeda. Baik pagi ataupun sore. Dalam seminggu biasanya aku meluangkan waktu untuk gowes pagi, biasanya dua sampai tiga kali. Tapi tidak gowes yang jaraknya jauh-jauh. Cukup ke Tugu, Malioboro, Alun-alun ataupun menelusuri tempat-tempat pedesaan. Selain tempatnya asri, serasa di kampung halaman sendiri.

Baca juga : Gowes ke Pantai Ngunggah, Gunung Kidul

Pagi itu aku keliling di daerah Krapyak, entah kemana tujuannya. Karena aku juga tidak tahu, yang jelas aku menelusuri jalan terus. Dengan begitu jadi tahu tembusnya dimana dan kemana. Di daerah krapyak pagi itu rasanya adem, lingkungannya bersih dan masyarakatnya juga ramah-ramah.

Seperti biasa aku ditemani oleh sahabatku, Maman. Sebelumnya dia pernah ke jalan-jalan di Krapyak, makannya dia tahu beberapa tempat. Dia juga ngasih tahu kalau di daerah tersebut ada patung pahlawan gitu. Mendengarnya aku semakin penasaran. Sesampainya di temap, aku seperti biasa mengabadikan foto.


Kalau dilihat-lihat sih seperti patung perjuangan gitu. Tapi prosesnya belum selesai semua. Dibalik patung yang aku foto itu ada patung yang besar juga sedang proses pembuatan tapi belum jadi. Lingkungannya bersih, rasanya nyaman ada di daerah tersebut.







Setelah dari situ aku melanjutkan perjalanan untuk menelususi jalan yang ada di kampung itu. Dengan rencana setelah keluar, kami sarapan soto sebelum pulang. Dari gowes-gowes sebelumnya aku biasa sarapan soto setelah pulang. Ada dua opsi soto yang biasa aku makan. Yang pertama soto lamongan dan yang kedua soto rempah.

Dari kedua soto tersebut, kami seringnya makan soto lamongan. Pengen banget nyoba soto rempah sebenarnya, tapi sudah 5x kami belum kesampaian karena penuh dan kehabisan terus. Oke, sebelum ke soto rempah aku cerita soto lamongan terlebih dahulu.

Pertama makan soto lamongan, sepulang gowes dari Malioboro. Di papan soto lamongan tersebut tertulis harganya Rp. 6.000,- tapi setelah selesai makan dan bayar harganya tidak sesuai yakni Rp. 8.000,- Tapi kami berfikir positif aja lah, mungkin saja bapaknya lupa. Soto lamongan ini penyajian nasi dan sotonya terpisan, satu piring nasi, dan di mangkongnya soto. Seperti ini penampilanya.



Soto lamongan ini ada tambahan seperti kriuk gitu buat dicampur sama soto ataupun nasinya. Entah apa namanya tapi aku suka. Maman sendiri lebih suka makannya dicampur. Jadi terlihat penuh dan hampir tumpah gitu. Belum lagi ditambah gorengan.


Harga gorengan di soto lamongan Rp.1.000,- Untuk ukuran gorengannya terbilang kecil menurutku, harusnya Rp. 500,- tapi itu hak si penjual. Untuk di angkringan harga gorengan masih seperti biasa Rp. 500,- Untuk minum kami seringnya beli air es. Alasannya ngirit, sekalipun pengen yang manis-manis kami bawa dari rumah. Misalnya susu saset ataupun minuman berasa.

Baca juga : Menikmati Bakso Klenger Ratu Sari

Setiap makan soto lamongan kami menghabiskan, soto + air es + gorengan 2. Kalau dijumlah jadi segini.

1 porsi soto lamongan : Rp. 8.000,-
2 gorengan : Rp. 2.000,-
1 gelas air es : Rp. 1.000,-

Jadi totalnya Rp. 11.000,- Tapi itu tidak setiap pembelian menghabiskan uang segitu. Biasanya kami sering membawa gorengan sendiri yang kami beli dari angkringan atau burjo. Yang harganya tentu Rp. 1.000,- dapet dua. Untuk kerupuk juga sama.

Kalau di soto rempat. Kami baru 3x kali mampir itu pun sudah kecewa 5x datang tak pernah kebagian, lagi-lagi selalu habis. Yang membuatku penasaran itu rasanya. Pasti terbuat dari bahan-bahan rempat. Tempatnya berada di pinggir jalan, daerah kerapyak. Seperti ini tempatnya.


Foto diatas aku ambil ketika ada beberapa pelanggan yang sedang makan. Tapi itu belum seberapa, biasanya ketika ramai lebih banyak lagi yang datang, bahkan sampe susah lewat juga. Pertama kali mencoba makan kami tidak kaget dengan harganya. Karena sudah terpampang di dinding tempat makan soto rempah. Bisa dilihat dibawah ini, apakah harganya sama seperti di tempat teman-teman ?


Setelah pesan rasanya tidak sabar ingin cepat menyantap soto rempah. Uniknya soto ini disajikan tidak dalam mangkon seperti pada umumnya, melainkan dalam batok yang dibuat mangkok. Seperti ini jika sudah disajikan. Aku dan Maman tak beda jauh, dimana-mana minumnya air es. 


Tidak hanya orang tua, remaja dan para ibu-ibu juga banyak yang makan disini. Mungkin mereka tidak masak jadi bisa makan di luar..he Awalnya sempat penuh harus nunggu tempat duduk untuk makan. Di soto rempah ini tempenye tidak terbalut dengan terigu, namun rasanya sangat enak. Karena bumbu rempahnya terasa sekali.



Kedua kalinya mencoba kami merasakan beruntung karena masih sepi pembelinya. Apalagi Rabu pagi kemarin, kami lebih pagi lagi, malahan jadi pelanggan pertama. Ibunya terlihat teliti menyajikannya. Aku pertama nyooba langsung jatuh cinta sama rasanya. Sangat cocok untuk sarapan pagi sampai siang (anak kost) :D


Selain tempe, di tempat ini tersedia juga tahu bakso. Makanan yang sangat disukai oleh Maman. Rasanya juga cocok jika dipadukan dengan soto rempat ini.



Gimana, teman-teman sudah merasakan enaknya meskipun hanya melihat ? Jangan minta tanggung jawab ya, kalau kalian baca sampai laper, apalagi pengen..hehe


Itulah soto yang biasa aku makan setelah gowes pagi. Di tempat kalian apakah harganya sama atau berbeda. Kasih tahu di kolom komentar ya.