March 22, 2017

Jalan-Jalan di Solo


www.andinugraha.com - Semenjak nyaman tinggal di Yogyakarta, aku merasa ingin berkunjung atau sekedar jalan-jalan di kota yang jaraknya tidak jauh dari Yogyakarta. Misalnya Solo, Semarang ataupun yang lainnya. Semenjak ngekos aku punya sahabat, Sulis namanya. Dia yang biasa gowes bareng denganku. Dan kami punya rencana untuk main ke Solo.

March 17, 2017

Gowes Pagi, Sarapan Pagi


www.andinugraha.com - Bagiku Yogyakarta tempat yang sangat nyaman untuk bersepeda. Baik pagi ataupun sore. Dalam seminggu biasanya aku meluangkan waktu untuk gowes pagi, biasanya dua sampai tiga kali. Tapi tidak gowes yang jaraknya jauh-jauh. Cukup ke Tugu, Malioboro, Alun-alun ataupun menelusuri tempat-tempat pedesaan. Selain tempatnya asri, serasa di kampung halaman sendiri.

Baca juga : Gowes ke Pantai Ngunggah, Gunung Kidul

Pagi itu aku keliling di daerah Krapyak, entah kemana tujuannya. Karena aku juga tidak tahu, yang jelas aku menelusuri jalan terus. Dengan begitu jadi tahu tembusnya dimana dan kemana. Di daerah krapyak pagi itu rasanya adem, lingkungannya bersih dan masyarakatnya juga ramah-ramah.

Seperti biasa aku ditemani oleh sahabatku, Maman. Sebelumnya dia pernah ke jalan-jalan di Krapyak, makannya dia tahu beberapa tempat. Dia juga ngasih tahu kalau di daerah tersebut ada patung pahlawan gitu. Mendengarnya aku semakin penasaran. Sesampainya di temap, aku seperti biasa mengabadikan foto.


Kalau dilihat-lihat sih seperti patung perjuangan gitu. Tapi prosesnya belum selesai semua. Dibalik patung yang aku foto itu ada patung yang besar juga sedang proses pembuatan tapi belum jadi. Lingkungannya bersih, rasanya nyaman ada di daerah tersebut.







Setelah dari situ aku melanjutkan perjalanan untuk menelususi jalan yang ada di kampung itu. Dengan rencana setelah keluar, kami sarapan soto sebelum pulang. Dari gowes-gowes sebelumnya aku biasa sarapan soto setelah pulang. Ada dua opsi soto yang biasa aku makan. Yang pertama soto lamongan dan yang kedua soto rempah.

Dari kedua soto tersebut, kami seringnya makan soto lamongan. Pengen banget nyoba soto rempah sebenarnya, tapi sudah 5x kami belum kesampaian karena penuh dan kehabisan terus. Oke, sebelum ke soto rempah aku cerita soto lamongan terlebih dahulu.

Pertama makan soto lamongan, sepulang gowes dari Malioboro. Di papan soto lamongan tersebut tertulis harganya Rp. 6.000,- tapi setelah selesai makan dan bayar harganya tidak sesuai yakni Rp. 8.000,- Tapi kami berfikir positif aja lah, mungkin saja bapaknya lupa. Soto lamongan ini penyajian nasi dan sotonya terpisan, satu piring nasi, dan di mangkongnya soto. Seperti ini penampilanya.



Soto lamongan ini ada tambahan seperti kriuk gitu buat dicampur sama soto ataupun nasinya. Entah apa namanya tapi aku suka. Maman sendiri lebih suka makannya dicampur. Jadi terlihat penuh dan hampir tumpah gitu. Belum lagi ditambah gorengan.


Harga gorengan di soto lamongan Rp.1.000,- Untuk ukuran gorengannya terbilang kecil menurutku, harusnya Rp. 500,- tapi itu hak si penjual. Untuk di angkringan harga gorengan masih seperti biasa Rp. 500,- Untuk minum kami seringnya beli air es. Alasannya ngirit, sekalipun pengen yang manis-manis kami bawa dari rumah. Misalnya susu saset ataupun minuman berasa.

Baca juga : Menikmati Bakso Klenger Ratu Sari

Setiap makan soto lamongan kami menghabiskan, soto + air es + gorengan 2. Kalau dijumlah jadi segini.

1 porsi soto lamongan : Rp. 8.000,-
2 gorengan : Rp. 2.000,-
1 gelas air es : Rp. 1.000,-

Jadi totalnya Rp. 11.000,- Tapi itu tidak setiap pembelian menghabiskan uang segitu. Biasanya kami sering membawa gorengan sendiri yang kami beli dari angkringan atau burjo. Yang harganya tentu Rp. 1.000,- dapet dua. Untuk kerupuk juga sama.

Kalau di soto rempat. Kami baru 3x kali mampir itu pun sudah kecewa 5x datang tak pernah kebagian, lagi-lagi selalu habis. Yang membuatku penasaran itu rasanya. Pasti terbuat dari bahan-bahan rempat. Tempatnya berada di pinggir jalan, daerah kerapyak. Seperti ini tempatnya.


Foto diatas aku ambil ketika ada beberapa pelanggan yang sedang makan. Tapi itu belum seberapa, biasanya ketika ramai lebih banyak lagi yang datang, bahkan sampe susah lewat juga. Pertama kali mencoba makan kami tidak kaget dengan harganya. Karena sudah terpampang di dinding tempat makan soto rempah. Bisa dilihat dibawah ini, apakah harganya sama seperti di tempat teman-teman ?


Setelah pesan rasanya tidak sabar ingin cepat menyantap soto rempah. Uniknya soto ini disajikan tidak dalam mangkon seperti pada umumnya, melainkan dalam batok yang dibuat mangkok. Seperti ini jika sudah disajikan. Aku dan Maman tak beda jauh, dimana-mana minumnya air es. 


Tidak hanya orang tua, remaja dan para ibu-ibu juga banyak yang makan disini. Mungkin mereka tidak masak jadi bisa makan di luar..he Awalnya sempat penuh harus nunggu tempat duduk untuk makan. Di soto rempah ini tempenye tidak terbalut dengan terigu, namun rasanya sangat enak. Karena bumbu rempahnya terasa sekali.



Kedua kalinya mencoba kami merasakan beruntung karena masih sepi pembelinya. Apalagi Rabu pagi kemarin, kami lebih pagi lagi, malahan jadi pelanggan pertama. Ibunya terlihat teliti menyajikannya. Aku pertama nyooba langsung jatuh cinta sama rasanya. Sangat cocok untuk sarapan pagi sampai siang (anak kost) :D


Selain tempe, di tempat ini tersedia juga tahu bakso. Makanan yang sangat disukai oleh Maman. Rasanya juga cocok jika dipadukan dengan soto rempat ini.



Gimana, teman-teman sudah merasakan enaknya meskipun hanya melihat ? Jangan minta tanggung jawab ya, kalau kalian baca sampai laper, apalagi pengen..hehe


Itulah soto yang biasa aku makan setelah gowes pagi. Di tempat kalian apakah harganya sama atau berbeda. Kasih tahu di kolom komentar ya.

March 4, 2017

Menikmati Pagi di Puncak Becici


www.andinugraha.com - Apa kabar teman-teman blogger. Aku baru bisa posting lagi di blog ini setelah beberapa hari sakit. Alhamdulilah sekarang sudah baikan. Semoga teman-teman sehat selalu, bisa berbagi dan menginspirasi terus lewat blog. Karena sudah sehat, aku mengawali udara pagi diluar. Tepatnya di puncak becici.

February 14, 2017

Berkunjung Ke Grhatama Pustaka, Perpustakaan Terbesar SeAsia Tenggara


www.andinugraha.com - Sebagai seorang blogger, membaca merupakan salah satu kegiatan yang harus dilakukan. Selain menambah wawasan, membaca juga bisa memperbaiki tulisan. Tempat yang nyaman, membuat tenang untuk baca.


February 4, 2017

Ngabuburit di Candi Sambisari


www.andinugraha.com - Menikmati pemandangan di Yogyakarta memang tidak ada habisnya. Setiap tahun ada saja hal yang baru untuk dijadikan tempat wisata. Kamis sore itu aku pergi ke rumah bapak Akhmad Muhaimin Azzet. Biasa aku memanggilnya pak Akhmad. Selain penulis, beliau juga blogger. Jika sahabat sering baca blognya pasti tahu. Kalau penasaran buka saja Kedai JO Istimewa.

Pak Akhmad sendiri lahir di Jombang, Jawa Timur. Sekarang tinggal di Yogyakarta. Bersyukur bisa kenal beliau. Bisa banyak belajar, selain ilmu agama juga tentang kepenulisan. Aku berteman sudah 2 tahun yang lalu, tapi hanya lewat facebook.


Pertama kalinya bertemu di kost. Di mana tempat tinggalku selama merantau. Waktu itu pak Akhmad sedang mengantarkan pesanan wedang jahe ke daerah dekat tempat tinggalku. Kebetulan mampir ke kost. Beliau tahu sedikit daerah tempat tinggalku ketika membaca postingan di blogku tentang sate qur'ban. Jika sahabat ingin baca, disini : Semarak Qur'ban, Sate dan Tongseng Jadi Menu Andalan Anak Kost

Dengan baiknya ketika mampir ke kost, aku dibawakan wedang jahe yang beliau jual. Rasanya enak, mau diminum hangat ataupun dingin tetap cocok. Sirup wedang jahe ini merupakan salah satu oleh-oleh khas dari Yogyakarta. Jika sahabat ingin tahu atau membelinya silahkan baca Sirup Wedang Jahe Khas Jogja

Baca juga : Menikmati Keindahan Candi Prambanan

Selain main, kami juga sempat makan soto kemudian jalan-jalan ke toko sepeda. Kami hanya lihat-lihat dan ingin tahu ada sepeda apa saja. Mulai dari yang harganya murah hingga juataan ada di pasar sepeda itu.

Sudah lama aku ingin sekali bersilaturahmi ke rumahnya. Tapi karena kendala kendaraan, jadi belum bisa kapan saja aku mau. Selasa siang aku mengirim pesan singkat kepada beliau melalui inbox facebook.

Andi : Pak, bulan ini ada waktu? Saya ada rencana main ke rumah bapak, tapi belum tahu kapan, baru rencana.
Pak Akhmad : Insya Allah ada Mas. Yang penting ngabari dulu beberapa hari sebelumnya. Nanti sekalian kita ke candi sambisari ato tempat lain yg kira2 bisa Mas Andi tulis di blog, hehe...
Andi : Kalau hari Kamis gimana? Bapak bisanya jam berapa ?
Pak Akhmad : Sipp, Mas
Kalo Kamis bagaimana kalo sore, Mas, ba'da ashar gitu, nanti sekalian buka puasa di burjo madura yang dulu pernah sy tulis, hehe..

Kamis ba'da Ashar aku pergi ke rumah beliau, sesampainya disana aku sudah ditunggu dekat pintu masuk ke Candi Sambisari. Aku diajak keliling dan menikmati keindahan candi. Untuk tiket masuk ke candi Sambisari ini cukup terjangkau, terutama untuk para mahasiswa. Sahabat cukup membayar biaya Rp. 5.000,- (lima ribu rupiah) per orang.


Untuk parkir motor ada disebelah tempat masuk ke candi. Karena sore itu pukul 17.00, jadi tidak usah bayar tiket masuk. Para penjaga loket juga sudah pulang. Jadi aku masih bisa menikmati pemandangan. Sebelum lanjut cerita, aku kasih tahu sedikit tentang sejarah candi Sambisari. Jadi sahabat pembaca jadi tahu.

Seperti yang kita ketahui, selama ini kebanyakan sisa peninggalan sejarah berupa candi terletak di tanah yang tinggi dibandingkan dengan daerah sekitarnya. Bahkan candi-candi tersebut memang dibangun di ketinggian atau di lereng bukit seperti kompleks Candi Arjuna di Dieng dan candi-candi lainnya.
Tapi di Yogyakarta ada sebuah candi yang lokasinya cukup unik, yaitu Candi Sambisari. Sahabat mungkin ada yang belum pernah mendengar candi ini. Candi ini terletak di Dusun Sambisari, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman, DIY. Jarak dari Kota Yogyakarta hanya sekitar 12 km arah timur, atau kira-kira 4 km sebelum Kompleks Candi Prambanan. 
Uniknya Candi Sambisari terletak kira-kira 6,5 meter lebih rendah dari permukaan tanah. Peninggalan sejarah ini dibangun sekitar abad ke-9 pada masa pemerintahan Raja Rakai Garung, candi hindu ini sempat terkubur material vulkanik Merapi. Kemudian pada tahun 1996 ada seorang petani Dusun Sambisari yang tanpa sengaja menemukan candi yang telah terkubur berabad-abad ini.
Setelah dilakukan proses evakuasi, Candi Sambisari pun kembali menampilkan sosoknya yang anggun dan megah. Candi Sambisari terdiri dari kompleks candi induk dan 3 candi pewara atau candi pendamping dengan dikelilingi pagar batu 2 lapis.
Untuk masuk ke area candi terdapat 4 pintu masuk. Rumput disekitar candi pun membuat keindahan candi lebih mempesona. Selain bisa dinikmati dari pelataran, keindahan candi ini bisa dilihat dari ketinggian. Jika sahabat merasa puas menikmati keindahan Candi Sambisari, bisa mampir ke museum mini untuk mengetahui rangkaian sejarah candi.

Pertama kalinya masuk kawasan Candi Sambisari aku senang melihatnya, selain pemandangannya yang indah, terlihat ada beberapa orang yang sedang syuting. Sebelum melihatnya dari dekat, aku keliling di sekitar candi terlebih dahulu.


Terlihat dari jauh Candi Sambisari seolah dilindungi oleh benteng-benteng yang ada di sekitarnya. Rumputnya sepertinya terjaga, terlihat rapih dan bagus. Pohon-pohon dan bunga di sekitar candi pun indah. Tempatnya lebih terjaga, tak terlihat sampah berserakan.


Dilihat-lihat seperti kasur ya, terlihat nyaman dan empuk. Salut sekali dengan para pengelola Candi Sambisari. Terlihat bersih dan membuat para wisatawan yang datang betah. Di candi ini hampir semua orang membawa camera ataupun handphone untuk mengabadikan foto.


Karena pesaran dengan yang sedang syuting, aku dan pak Akhmad mendekat turun kebawah. Sepertinya ramai dan terlihat ada beberapa perempuan yang sedang menari.


Para penari membawa tempat semacam untuk minta saweran. Sutradara dan crew yang lainnya mengarahkan para penonton yang sedang di dekat penari. Nanti ketika penari menyodorkan tempat atau wadahnya, para penonton diharuskan memberikan uang untuk dimasukan ke tempat yang dibawa penari.


Awalnya kupikir uang itu dari para penonton sendiri, ternyata sudah di sediakan. Setelah beberapa tarian para penari istirahat, kemudian dilanjutkan di sudut candi yang berbeda. Karena kami penasaran kami pun melihat banner yang ada di dekat para penari.


Setelah melihat dari dekat, ternyata tari ini merupakan penggalangan dana untu keberangkatan penari indonesia ke festival tari dunia yang lokasinya di Candi Sambisari.


Aku dan pak Akhmad sempat membacanya dari dekat karena tak terlihat tulisannya. Tak sadar ketika melihat dari jarak yang cukup dekat. Kami di tegur oleh salah satu crew yang sedang memegang camera.

Di daerah candi semakin sore masih tetap ramai para pengunjung yang datang. Apalagi ada yang suting, selain ramai yang melihat ada beberapa nung menunggu khusus untuk berfoto bareng.


Setelah puas, kami kembali ke atas untuk melihat bagian sudut daerah candi. Katanya candi ini meskipun hujan tidak akan banjir, karena sudah dirancang sedemikian rupa. Selain itu ada juga tempat makan di sekitar candi, tapi waktu itu tutup karena sudah sore. Tapi tempatnya sangat cocok, selain bisa menikmati makanan sekaligus menikmati keindahan candi.



Sebelum pergi dari daerah candi, kami menyempatkan berfoto terlebih dahulu. Aku sengaja selalu bawa buku. Selain bisa untuk dibaca saat istirahat bisa juga ya buat di pegang saat difoto.hehe


Kemudian kami melanjutkan untuk masuk ke museum candi untuk melihat sejarah dan foto-foto zaman dulu.







Setelah itu, aku baru diajak ke rumah pak Akhmad. Tak lama dirumah, kami langsung pergi ke masjid karena waktu Maghrib sudah datang. Setelah itu aku diajak pergi ke es burjo Madura. Sebelumnya aku sering makan burjo, tapi kali berbeda. Coba sahabat lihat, pasti pengen.


Di Jogja sendiri banyak yang jualan burjo seperti ini. Meskipun pada warung makan pun banyak. Tapi burjo ini asli dari Madura. Tempatnya seperti angkringan, bisa dibungkus dan bisa juga di makan ditempat.


Harganya terjangkau, hanya Rp.5.000,- (lima ribu rupiah) sudah bisa menikmati burjo Madura ini. Ketika burjo disajikan tepat di depanku, aku kaget. Karena bentuknya berbeda dengan burjo pada umumnya.


Melihatnya saja seger, apalagi makan langsung. Selain ditambah susu dan roti, burjo ini juga ditambah dengan parutan es yang membuatnya segar. Jika sahabat ingin tahu detailnya tentang es burjo ini. Silahkan baca tulisan pak Akhmad yang berjudul Es Burjo Madura Cak Efendi yang Enak dan Seger

Baca juga : Suka Duka Bermalam Di Hutan Pinus Yogyakarta

Ketika di Candi Sambisari aku juga sempet mengadikan momen dengan video. Bisa sahabat lihat dibawah ini :


Demikian ya, semoga ceritaku ini bisa bermanfaat bagi sahabat yang ingin pergi ke Candi Sambisari sekaligus menikmati es burjo Madura.